Maria itu beriman tapi kok masih bisa berduka sih?

15 Sep 2017 | Kabar Baik

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!”
(Yohanes 19:26)

Hari ini Gereja Katolik di seluruh penjuru dunia memperingati Hari Raya Santa Perawan Maria berdukacita.

Sebagai Ibu, Maria tentu amat berduka melihat putra tunggalnya mengalami derita atas kesalahan yang tak pernah dibuat. Yesus diringkus, didera, diadili dengan tidak adil, memanggul salib untuk kemudian digantung di puncak Golgota hingga wafat.

Maria terdiam. Dalam dukanya ia tak berbicara, merenung dan pasrah.

Tapi, Don… kok Maria bisa berduka sih? Bukannya ia itu orang yang sangat beriman? Kenapa tetap sedih dan susah? Adakah imannya salah? Jangan-jangan…

Hehehe… Berduka itu wajar dialami oleh siapapun baik yang imannya sekecil irisan debu maupun yang besar dan sepanjang seperti roket milik Korea Utara! Tapi apa yang kita lakukan dan jadikan sebagai sikap saat berduka akan memberi tanda penting yang membedakan antara kita yang mengaku beriman dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan.

Berduka di dalam Tuhan adalah menyadari kedukaan dari sebabnya.

Saat berduka kita tidak perlu menolak kedukaan itu apalagi dengan menganggap duka itu tidak ada. Justru dari kedukaan kita menyadari lemahnya kita sebagai manusia yang membutuhkan Tuhan untuk menghibur.

Ketika orang tuaku meninggal (Papa, 2011 dan Mama, 2016) atau saat Iwan Santoso, sahabatku berpulang (2015) aku ‘menikmati’ kedukaan itu dengan menyadari betapa mereka amat berarti dan aku kehilangan.

Berduka di dalam Tuhan adalah menyadari kedukaan sebagai wajah kehidupan

Duka dan suka itu adalah kepingan hidup seperti halnya siang dan malam, panas terik maupun hujan. Wajah kehidupan tampak dalam suka maupun duka. Jadi ketika kamu berduka, bersyukurlah karena itu tandanya kamu masih hidup! Tak perlu sok kuat ketika harus lemah dalam duka, tapi juga jangan lupa lebarkan senyum dan tawa saat sukacita. Alami dan mengalir saja…

Berduka di dalam Tuhan adalah tetap percaya pada rancangan terbaikNya

Tanpa Tuhan kita tak bisa melewati kedukaan tapi di dalam Dia, kedukaan bukanlah jalan buntu dan bukan pula akhir dari segalanya. Kenapa? Seperti yang kutulis dalam Hari Pesta Salib Suci kemarin, Yesus sendiri yang adalah Tuhan pernah mengalami kedukaan yang paling dalam dan paling menyesakkan dan Ia pun bangkit dalam waktu tiga hari setelah kematianNya. Jadi, sedalam apapun kedukaan yang kita alami, Tuhan kita sendiri pernah mengalami yang lebih berat dan lebih melemahkan dari yang kita alami!

Kebangkitan Yesus juga jadi bukti bahwa kedukaan tak hanya dikalahkanNya tapi justru dimasukkan ke dalam rancangan terbaikNya. Maksudnya? Tanpa kematianNya di atas salib tak akan ada penebusan, kan?

Jadi, kamu berduka? Itu bukan jalan buntu, my friend. Ibaratnya itu hanya jalan bergelombang yang meski datangnya mengagetkan siapa tahu itu adalah caraNya untuk membuatmu nggak ngantuk dan lebih waspada ke depannya.

Sydney, 15 September 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.