Markisa dan … Hey, kitakah domba-dombanya?

7 Mei 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 7 Mei 2017

Yohanes 10:1 – 10
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.

Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.

Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.

Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu.

Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.

Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.

Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Renungan

Yang agak mengejutkan dari Kabar Baik hari ini adalah, Yesus mengumpamakan diri bukan sebagai gembala seperti biasanya. Ia adalah pintu untuk menuju ke kandang dimana kawanan domba berada.

Hari-hari ini kita dikejutkan dengan perilaku aneh seorang mantan artis wanita terkenal di era tiga dekade silam?yang kini telah menjelma menjadi politisi, bergelar doktor, terpandang karena memiliki gelar kehormatan dari sisi agama yang ia peluk!

Namanya? Sebut saja Markisa, tapi karena ia suka ber-sepatu hak tinggi, mari kita sebut sebagai Markisa Hak!

Anehnya lagi, dalam ber-sosial media, perilakunya memilukan. Ia tak hanya gemar menyudutkan orang-orang yang dianggap lawan politiknya, ia benar-benar membabi buta dengan melontarkan banyak ujaran-ujaran kebencian tak senonoh yang membuat kita berpikir, “Ini beneran dia? Yang dulu tampak ayu di layar kaca? Yang seorang agamis dan bergelar doktoral? Yang benar saja!”

Yang lebih mengherankan adalah, kok ya ada saja orang-orang yang masih menyanjung dan melegitimasi segala perbuatannya itu sebagai sesuatu yang benar benar!

Fenomena Markisa ini membuatku tertegun dan kujadikan bahan renungan atas Kabar Baik ini.

Kita adalah kawanan domba dan sejatinya menjadi domba itu tak pernah mudah.

Ketika ada pencuri datang berwajah sangar, bersuara keras dan membawa belati serta tali untuk mengikat, kita mudah untuk mengenali bahwa itu memang benar-benar pencuri! Tapi bagaimana dengan mereka yang datang sebagai pencuri bertopeng? Berwajah manis nan alim, prestasi di masa lalunya mengagumkan, berpendidikan hingga namanya dipenuhi singkatan-singkatan gelar seperti Mbak Markisa dan… agamis! Bagaimana cara mengenali bahwa semua yang gilap-gemerlap itu hanyalah topeng kebusukannya?

Tapi itu bukan hal yang paling menyulitkan posisi domba. Katakanlah kita diselamatkan dan pencuri bertopeng itu berhasil disingkirkan dari kandang hingga lari tunggang-langgang, lantas selanjutnya bagaimana kita mampu membangun kepercayaan diri terhadap mereka yang datang, tak bertopeng tapi memang benar-benar baik, berpendidikan, alim dan… masuk lewat Pintu yang telah ditentukan?

Adakah kita masih bisa percaya atau perlukah kita tetap curiga jangan-jangan segala hal yang baik itu hanyalah topeng saja? Jangan-jangan segala yang agamis itu hanyalah pemanis untuknya melampiaskan nafsu-nafsu duniawinya?

Serba salah ya? Kalau yang benar-benar baik kita tolak, nanti ujung-ujungnya kita juga yang disalahkan, “Dasar domba!”

Jadi?
Kawanku yang mencoba bijak pernah berkata begini, “Tenang saja! Orang baik dikenali lewat buah-buahnya. Orang baik pasti akan berbuah kebaikan.” Oh ya? Benar juga! Tapi tak adakah nasihat yang lebih mutakhir ketimbang yang klasik seperti itu?

Kalau kamu bilang bahwa orang baik dikenal lewat buat-buah baiknya dan orang-orang sok baik yang jahat hanya membawa buah pahit meski bersalutkan gula-gula manis, bagaimana kalau dengan segala keterbatasan yang kita miliki, kesadaran bahwa yang kita makan barusan adalah buah beracun terjadi sesaat sebelum racun itu membuat kita mati?

Telat dong?
Yup! Telat! Jadi, bagaimana menurut kalian? Aku sendiri bingung untuk membedakan pencuri dan perampok atau mereka yang datang melalui pintu masuk yang telah disediakan dan benar-benar orang baik yang hendak menyelamatkan kita?

Ada ide, Mailaf?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.