Masih perlu dan pentingkah kita pergi ke Gereja?

6 Nov 2018 | Kabar Baik

Aku cukup kaget ketika seorang mengirim pesan kepadaku, ?Mas DV, masih pentingkah kita untuk pergi ke Gereja mengikuti perayaan ekaristi mingguan??

Jawaban singkatku, ?Penting! Kenapa kamu bertanya begitu??

?Hmmm, karena kalau aku nilai ada lebih banyak hal yang bisa dilakukan untuk kebaikan daripada sekadar datang ke Gereja!?

Terlepas dari apapun tanggapan kalian, bagiku mengikuti perayaan ekaristi mingguan itu penting sekali sebagai umat Tuhan. Merenungi pentingnya perayaan ekaristi ini ada baiknya menggunakan Kabar Baik yang ditulis Lukas hari ini.

Yesus mengumpamakan undangan perjamuan Tuhan sebagai seorang tuan yang mengundang orang-orang untuk hadir dalam jamuan di rumahnya.

Namun sayang, banyak dari yang telah diundang menyatakan ketidaksanggupannya karena banyak hal, harus melihat ladang, baru saja kawin hingga karena merasa penting untuk melihat lima pasang lembu yang baru saja dibeli. (lih. Lukas 14:18-20)

Perayaan ekaristi adalah perjamuan Tuhan itu sendiri. Ia menempati puncak dari seluruh hidup kristiani (KGK 1324). Di dalamnya kita sudah menyatukan diri dengan liturgi surgawi dan mengeyam lebih dulu kehidupan abadi dimana Allah akan menjadi semua untuk semua (KGK 1326).

Tapi dalam kenyataan, mungkin apa yang dikatakan seseorang di atas tadi mewakili cukup banyak pemikiran kita. Aku sendiri pernah dan sering ada di posisi dimana aku sedang mengerjakan hal yang positif dan baik bagi sesama dan aku tak sempat ke Gereja untuk ikut perayaan ekaristi.

Adakah tindakanku itu benar?

Bagiku, tindakanku itu tidak bisa dibenarkan. Yang benar menurutku adalah kalau kita mengerjakan keduanya, kegiatan positif dan ikut perayaan ekaristi di Gereja.

Jadi misalkan suatu hari minggu kita terlibat dalam acara amal, kita harus pandai mengatur waktu untuk ke Gereja misalnya berangkat sehari sebelumnya pada Sabtu malam atau kalau memang terpaksa benar, luangkan waktu untuk pergi di perayaan ekaristi harian di keesokan harinya.

Pernah juga seorang lain bertanya kepadaku. Ia memutuskan untuk tak lagi ke Gereja karena meski awalnya begitu rajin, akhir-akhirannya ia merasa tak menemukan alasan lain untuk pergi ke perayaan ekaristi selain karena alasan kewajiban saja!

Pergi ke gereja rasanya hanya tubuhnya saja yang pergi tapi jiwanya tidak. Jiwanya terperangkap dalam lamunan, mencari lawan jenis yang sesama umat atau? malah bermain henpon, ngecheck social media atau main game.

?Buat apa ke Gereja dan ikut perayaan ekaristi kalau hati kita tidak di sana?? begitu serunya.

Lalu bagaimana baiknya?

Aku pernah juga dan sering merasakan hal yang sama, ke gereja hanya sebatas kewajiban. Tapi, setidaknya hingga saat ini, yang tetap kuusahakan adalah memaksa diri untuk tetap datang ke perayaan ekaristi.

Kalau aku malah lebih asik main henpon selama perayaan, pada perayaan berikutnya aku menantang diriku untuk tak membawa henpon atau setidaknya mematikannya.

Kalau pada perayaan kamu lebih tertarik memperhatikan cewek-cewek yang ada di sekelilingmu, tantang dirimu untuk duduk di deret kursi paling depan sehingga kamu tak mudah untuk dikit-dikit menoleh-noleh ke belakang.

Begitu seterusnya. Hidup dan segala usaha untuk kebaikan adalah hal yang harus terus-menerus dicoba untuk disempurnakan bukannya dihentikan begitu saja.

Eh, DV?

ngemeng-emeng, kamu kok tahu kalau cewek-cewek cantik biasanya tak duduk di bangku depan gereja? Hayo! Jangan-jangan??

Dulu?. duluuuu? hahahaha?

Sydney, 6 November 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.