Masih relevankah ajaran untuk tak bercerai dalam ?pernikahan Katolik??

25 Mei 2018 | Kabar Baik

Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. (Markus 10:9)

Barangkali kalau disuruh membuat catatan sepuluh ayat paling diingat dalam hidup kita sebagai orang Katolik, ayat di atas adalah salah satu yang masuk di dalamnya.

Saat penerimaan sakramen pernikahan, setelah Imam berkata, ?Apa yang telah dipersatukan Allah? lalu kita menjawab kuat-kuat, ?Tidak boleh diceraikan manusia.”

Saat ada perceraian selebritis yang ditayangkan di acara-acara gosip di televisi, kita sok bangga dengan bilang ?Tuh, kan?! Lebih baik menikah di Katolik! Kita kan nggak boleh cerai karena apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia!? Padahal kamu tak tahu yang bercerai juga artis yang di KTP-nya tertera ?Agama: Katolik?.

Beberapa hari yang lalu seorang kawan bercerita kepadaku tentang kisah pilu yang menimpa keluarga kawanku yang lain.

Kawan yang diceritakan itu adalah Budi. Budi telah menikah secara Katolik berpuluh tahun lamanya dengan Wati dan mereka berkawan dengan Tini. Ketiganya adalah nama samaran. Beberapa bulan lalu, Wati dikagetkan dengan pengakuan Budi yang begitu jujur tapi menyakitkan, ia menghamili Tini.

Si Budi mengajukan proposal perceraian yang lantas ditolak Wati dengan alasan sederhana seperti yang ditulis di atas, ?Apa yang dipersatukan Allah tak boleh diceraikan manusia!?

Menurut kalian, adakah pendapat Wati itu wajar?

Jangan nilai dari benar-salahnya saja karena kalau dari sisi itu aku dengan cepat dan sigap juga bisa berkata bahwa apa yang dikatakan Wati itu benar! Tapi, sekali lagi, wajarkah?

?Bukankah Wati juga berhak bahagia, Mas?? tanya kawanku yang mengabari tadi. Aku terdiam. Apa arti kebahagiaan ketika hidup telah sampai di persimpangan yang menyakitkan seperti itu?

Aku tak tahu apa yang ada di benak Wati tapi berusaha mengerti dari perkiraanku dan tentang hal yang sudah lama kupikirkan tentang makna pernikahan itu sendiri.

Pernikahan, bagi Wati, adalah memanggul salib ke Golgota. Saat menerima Sakramen Pernikahan, anggap saja kita memulai pemanggulan salib itu dari Gerbang Yerusalem.

Memaknai pernikahan sebagai pemanggulan salib berarti menjadikan Yesus yang memanggul salib ke Golgota sebagai teladan ?sependeritaan? dan di sinilah kuncinya!

Kenapa? Karena di dalam Dia, Anak Allah yang memanggul salib, kebahagiaan memiliki definisi yang berbeda dari kebahagiaan yang ditawarkan dunia!

Dunia mendefinisikan kebahagiaan sebagai hal-hal yang barangkali mirip dengan yang dipertontonkan pada sinetron-sinetron yang berjilid-jilid banyaknya itu!

Rumah mewah, mobil terbaru. Istri yang bahkan saat tidur pun cantik. Suami yang gagah, ganteng dan berhasil dalam karier dan usaha. Anak-anak yang alim dan selalu menurut.

Kebahagiaan versi Yesus dan semoga juga jadi versi kita adalah saat Ia menjalankan kehendak-kehendak BapaNya termasuk memanggul salib ke Golgota bagaimanapun rasa penderitaan yang dialamiNya! Maka demikianlah kita memandang pernikahan! Kebahagiaan adalah saat kita mempertahankannya hingga paripurna karena persatuan pernikahan itu juga kehendakNya.

Di akhir percakapan dengan kawan yang mengabariku perihal Budi, Wati dan Tini tadi aku membalas, ?Mas, bagiku Wati justru sedang berbahagia saat ia ngotot untuk tak mau diceraikan??

Barangkali kalian tak setuju denganku.Barangkali kalian menganggap ini terlalu idealis. Tak mengapa, kebenaran tak perlu persetujuan, kebenaran juga tak perlu pragmatis!

Untuk A, L dan N

Sydney, 25 Mei 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.