Waktu masih di Jogja dulu, aku pernah mengganti nama panggilan salah satu temanku yang semula kupanggil, katakanlah, Slamet, lalu karena satu hal yang akan kujelaskan pada kalimat berikut ini kupanggilah ia kemudian dengan sebutan Munyuk, anak kera.
Masalahnya sederhana, bagiku ia adalah seorang yang sangat munafik!
Di depanku ia manthuk-manthuk memanggil aku “Mas Donny” dengan logat yang sangat kental Jawanya, tangan yang ngapurancang serta senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya seakan aku ini masih darah biru keturunan keraton dan ia seperti keturunan kuli angkut Pasar Beringharjo saja. Tapi sebaliknya, di belakangku ia tak segan memanggil aku dengan “Donny” bahkan pernah sekali aku mencuri dengar ia berbicara denganku “Asu Donny kae… lha wingi bla bla bla!” sambil berkacak pinggang!
Aku bukan orang yang gila hormat!
Karena tanpa aku menjadi gila pun orang sudah banyak yang menghormatiku!
Tapi aku gila konsistensi dan gila keterbukaan!
Bagiku, orang seperti Munyuk itu adalah orang yang tak sanggup untuk gigih terhadap konsistensi dan jauh dari yang namanya terbuka. Untuk satu alasan yang aku sendiri tak tahu, ia bisa memanggilku Donny di muka orang lain, tapi ketika ada di depan batang hidungku, secepat kilat ia bisa menyertakan awalan “Mas” begitu saja.
“Lha saya kan pengen menghormati Mas Donny tho!” demikian belanya yang tak kutanggapi selain menggumam “Munyuk! Munyuk! Munyuk!”
Ia juga tak terbuka!
Ia lebih memilih menutup permukaan hatinya dengan segala yang terkesan hormat, ngajeni dan baik!
Orang munafik itu tak ada tempat dalam kamus persahabatanku, sampai ke lorong tinja di WC ku yang tercinta pun ia akan kukorek habis jika kutemukan. Kenapa demikian, karena aku sendiri sudah kepalang munafik adanya hahahahah!
Itulah dulu, dan dulu berbeda dengan sekarang.
Teman kantorku yang bule semua (hanya aku seorang yang Asia, dan hanya aku seorang yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa ibu) selalu memanggilku “Donny!” Mereka pun juga tak mau kupanggil “Sir”, “Mister” atau apalagi “Mas” lha wong mereka bukan orang Jawa meski kadang aku ingin memanggil mereka dengan sebutan “Paklik” dan “Bulik” karena usia mereka rata-rata adalah sepantaran adik orang tuaku.
Aku sendiri senang dipanggil nama saja, sesenang aku memanggil orang yang tertinggi di perusahaan ini pun dengan sebutan nama pula. Seperti tak ada tedeng aling-aling untuk bilang A kalau A dan B jika B tak peduli siapa dan apa kedudukannya!
Dan konon adat seperti itu memang tak hanya di kantorku saja tapi nyaris menyeluruh ke semua daratan negeri, mereka sangat jarang memanggil seseorang dengan kata sandang.
Dengan Bahasa Inggris terbata-bata, aku pernah menanyakan satu hal kecil terkait soal panggil-memanggil ini pada teman buleku. Begini ceritanya,
“Kamu kemarin kemana pas weekend, Jack?”
“Oh, fishing ama girlfriendku trus abis itu pergi ke rumah John…”
“Oh, John, siapa itu?”
“Bapakku.”
Modharrrr!
Aku langsung terbayang seandainya nanti aku dianugerahi anak dan yang pasti anak itu dibesarkan di sini lantas memanggilku “Don! Donny! Minta uangnya Don!”
Waduh, kalau si Slamet saja kupanggil Munyuk yang berarti anak kera, mungkin berat bagiku untuk tidak memanggil anakku dengan sebutan Krete, yang dalam Bahasa Jawa berarti anak buaya, bukan karena Papanya dulu buaya tapi lebih karena kekurangajarannya memanggilku, bapaknya dengan nama saja!
Nah kalau sudah begini, di mana aku harus berpijak?
Di dunia yang memandang bahwa memanggil nama saja terlebih pada yang lebih tua itu haram, atau di dunia yang banyak orang bilang modern hanya karena kita bebas tanpa tedeng aling-aling memanggil siapapun dengan nama saja?
Aku memilih di tengah saja!
Dalam banyak hal, posisi tengah adalah yang paling menyenangkan dan menyelamatkan!
Ketika kuingin dipanggil nama oleh mereka yang lebih muda, aku tentu akan berpihak ke budaya sini karena jelas itu akan membuatku merasa sedikit lebih muda ketimbang orang memanggilku dengan sebutan “Pak Donny”
Ketika kuingin dipanggil “Sir (wangun ora yo?!?)” atau “Mas” maka aku akan senang juga karena mereka kuanggap menghargaiku.
Ah, aku tiba-tiba jadi kangen dipanggil “Mas Don” atau “Koh Don”
Dulu banyak wanita di sekeliling memanggilku demikian… Dulu, ya dulu … :)
Tinggalkan Balasan