Mari berkeringat! Mari menggarami!

24 Mei 2018 | Kabar Baik

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.” (Markus 9:50)

Tuhan meminta kita untuk mempunyai garam dalam diri. Garam yang tidak hambar. Garam yang asin tentu saja yang sanggup ?mengasini? lingkungan sekitar atau setidaknya diri kita sendiri.

Memahami makna ?garam? baiklah kita menggunakan pendekatan yang punya sifat mirip, sama-sama asin yaitu keringat! Keringat itu asin! Tak percaya? Berkeringatlah lalu jilatlah keringat itu! Hahaha?

Menggarami hidup ibaratnya adalah membuat tubuh ini jadi berkeringat sehat! Ya, menggarami hidup adalah tanda hidup yang sehat! Berkeringat tanda kita berolah raga. Berkeringat tanda kita bekerja! Bergerak!

Dunia tanpa pergerakan adalah dunia yang tanpa dinamika, monoton, mati!

Lalu bagaimana konteks nyata ?menggarami? itu?

Ambil yang paling mudah, buanglah sampah pada tempatnya. Memungut sampah yang tercecer itu sudah menggarami hidup karena ketika ada orang melihat, ia bisa ikut tergerak melakukan yang sama dengan kita.

Tapi bagaimana dengan orang yang melihat kita memungut sampah lalu malah mencibir?

Nggak papa! Cibiran itu adalah tanda baik karena berarti batinnya bergolak. Ia mencibir bukan pada dirimu. Cibiran itu sejatinya malah ditujukan pada dirinya sendiri karena malu tidak bisa melakukan hal yang sejatinya sepele tapi tak pernah terpikirkan untuk dilakukannya!

Tapi menggarami dunia itu perlu kehati-hatian!

Coba perhatikan sekali lagi potongan ayat Kabar Baik hari ini yang kutoreh di atas. Yesus menyandingkan perkara ?garam dunia? dengan ajakan supaya kita selalu hidup berdamai dengan yang lain. Kenapa? Kebetulan saja?

Kita percaya tak ada yang kebetulan. PesanNya adalah supaya kita meski berkeringat, meski menggarami dunia, jangan sampai keringat itu mengenai orang-orang sekitar yang alih-alih tertular semangat untuk bergerak malah membuat mereka menjauh karena risih dan memusuhi karena terkena keringatmu!

Artinya?
Ketika menggarami dunia kita harus sadar bahwa tak semua orang berkenan dan menerima tindakan kita sebaik apapun itu.

Misalnya, di sebuah siang kamu melihat ada seorang ibu yang jatuh tertabrak sepeda motor. Karena kamu adalah garam dunia maka kamu tergerak untuk menolongnya.

Ketika hendak menarik tangannya supaya bangkit, ia menolak! Ia menyatakan penolakannya itu dengan halus karena sesuai iman yang dianutnya, ia tak boleh bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan pasangan resminya.

Apa yang sebaiknya dilakukan?
Jangan paksa! Ingat, jangan mengenai orang lain dengan keringat kita maka menggarami dunia pun harus menggunakan akal dan budi serta mengikuti tata cara yang diterima masyarakat sekitar.

Mintalah pertolongan pada orang-orang sekitarnya untuk membantu si ibu. Dan kamu jangan berkecil hati karena kita tetap bisa menolong misalnya dengan membantu mengatur lalu lintas di sekitar kejadian, menelpon polisi dan ambulan untuk meminta bantuan, menghubungi keluarga si korban dan masih banyak lagi. Bukankah itu juga sama-sama menggarami?

Mari berkeringat! Mari menggarami!

Sydney, 24 Mei 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.