Ada sekitar delapan warung kopi (coffee shop) tersebar di kompleks kantor tempatku bekerja.
What? Delapan?! Banyak sekali!!!
Kantorku adalah kantor pusat salah satu perusahaan IT/telco terbesar di Australia, memiliki tujuh gedung bertingkat (tower) yang berada di satu kawasan lembah dan memiliki kultur ‘ngopi’ yang kuat sekali di antara para pekerjanya.
Tapi aku tak hendak ngomongin soal pekerjaanku, aku ingin bercerita tentang salah satu coffee shop yang kerap kudatangi kalau kopi bubuk Indonesia yang kubawa dari rumah dan kuseduh tiap pagi habis persediaannya atau kalau tiba-tiba ada meeting yang kebanyakan memang diadakan di coffee shop-coffee shop tersebut.
Coffee shop yang kerap kudatangi itu berpegawai sekitar delapan orang dan nyaris separuhnya adalah orang Indonesia.
Waktu belum kenal, mereka menyapa dengan sapaan standar, “Hi, Mate” atau “Hi, Buddy” atau ada juga yang manggil dengan english mlipis, “Good Morning, Sir” meski dari cara mereka mengucapkan kata-kata (spelling) dan logat (accent), kentara sekali mereka berasal dari Indonesia.
Tapi setelah mereka tahu akupun berasal dari Indonesia terlebih dari Jawa dan memang tampak sekali kejawaanku baik itu dari paras, warna kulit dan juga aksen english dan bahasa Indonesiaku, mereka memanggilku dengan sebutan ‘Mas Don.?
Jadi, tiap aku mampir ke sana, mereka selalu menyapa, “Pagi, Mas Don!“, “Apakabar Mas Don!” dan sapaan itu menular ke kawan-kawan lainnya yang bukan berasal dari Indonesia. Mereka tak segan memanggilku, Mas Don! tentu dengan aksen yang aneh dan terdengar seperti ?Mez Dhon!?
Menyenangkan?
Sangat!
Bayangkan! Di Indonesia sendiri aku sangat jarang dipanggil Mas kecuali oleh adikku sendiri. Selalu “Koko Donny” atau “Ko Don” karena dianggapnya aku ini ?warga keturunan? karena kulitku yang menurut mereka lebih putih dan mataku yang sipit ketimbang rekan-rekan sesama ras Jawa lainnya.
Apalagi di sini, di tanah rantau yang konon akrab dengan pola hidup individu yang tak perlu ba-bi-bu dan biasa langsung ‘panggil nama’ tanpa kata sandang, “Mas, Om, Pakdhe, Paklik” atau apapun lainnya, mendapat panggilan “Mas Don” itu adalah sesuatu yang sangat berharga.
Ah aku jadi berpikir, andai aku tak tinggal di Australia melainkan di Jakarta, apakah aku juga akan sebahagia ini dipanggil ?Mas Don???Mungkinkah aku akan berpikir sebaliknya, menganggap panggilan ?Mas? adalah panggilan kasar? karena sebagian besar orang menganggap hal itu adalah stereotipikal panggilan kaum pekerja ?kelas rendahan? (dan biasanya datang dari pelosok Jawa)?
Entahlah tapi yang pasti suratan takdir menghendaki aku ada di sini dan aku bahagia meski itu hanya dengan dipanggil ?Mas Don?.
Jadi, kalau kalian ingin menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain tanpa harus melakukan banyak hal, panggilan aku ?Mas Don? dan aku akan amat bahagia oleh karenanya.
Tinggalkan Balasan