Bagiku, Bramantyo Prijosusilo adalah preman yang sesungguhnya! Mereka yang mengeroyok itu hanya preman-premanan, karena kalau preman sejati tentu tak main keroyokan, banci!
Dan, ya… Mas Bram sepakat denganku untuk menyebut mereka banci. “Kena tonyo… ning tonyo banci… ora lara (kena pukul, tapi pukulan banci, nggak sakit – jawa),” begitu jawabnya ketika kutanya apakah dia kena pukul massa dalam percakapan singkatku dengannya semalam via jendela Facebook, sesaat setelah ia keluar dari kantor polisi.
Selain kena pukul, ia juga sempat kehilangan kacamatanya hingga akhirnya seorang wartawan menemukan dan memberikannya kembali. Ia hanya menyayangkan keris pusakanya yang rusak, “Mendhak emasnya hilang dan warangkanya patah!”
Eh, tapi maaf, sebelum kulanjutkan tulisan ini… kalian tahu kan siapa yang sedang kuomongkan?
Ialah Bramantyo Prijosusilo. Media massa kemarin ramai memberitakannya dan menyematkan gelar ‘seniman’ kepadanya, tapi bagiku lebih dari seniman. Ia adalah kawan. Sesama lulusan SMA Kolese De Britto Yogyakarta, meski ia angkatan lama, jauh di atasku.
“…Saya berterima kasih, mereka telah memerankan aksi barbar dengan baik”
Kemarin ia membuat ‘ombak kecil’ dengan membuat pertunjukan seni berjudul “Membanting Macan Kerah” di depan Markaz Majelis Mujahidin, Jl. Karanglo no 94, Kotagede, Yogyakarta.
Dalam siaran persnya, Mas Bram mengabarkan niat dibalik pertunjukan seni itu sebagai berikut:
Menghayati kecenderungan merebaknya kelompok dan penghayatan agama yang bercirikan kegiatan-kegiatan keagamaan yang memecah belah masyarakat dan berpotensi memicu konflik horizontal, serta mengahayati ancaman kekerasan yang diniscayakan oleh adanya kegiatan-kegiatan semacam itu, maka saya memiliki gagasan untuk membuat suatu ?social sculpture? (patung sosial) yang bertema : ?Melawan Radikalisme Agama Dengan Seni Atas Nama Pribadi?.
Sayang memang, belum sempat menggelar karya seni yang konon hanya akan berlangsung lima menit atau paling lama setengah jam jika diikuti tanya jawab ini, ia sudah keburu digrudhuk dan digebuki massa hingga akhirnya ia ‘diselamatkan’ oleh polisi untuk ‘diamankan’.
Merasa gagalkah ia?
Ternyata tidak.
Diatasinya rasa itu dengan jiwa seni dan keterbukaan serta keyakinannya yang begitu kuat bahwa orang yang akan diajak ?bicara? melalui karyanya adalah manusia juga. Sayang, di bagian terakhir ini ia salah.
Simak pernyataannya di bawah ini:
“Saya tidak melaporkan tindakan kekerasan yang mereka lakukan kepada saya itu, karena itu (tindakan kekerasan MMI) merupakan bagian dari proses pembuatan seni saya. Saya berterima kasih, mereka telah memerankan aksi barbar dengan baik,” tukasnya via vivanews.com
Masih melalui jendela messengernya, ia juga berkata bahwa yang penting gelombang ini kian lama kian membesar. “Aku berharap INDIVIDU bangkit bersama jadi kesadaran bersama menolak kekerasan atas nama agama.” Nah, menarik kan?
Bagiku, apa yang dilakukannya siang itu adalah suatu usaha menertawakan radikalisme bertajuk agama yang sekarang marak terjadi. Hal tersebut seharusnya tak ditoleransi keberadaannya di tengah masyarakat yang negaranya mengaku mengusung asaz demokrasi itu.
Mas Bram juga membuang jauh-jauh rasa takut. Diatasinya rasa itu dengan jiwa seni dan keterbukaan serta keyakinannya yang begitu kuat bahwa orang yang akan diajak ‘bicara’ melalui karyanya adalah manusia juga. Sayang, di bagian terakhir ini ia salah. Kalau yang ia ajak bicara adalah benar-benar manusia, tentu mereka akan lebih dulu mendengarkan baru bereaksi, bukan langsung main pukul tanpa tahu apa yang hendak diutarakannya.
Eh, tapi kalian mau tahu hal yang paling menarik dari ‘interview’ ku dengannya semalam?
Ketika kutanya, “Kamu merasa takut, Mas? Kan tadi kabarnya diancam?” Dengan santai (kubayangkan demikian),? ia menjawab, “Ora ki? Emang kudu wedi? (Nggak tuh, memangnya harus takut? – jawa)”
Jadi, tak salah kan kalau aku bilang bahwa Mas Bram lah premannya! :)
Simak artikel-artikel menarik tentang Mas Bram dari sekian banyak link yang kutemukan:
- Pembuktian Bramantyo Prijosusilo Berhasil!
- Konsep Aksi Bramantyo Prijosusilo di Kotagede
- Ini Puisi Bramantyo Prijosusilo
- Kronologi Aksi Bramantyo Prijosusilo
- Bramantyo Prijosusilo, budayawan penista Agama digelandang ke kantor polisi<< Ini menarik!
- Dinilai Menistakan Agama, Bramantyo Dilaporkan MMI?? << Ini menarik!
- MMI: Budayawan Penista Agama Wajib Ditangkap << Ini menarik!
Credit foto: Halaman Facebook milik Bramantyo Prijosusilo
Tinggalkan Balasan