Mari semakin menjadi manusia bagi sesama dan sekitar?

30 Okt 2017 | Kabar Baik

Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?”
(Lukas 13:15-16)

Kabar Baik hari ini mengisahkan bagaimana Yesus melepaskan kuasa setan yang telah lebih dari delapan belas tahun berada dalam diri seorang wanita. Persoalan muncul karena Ia melakukannya di Hari Sabat, hari yang dikuduskan umat Yahudi untuk tidak melakukan pekerjaan termasuk melepaskan kuasa setan.

Kepala rumah ibadat pun menegur Yesus. Tapi Yesus balas menghardiknya dengan berkata bahwa orang yang dibebaskanNya itu toh keturunan Abraham juga, Bapa Segala Bangsa yang begitu dihormati orang-orang Yahudi. Kepala rumah ibadat pun terdiam seribu bahasa.

Apa yang dilakukan Yesus tentu bukan untuk mengajari bagaimana Ia menabrak aturan yang sudah ada. Semata untuk menunjukkan betapa para petinggi agama waktu itu tak lebih dari sekadar orang munafik yang membawa panji-panji aturan, memaksa orang untuk mengikuti dan melakukan tapi diri sendiri tak pernah melaksanakannya.

Mungkin beberapa dari pembaca ingat apa yang ditulis Rasul Paulus kepada umat di Galatia,??Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik?kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita?seiman.? (bdk. Galatia 6:10).

Ada kawan dulu mengungkapkan keengganannya untuk menolong sesama tanpa pandang bulu karena berpegang pada ayat tersebut. Ia mau membantu, tapi maunya hanya membantu yang seiman. Pokoknya asal se-Tuhan, asal se-gereja, ia tak ragu membantu. Tapi ketika ada yang perlu bantuan, tetangga sendiri, karena beda agama bahkan sesama kristiani tapi tak se-gereja, ia pura-pura tak tahu dan bersikap acuh.

Padahal apa yang ditulis Paulus adalah dalam konteks keadaan umat di Galatia yang saat surat dituliskan (40 – 50 masehi) sedang terjadi pertentangan antara non-Yahudi (Yunani), Yahudi serta pengikut Kristus. (bisa dibaca lebih jelas di sini). Sehingga apa yang dijadikan alasan oleh kawanku untuk ?pandang bulu? terhadap yang akan ditolong dengan menggunakan tulisan Santo Paulus tentu jadi nggak nyambung. Bahkan kalau tak hati-hati menurut hematku hal itu bisa membuat ia terkungkung dalam fanatisme sempit. Kalau sudah begitu, apa bedanya dengan pemuka agama yang dihardik Yesus di atas?

Jaman terus bergerak dan kita diutus untuk semakin mengikuti kehendakNya menolong serta mengasihi sesama. Marilah kita membuka mata dan jangan pernah berusaha menyempitkan kuasa Allah yang maha luas dengan memancang tonggak-tonggak aturan yang kamu sendiri sebenarnya tahu bahwa hal itu tidaklah tepat. Mari semakin menjadi manusia bagi sesama dan sekitar?

Sydney, 30 Oktober 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.