Masa kalah sama matahari?

28 Feb 2018 | Kabar Baik

Yohanes, Yakobus dan ibunya yang juga adalah istri Zebedues mendatangi Yesus. Matius mencatat ketiganya bertanya adakah jalan supaya Yohanes dan Yakobus kelak duduk di sisi kiri dan kananNya di surga? (Matius 20:21).

Dengan ringan Yesus menjawab bahwa keputusan untuk mendudukkan siapa yang di posisi mana bukanlah hakNya melainkan Bapa. (Matius 20:23)

Iman kita bukanlah iman pamrih nan transaksional bahwa kita melakukan kebaikan supaya mendapatkan balasan.

Jika kita amati perilaku beberapa oknum di zaman now dalam rangka meraih harta dan jabatan, kadang memuakkan, tak jarang? menggelikan.

Orang yang semula berpakaian terbuka dan tak pernah tampak beribadah, ketika mencalonkan diri sebagai pejabat buru-buru mengubah image, berpakaian tertutup. Saat acara-acara keagamaan, para wartawan pun dihadirkan supaya mereka meliput dan kesan yang timbul pada masyarakat adalah calon pemimpinnya sosok yang alim nan suci. Semua demi syahwat jabatan yang memang menjanjikan nikmatnya.?Hingga ketika akhirnya jabatan diraih, aksi ?sok alim? tak berhenti di situ. Ia menggunakan ?kealimannya? itu untuk menjustifikasi atau membenarkan raihan kemenangannya tadi.

Ibadah adalah antara kita dengan Tuhan yang dalam beberapa segmen melibatkan manusia lain di dalamnya. Janganlah hal itu dibalik seolah menjadi ibadah itu tujuannya untuk sesama lalu supaya diterima kita berpura-pura ?be-rTuhan?.

Marilah di masa pra-paskah ini, kita me-reset ulang pola pikir yang carut-marut itu. Kita beribadah, mendekatkan diri pada Tuhan dan berbuat baik kepada sesama bukan karena kita pamrih dan bernafsu untuk mendapatkan posisi serta jabatan tapi untuk menyenangkan hati Bapa.

Menjaga ketulusan adalah kuncinya dengan tidak mengukur diri tentang apa yang sudah dilakukan dan dilayankan tapi justru melihat dari sisi, ?apalagi yang perlu dan belum dikerjakan???Tak perlu khawatir dengan apa yang nanti kita dapatkan dari Bapa! Apa ya masih kurang percaya kepadaNya? Jangan seperti orang-orang yang tak mengenal cintaNya lah!

Jangan mau kalah sama matahari. Ia mau menyinari setiap hari tanpa pernah berharap kembali?

Yuk panggul salib lagi?

Sydney, 28 Februari 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.