Mas Don

30 Jan 2014 | Cetusan

Ada sekitar delapan warung kopi (coffee shop) tersebar di kompleks kantor tempatku bekerja.

What? Delapan?! Banyak sekali!!!
Kantorku adalah kantor pusat salah satu perusahaan IT/telco terbesar di Australia, memiliki tujuh gedung bertingkat (tower) yang berada di satu kawasan lembah dan memiliki kultur ‘ngopi’ yang kuat sekali di antara para pekerjanya.

Tapi aku tak hendak ngomongin soal pekerjaanku, aku ingin bercerita tentang salah satu coffee shop yang kerap kudatangi kalau kopi bubuk Indonesia yang kubawa dari rumah dan kuseduh tiap pagi habis persediaannya atau kalau tiba-tiba ada meeting yang kebanyakan memang diadakan di coffee shop-coffee shop tersebut.

Coffee shop yang kerap kudatangi itu berpegawai sekitar delapan orang dan nyaris separuhnya adalah orang Indonesia.

Waktu belum kenal, mereka menyapa dengan sapaan standar, “Hi, Mate” atau “Hi, Buddy” atau ada juga yang manggil dengan english mlipis, “Good Morning, Sir” meski dari cara mereka mengucapkan kata-kata (spelling) dan logat (accent), kentara sekali mereka berasal dari Indonesia.

Tapi setelah mereka tahu akupun berasal dari Indonesia terlebih dari Jawa dan memang tampak sekali kejawaanku baik itu dari paras, warna kulit dan juga aksen english dan bahasa Indonesiaku, mereka memanggilku dengan sebutan ‘Mas Don.?

Jadi, tiap aku mampir ke sana, mereka selalu menyapa, “Pagi, Mas Don!“, “Apakabar Mas Don!” dan sapaan itu menular ke kawan-kawan lainnya yang bukan berasal dari Indonesia. Mereka tak segan memanggilku, Mas Don! tentu dengan aksen yang aneh dan terdengar seperti ?Mez Dhon!?

Menyenangkan?
Sangat!

Bayangkan! Di Indonesia sendiri aku sangat jarang dipanggil Mas kecuali oleh adikku sendiri. Selalu “Koko Donny” atau “Ko Don” karena dianggapnya aku ini ?warga keturunan? karena kulitku yang menurut mereka lebih putih dan mataku yang sipit ketimbang rekan-rekan sesama ras Jawa lainnya.

Apalagi di sini, di tanah rantau yang konon akrab dengan pola hidup individu yang tak perlu ba-bi-bu dan biasa langsung ‘panggil nama’ tanpa kata sandang, “Mas, Om, Pakdhe, Paklik” atau apapun lainnya, mendapat panggilan “Mas Don” itu adalah sesuatu yang sangat berharga.

Ah aku jadi berpikir, andai aku tak tinggal di Australia melainkan di Jakarta, apakah aku juga akan sebahagia ini dipanggil ?Mas Don???Mungkinkah aku akan berpikir sebaliknya, menganggap panggilan ?Mas? adalah panggilan kasar? karena sebagian besar orang menganggap hal itu adalah stereotipikal panggilan kaum pekerja ?kelas rendahan? (dan biasanya datang dari pelosok Jawa)?

Entahlah tapi yang pasti suratan takdir menghendaki aku ada di sini dan aku bahagia meski itu hanya dengan dipanggil ?Mas Don?.

Jadi, kalau kalian ingin menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain tanpa harus melakukan banyak hal, panggilan aku ?Mas Don? dan aku akan amat bahagia oleh karenanya.

Sebarluaskan!

18 Komentar

  1. Om Don! (Asal jangan OM DO ya hehehe) Ogah ah aku panggil kamu Mas… Lebih enak DON saja, toh bukan Don Juan ini hehehe.

    Karena aku bukan berasal dari ras Jawa, lahir di Jakarta, aku merasa aneh jika ada yang memanggilku Mbak! Sedangkan di SMA ku (Tarki) tidak ada yang berani memanggil kakak kelas dengan Mbak, kecuali benar-benar angkatannya jauuuh di atas hehehe. Kami terbiasa memanggil nama saja, di rumah, di lingkungan gereja, sekolah. Adik-adikku pun memanggil “Mel” sejak kecil. Di kuliah aku dipanggil “Imel”, di Jepang aku dipanggil Ime-chan atau sensei, di online aku dipanggil Emiko (handle nameku selain ikkyusan). Tentu saja bagi orang-orang tertentu ada yang menyebutku dengan panggilan buatannya (Imme, Meisje, EM, lieverd dsb)

    Jadi jika ada teman (nyata maupun maya) yang memanggilku, “Mel…” benar-benar menyentuh hatiku, dan mengingatkanku ini adalah sahabatku, teman besarku.. dan sangat akrab (tanpa mempedulikan usia).

    Gitu deh Don! ;)

    Balas
    • Hahaha, berkawan denganmu pada mulanya aku bingung mau panggil apa.
      Inget kan, kejadian itu sekitar lima setengah tahun silam. Mau panggil Mbak, aku ragu karena apakah aku juga akan tetap memanggilmu ‘Mbak’ ketika aku sedang ngomongin kamu dengan orang lain.

      Biasa kan ada orang yang di depan panggil ‘Mbak’ tapi pas di belakang dan ngomongin ke orang lain dia bilang, “Itu tuh si Imel begini begini..” :)

      Jadi mending panggil Imel saja karena selain menurutku lebih egaliter, itu juga panggilan yang paling akrab karena menyentuh tanpa embel-embel predikat :)

      Balas
    • Jadi, aku boleh ikutan manggil “Mel…” saja Mbak EM, eh… Mel? :))

      Balas
      • Nah gitu dong, lebih egaliter hehehe. Bener nggak, Mel? :)

        Balas
  2. Pagi Mas Don!
    udah ngopi pagi ini? :)

    Balas
    • Udah dong, tiga kali! ;)

      Balas
  3. pantes kamu begitu berseri2 kalo dipanggil sama om oka..
    hahahahahahahaha..!!!

    Balas
    • Itu mah exception :))) hahahaha

      Balas
    • Nih juga Mas Prof :)

      Balas
  4. “… menganggap panggilan ?Mas? adalah panggilan kasar? karena sebagian besar orang menganggap hal itu adalah stereotipikal panggilan kaum pekerja ?kelas rendahan? (dan biasanya datang dari pelosok Jawa)?”

    Semula aku ngga percaya dengan stereotipikal itu, hingga akhirnya aku jumpa dengan orang yang punya stereotipikal seperti itu. Anehnya, lha wong di kota tempat dia berasal itu sapaan mas/mbak adalah hal yang lumrah tapi kenapa di Jakarta seolah jadi punya pangkat dan kasta. Lalu ada juga seorang penjaga toko/outlet belanja ketika dipanggil “mbak/mas” ndak mau noleh, setelah dipanggil “kak” baru mau melayani. Itu dialami sendiri teman yang sama-sama dari Jogja. Nek aku wis tak tinggal lungo, duwe kuping diundang ra mengo :D

    Selama ini aku sendiri selalu menggunakan “mas/mbak” ke rekan kerja yang lebih tua atau ke orang yang baru aku jumpai pertama kali bahkan ke penjaga toko juga tetap pakai “mas/mbak”. Hmmm… aku kadang masih mikir, salah “mas/mbak” itu di mana ya….? Kok bisa mereka berpikir seperti itu ya…? Wedyannnn…..

    Kui neng coffee shop nek ono sing ngerti boso walikan njuk nganggo “dab” paling ya…. :D

    Balas
    • Wah, iki wangun iki komentarku. Melengkapi tulisanku dengan menghadirkan contoh stereotipikal yang memang benar-benar ada ya :)

      Balas
  5. Mung arep nambahi komentar

    Hmmmm….telco company. Sangarrrrr :D Isih dadi impianku….hahaha.

    Balas
  6. Huh… aku diwanti-wanti “nanti klk ketemuan jgn panggil mas ya” *lipet tangan. Mutung

    Balas
    • Wah, kalo cuma manggil “Mas” aku nggak mau, kalau “Mas Don” mau :) Eh tapi kamu emangnya mau kupanggil Mbak Arie juga? :)

      Balas
  7. ono sing ngundang bathuk ?

    Balas
    • Wes ra usum maneh :)

      Balas
  8. aku juga ngerasa ki Mas Don, aku meminta untuk memanggilku mas drpd pak..
    sampe kancaku sing protes pas ana juniorku sing nyeluk aku Mas, hahaha…

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.