Mas Djaduk

13 Nov 2019 | Cetusan

Aku tidak kenal terlalu dekat dengan Mas Gregorius Djaduk Ferianto yang meninggal semalam di Jogja. Tidak seperti kawan-kawanku lain yang punya begitu banyak kenangan dengan seniman multitalenta itu.? Tapi justru karena tak terlalu dekat dan karena kenanganku cukup sedikit dengan beliau, aku merasa perlu untuk menuliskan rawian ini guna menangkal lupa.

Djaduk Ferianto
Djaduk Ferianto

Pertemuan pertama dengan Mas Djaduk

Pertemuan pertamaku dengan Mas Djaduk adalah saat aku mendatangi pamerannya di gedung Kompas (Gramedia) di bilangan Kotabaru belakang Telkom Yogyakarta.

Aku lupa apa nama pamerannya tapi aku tak pernah lupa pada kehangatannya menyambutku. Kapasitasku saat itu adalah menjadi reporter sekaligus pengelola GudegNet, situs portal kota Jogja yang baru kudirikan bersama kawan-kawan waktu itu.

Barangkali karena waktu itu media online masih sangat jarang apalagi untuk ukuran Jogja, kehadiranku ternyata cukup mengesankan baginya. Sambil duduk bersila, aku yang waktu itu masih sangat awam terhadap seni dan budaya diajak berdiskusi tentang pemerannya itu.

?Nanti saya dikirimi print-printan artikelnya kalau sudah dimuat ya, Mas? pesannya kepadaku.

Jagongan Wagen

Aku tak lupa janji.?
Setelah rilis, aku mencetak artikel itu lalu kuserahkan langsung ke Mas Djaduk sore hari berikutnya di gedung pameran yang sama. Dari situ hubunganku dengan Mas Djaduk mengalir dengan baik. Sayang, aku tak berhasil menemukan artikel tersebut dari arsip GudegNet.

Bisa dibilang, GudegNet pada awalnya amat terbantu oleh peran beliau dalam melebarkan jaringan ke kawan-kawan seniman dan budayawan di lingkarannya.?

Lalu ketika Mas Djaduk membuat acara ?Jagongan Wagen? di Dusun Kersan, Bantul (sebelum akhirnya pindah ke Padepokan Bagong K.) akupun tak luput diundang.

Hampir setiap acara jagongan di malam pasaran Wagen kudatangi. Tak hanya untuk peliputan tapi juga karena aku sangat tertarik dengan materi-materi seni dan diskusi budaya yang dihadirkan. Ditingkahi kudapan tradisional seperti kacang dan singkong rebus dan teh nas-gi-tel, kawan-kawan baru kukenal. Hubungan terjalin dan perkawanan pun mengembang.

Namun seiring kemajuan GudegNet, porsiku bertemu dengan Mas Djaduk makin surut karena aku mulai menjaring wartawan-wartawan yang langsung turun ke lapangan sementara aku kemudian lebih fokus ke divisi Web Development hingga aku mengundurkan diri dari perusahaan untuk pindah ke Australia di tahun 2008.

Giras, Ponakan Mas Djaduk

Dan salah satu wartawan GudegNet itu bernama Giras Basuwondo. Ia adik kelasku di De Britto lulusan tahun 2000. Ada cerita menarik terkait dengan Mas Djaduk pada saat Giras untuk pertama kalinya menelpon GudegNet untuk menyampaikan niatnya bergabung sebagai wartawan. Kurang lebih percakapan yang terjadi antaraku dengan Giras begini adanya,

?Kamu mau jadi wartawan??

?Iya, Mas.? jawabnya.

?Kamu kenal siapa saja di dunia seni dan budaya Jogja? Gudegnet fokus ke situ jadi jaringanmu harus luas!? tanyaku lagi dengan nada agak tinggi. Maklum waktu itu masih ?darah muda.?

?Saya kenal dengan Mas Djaduk dan kawan-kawan, Mas.? jawabnya.

?Kenal dekat? Sedekat apa kamu? Saya ini kenal dekat sekali dengan beliau. Tanyain saja? ?Donny GudegNet? pasti dia tahu!? jawabku masih dengan nada tinggi.

?Oh.. saya keponakannya Mas Djaduk.? Giras menjawab, lidahku kelu karena malu :)

Giras, keponakannya Mas Djaduk yang adalah putra sulung dari Mas Butet Kertaredjasa bergabung di GudegNet. Sejak saat itu, semua peliputan di dalam lingkungan keluarga besar alm. Bagong Kussudiardjo kuserahkan kepadanya. Kepada siapa lagi yang lebih cocok, kan?! Giras pernah kuwawancarai dan muncul dalam tulisanku di sini.

Website Kua Etnika

Perjumpaanku dengan Mas Djaduk berikutnya terjadi sekitar tahun 2004-2005. Hubungannya kali itu bukan antara reporter dan narasumber tapi antara web designer/developer dengan klien.

Ia bersama kakaknya, Mas Butet, memintaku membuat situs web untuk Kua Etnika.

Ada beberapa pertemuan dengan mereka tapi salah satu yang berkesan adalah ketika aku datang ke rumah Mas Butet untuk presentasi design. Saat itu pagi hari, Mas Butet lalu menelpon adiknya, memintanya untuk datang dan berdiskusi bersama.

Tak berapa lama kemudian, Mas Djaduk datang menggunakan (kalau tak salah ingat) mobil Suzuki Karimun yang tampak begitu mungil bagi Mas Djaduk yang tinggi dan besar itu.

?Oh, njenengan to Mas Donny?? begitu sapanya hangat?

Arsip Kuaetnika.com
Arsip Kuaetnika.com

Album Natal ?Dia Sumber Gembiraku?

Menjelang Natal tahun 2006, Mas Djaduk merilis album Natal dalam nuansa nusantara yang renyah untuk dinikmati.  Album berjudul ?Dia Sumber Gembiraku? waktu itu saking menariknya sampai kubeli tiga keping banyaknya dan kubagi-bagikan kepada kerabat.

Di album itu ia tidak sendiri. Tri Utami yang penyanyi jazz kesohor itu digandengnya untuk menyanyikan ?Malam Kudus? dalam beberapa versi bahasa dan ?Alam Raya Karya Bapa?. Romo Antonius Dodit Haryono, Pr yang sekarang menjabat ketua Rayon Sleman, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta pun bernyanyi dalam lagu Jingle Bells dan Gloria. Lalu kawan lamaku, Jajoek Suratmo bernyanyi Hark The Herald Angel Sing dan Tuhan Sumber Gembiraku.

Tapi yang paling berkesan dan sejak pagi tadi saat kudengar Mas Djaduk berpulang tak henti kusenandungkan adalah Srengenge Nyunar (Matahari Bersinar Trang) yang dibawakan sendiri olehnya dengan suara khasnya nan renyah dan ?njawani? itu!

Srengenge nyunar kanthi mulyo
angine midid klawan rena
manuk’e ngoceh ono ing witwitan
Kewane nyenggut ono ing pasuketan

Lik Man: Pertemuan Terakhir dengan Mas Djaduk

Pertemuan-pertemuan terakhirku dengan Mas Djaduk terjadi di warung angkringan Lik Man, dekat Stasiun Tugu pada 2006-2008. Meski tak pernah serombongan tapi kami sering berbagi meja, seberang-menyeberang.

Tak banyak bertukar kata-kata tapi setidaknya kami melempar senyum dan sapa untuk melemaskan suasana.

Sesudah aku pindah ke Australia, 2008, praktis tak ada lagi komunikasi antaraku dengannya hingga tadi pagi kudengar kabar anak bungsu dari budayawan besar, Bagong Kussudiardja itu telah tiada.

Di saat-saat begini, kadang aku merasa begitu jauh dari gaung pergaulan seni dan budaya Jogja nan hangat dan ngangenin. Ada jeda, ada sela ada rongga yang semuanya itu seolah hanya bisa diisi oleh sesuatu yang ?embuh? sambil menunggu waktu untuk melupakan satu-per-satu kisah yang dulu.

Ah, embuh Mas.
Sugeng tindak wae! Pokokmen dipenake!
Lima puluh lima tahun kamu mengembara di dunia dan sekarang saatnya bersenandung lagu berirama tralala bagi Tuhan Yang Esa. Bernyanyilah dari surga, Mas!? Salam dinggo pak lan simbokku ya!

Selamat jalan, Mas Djaduk
Selamat jalan, Mas Djaduk.
Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Selamat mas @greg_rionugroho
    #JB08

    #Repost @kemensetneg.ri
    ? ? ? ? ? ?
    Presiden Joko Widodo bertemu dengan sejumlah peneliti dan ilmuwan asal Indonesia yang berada di Korea Selatan.

    Dalam pertemuan tersebut berlangsung di Hotel Lotte, Busan, pada Senin, 25 November 2019. Dalam pertemuan yang berlangsung selama sekitar 45 menit tersebut, para ilmuwan menyampaikan gagasan-gagasan terkait riset dan inovasi kepada Presiden yang disampaikan oleh Gregorius Rionugroho Harvianto.

    Gagasan tersebut dirumuskan dalam judul ?Korea Selatan sebagai Inspirasi Percepatan Kemajuan Riset dan Inovasi di Indonesia? dan ?Strategi Riset dan Inovasi Menuju Indonesia Emas 2045?.
    .
    Presiden Jokowi berpesan, salah satunya agar para ilmuwan tidak lupa untuk kembali dan membangun Tanah Air.

    Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam pertemuan tersebut, antara lain, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, dan Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.