Jangan pernah lelah mencintai Indonesia

11 Mei 2017 | Cetusan

Ada orang bertanya kenapa aku begitu mencintai Indonesia?

Jawaban yang paling sederhana karena di tanahnya aku memijakkan kaki untuk pertama kali dan pada air susu yang kuminum dari puting ibuku, pun juga berasal dari air tanahnya. Jadi adakah jalan keluar bagiku untuk tidak mencintai Indonesia?

Lalu orang itu melanjutkan tanya berikutnya, “Apakah nggak lelah mencintai Tanah Air terlebih dengan begitu banyak intrik politik yang terjadi akhir-akhir ini?”

Lelah sih! Tapi lelah yang menyenangkan.
Mari beranalogi, Bro! Sejak beberapa tahun lalu, aku punya hobi angkat berat. Tiap sore atau saat istirahat makan siang, aku pergi ke gym dekat kantor untuk angkat beban selama lebih kurang 45 menit.

Sepulang dari nge-gym, biasanya keesokan paginya, badan pegel-pegel semua. Nyeri otot bahkan kadang cedera itu sudah biasa! Tapi anehnya, meski begitu, sorenya ya tetap kembali melakukan rutinitas yang sama, nge-gym lagi, angkat beban lagi bahkan dengan beban yang lebih berat dari yang sehari sebelumnya kuangkat. Begitu terus-menerus…

Nah, mencintai Tanah Air itupun kurang lebih juga sama!
Rasa pegel-pegel dan kecewa apalagi ketika jagoan kita kalah secara menyakitkan bahkan harus dibui seperti Ahok itu wajar dan manusiawi. Tapi yang lebih manusiawi lagi adalah kesadaran bahwa kekecewaan itu ada batas kadaluwarsanya dan ketika ia menghilang lalu pergi, rasa cinta pada nasion menyeruak lagi tinggi-tinggi!

Jadi, bagi kawan-kawan yang merasa begitu kecewa dengan dimasukannya Ahok ke dalam penjara, lampiaskanlah kecewamu, tapi jangan lama-lama! Kita harus melihat dalam prespektif luas dan lapang dada bahwa dalam hidup selalu ada yang dipertaruhkan dan tak selamanya kita harus menang!

Toh kalau memang hukuman dua tahun yang harus dijalani Ahok itu berlaku tetap dan final, tak sampai akhir tahun depan pun dia udah bebas lagi, kan?

Berpikirlah juga bahwa meski terpenjara, meski merasa diperlakukan tak adil, apakah menurut pikirmu Ahok akan berhenti mencintai Indonesia? Tidak, kan? Nah, kalau dia yang ‘dibegitukan’ saja masih bisa mencintai Indonesia, kenapa kita tidak?

Ayo bangun lagi! Jangan takut ngilu dan nyeri karena bukankah hanya cinta palsu yang tak perlu pengorbanan?

Cintai Indonesia! Kita inilah Indonesia sebenar-benarnya! Kita yang tak pernah kenal lelah untuk mencintai Tanah Air, kita yang tak pernah kenal letih menghidupkan asa!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.