Masker wajah: dilipat, digantung atau digimanain?

19 Jan 2021 | Cetusan

Pandemik COVID-19 membuat wajah dunia ‘bermasker.’ Nggak seluruhnya tapi banyak negara menyarankan bahkan mewajibkan warganya untuk mengenakan masker wajah guna memperlambat laju penularan virus COVID-19. Persoalan pengguna dalam konteks kenyamanan mengenakan masker pun muncul. Nggak cuma karena bikin kacamata berembun tapi juga pertanyaan, ketika sedang tidak dikenakan, sebaiknya masker digimanain?

masker wajah

Tapi tunggu, sebelum membaca lebih lanjut, aku hanya ingin mengabarkan sebuah berita mengejutkan. Tahukah kamu, pada permukaan masker yang dipakai, tersaring begitu banyak bakteri (germ) baik yang tersaring dari sekitar dan mengenai permukaan luar masker maupun yang kita keluarkan lewat nafas yang mengenai permukaan dalamnya?

Coba simak video di bawah ini, dari penelitian laboratorium, bahkan ada masker yang mengandung 680 juta bakteri!

Geli, kan? Ok lanjut ya!

Masker wajah digantung di dagu!

Ketika sedang makan atau sedang engap, masker diturunkan hingga ke dagu.

Bagi yang berdagu panjang atau berewokan tentu akan kerepotan karena tali masker dianggap kependekan.

Masker wajah digantung di leher!

Bagi sebagian orang, masker ketika tidak dipakai secara mengejutkan… digantung di leher!  Jadi tali masker dikaitkan dengan tali yang lainnya yang digantung di leher.

Bagiku ini aneh, masker kok digantung di leher? 

Aku tak bisa membayangkan kalau harus berhadapan dengan orang yang menggantung masker di leher. Kenapa? Kalau sampai tertangkap sisi dalamnya oleh mataku, aku bisa geli sendiri karena membayangkan bau abab (uap air) nafas orang tadi pasti menempel sisi dalam masker itu. Hoekkk!!

Eh, tapi diluar ketidaksetujuanku, kalau kalian mau beli, ada baiknya membeli tali gantungan masker jenis ini di lapak milik adikku semata wayang, Chitra Verdiana di instagramnya di sini. (Sorry Chit, aku bukan kakak yang baik ya! Memasarkan produkmu tapi nggak setuju untuk mengenakannya hahaha…)

Ditaruh di siku!

Aku melihat ada seorang kawan kerjaku yang menaruh masker di siku. Jadi bentuknya seperti pelindung sikut untuk olahraga sepatu roda dan skateboard

Ringkas, tidak mengganggu gerak meski kalau menurutku tetap aja geli membayangkan sikutnya terkena bagian dalam masker. Padahal, di era pandemik, jabat sikut (sikut disenggolin ke sikut orang lain) adalah pengganti jabat tangan. Duh gimana kalau harus adu sikut dengan orang yang gantungin maskernya di situ ya? Kena COVID kagak, kena jigong iya! Yurkk!!!

Atau… dimasukin ke saku

Ketika masker tak dipakai, masukin saku. Ini yang kulakukan setiap saat. Meski akhir-akhir ini aku jadi sering mempertanyakan sendiri kenapa aku masukin saku ya? Seandainya ada virus COVID yang bersarang di sisi luar masker lalu masker itu kumasukkan ke dalam saku, apakah tidak mungkin bagi virus itu bisa numpang hidup sekian singkat waktu di dalam kantong saku? Lalu kalau kesenggol jari lalu jariku masuk mulut? Duh!

Tapi yang terbaik… dibuang!

Menurutku ini yang paling baik. Masker gak dipake? Dibuang! Meski sebaiknya juga jangan dibuang sembarangan demi lingkungan. Konon, setelah botol dan sedotan plastik, masker sekali pakai adalah ancaman sampah selanjutnya…

Serba salah, kan?

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Ada masker yang bisa dicuci, mas Donn. Mungkin bisa jadi salah satu alternatif : Saat masker gak dipakai, dicuci!. :D

    Balas
    • Hehehe, jadi kalau lagi di rumah makan, hendak makan lalu masker dicuci, Mas? Kan enggak juga. Nah, tulisan ini membahas bagaimana kita memperlakukan masker saat-saat seperti itu sih :)

      Makasih kunjungannya ya…

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.