Mata dan telinga

26 Jul 2017 | Kabar Baik

Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.
(Matius 13:16)

Hari minggu kemarin, aku diminta mengisi sesi bertajuk ‘Jodoh, di tangan Tuhan atau di tangan manusia?’ di depan empat belas pemuda dan pemudi Katolik Indonesia yang tinggal di Sydney. Kebanyakan mereka baru lahir saat aku sudah duduk di bangku SMA, tapi meski demikian, dalam pembukaan, aku membuat pernyataan jujur demikian,

“Saya berdiri di sini bukan karena saya lebih suci dan lebih ngerti dari kalian. Saya berdiri karena saya udah nikah dan kenapa saya udah nikah karena jauh lebih tua dari kalian, barangkali itu yang membuat Ketua Dewan menunjuk saya untuk berdiri di sini saat ini. Jadi, apa yang saya sampaikan ini sepenuhnya adalah pendapat, bukan sesuatu yang harus kalian telan mentah-mentah karena siapa tahu sebenarnya kalian justru sudah lebih tahu dari saya?”

Aku tak sedang merendahkan diri untuk meninggikan mutu atau yang biasa disebut sebagai false humility. Aku berkata demikian karena memang seperti itulah adanya seperti dibilang Tuhan hari ini.

Yesus menyatakan bahwa tak semua orang benar dan nabi melihat dan mendengarNya melainkan mereka yang memiliki mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar.

Artinya, orang tua yang bahkan tampak amat relijius pun, kalau mata dan telinga mereka tak dipakai untuk melihat dan mendengar dan terlebih kalau Tuhan tak menghendaki mereka untuk bisa melihat dan mendengarNya ya tidak akan bisa melihat dan mendengarnya.

Jadi, jangan rendah diri karena kamu pendosa (meski jangan pula bangga dengan dosamu) karena Tuhan bicara lewatmu!

Jangan bangga jadi orang sok suci dan sok benar karena jangan-jangan kebenaran yang hakiki tak disampaikanNya kepadamu?

Jangan bangga jadi orang tua karena belum tentu kamu lebih tahu dari yang muda!

Jangan minder kalau dirimu muda! Hijau bukan berarti ingusan. Hijau justru adalah tanda bahwa kamu siap diisi bulir-bulir padi nan bernas.

Intinya, kamu diberi mata dan telinga, gunakanlah untuk melihat dan mendengar kemuliaan Tuhan.

Donny, bagaimana dengan mereka yang tak dianugerahi penglihatan dan pendengaran?

Aha… benar juga, bagaimana ya? Apakah mereka tidak bisa merasakan kemuliaan Allah? Tentu tidak demikian! Kita tahu bahwa Tuhan pasti tak kehilangan dan kehabisan akal untuk membuat kemuliaanNya tersampaikan oleh siapapun termasuk mereka yang tak memiliki penglihatan dan pendengaran sekalipun!

Sydney, 26 Juli 2017
di Hari Peringatan wajib St Yohakim dan St Anna

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.