Malam Paskah

17 Apr 2022 | Cetusan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, semalam dalam perayaan Vigili Paskah, aku bermain musik di gereja paroki Maria Penolong Umat Kristiani (Our Lady Helper Christian) Epping, NSW.

Epping adalah kelurahan tempatku tinggal sejak 2010 hingga awal tahun ini sebelum akhirnya Januari kemarin aku pindah ke kelurahan baru, Box Hill namanya.

Lagu-lagunya dan para penyanyi serta pemusiknya hampir sama semua dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini membuatku merasa nyaman dan kenyamanan menjadi jawaban ketika mereka heran kenapa aku masih mau datang meski sudah pindah dari sana.

Aku begitu menikmati jalannya perayaan karena kisah yang dibawakan dalam bacaan-bacaan mengisyaratkan mood yang terjadi dua ribu tahun silam.

Yesus mati.
Dunia menjadi sepi dan dalam kegelapan Ia menyalakan harapan. (Lampu gereja dimatikan, umat menyalakan lilin dari api yang berasal dari Lilin Paskah yang sudah disucikan). Tepat tengah malam, pintu makam terbuka dan Yesus bangkit dari maut.

Hal itu juga diselaraskan dalam lagu-lagu yang dibawakan. Dari yang semula lagu antar bacaan tanpa musik, beranjak ke lagu dengan musik yang mengalun sunyi hingga akhirnya hadir reportoar musik yang semarak penuh.

Aku paling suka kelokan As Deer Longs yang merupakan musikalisasi Mazmur 42-43 sebagai bagian akhir dari ‘kegelapan’ lalu menanjak ke Glory to God atau dalam Bahasa Indonesia, Madah Kemuliaan yang begitu meriah.

Setiap memainkan Glory to God, ada luapan emosi yang tak hanya kualami tapi juga begitu banyak orang termasuk para musisi dan penyanyi dalam koor.

Leher tercekat, mata berkaca-kaca mengingat selama 40 hari masa Pra Paskah, lagu ini adalah lagu yang tidak boleh dikumandangkan kecuali dalam perayaan-perayaan khusus.

Tapi ada yang lain dari permainanku semalam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Gitarku tak muncul bunyinya dari speaker FOH Gereja! Padahal waktu gladi resik, sejam sebelumnya, semuanya baik.

Awalnya aku tentu menyalahkan petugas sound system karena kupikir dari gitar dan pedal board-ku, semua OK. Tapi ketika kukonfirmasi, mereka juga nggak menemukan masalah meski masalah sebenarnya adalah Gereja tidak punya monitor speaker untuk benar-benar memastikan bahwa suara gitarku muncul. Konfirmasi mereka hanya berasal dari putaran knob level di mixernya.

Keadaan ini membuatku merasa tidak tenang di awal-awal perayaan. Volume pick up gitar dan volume DI Box pedal kuputar-putar bahkan hingga nyaris maksimal. Senar sengaja kumainkan bahkan saat bacaan sedang dikumandangkan. Aku memang sedang cari perhatian jadi setidaknya kalau memang volume gitarku keluar di FOH, orang akan terganggu dan aku akan diingatkan konduktor malam itu. Tapi nyatanya tak ada yang terganggu berarti fix gitarku memang bisu!

Glory To God yang jadi tikungan mood perayaan kujadikan sebagai tikungan moodku pula semalam.

Aku mengambil keputusan, aku harus berhenti menggerutu!

Kecewa karena urusan teknis tentu boleh tapi hal itu tak boleh menghentikan pelayananku. Suara gitarku mungkin tak didengar seluruh umat di gereja tapi para penyanyi yang bernyanyi di depanku, mereka mendengarkannya dengan baik. Dan yang pasti, aku sendiri mendengarnya dan ini sudah lebih dari cukup!

Keberhasilan kita dalam melayani Tuhan dan umat berasal dari yang terbaik yang bisa kita berikan.

Keterbaikan hadir secara situasional. Ketika sound bagus dan kamu mainnya bagus, itu adalah yang terbaik.

Ketika sound hancur lebur tapi kamu tetap berusaha main dengan baik, itulah yang terbaik karena yang lebih buruk adalah ketika sound hancur lebur dan kamu jadi mutung karena merasa permainan bagusmu tak dilayani dengan baik oleh sound system. Kalau sudah begini kamu sebenarnya ngapain, melayani atau dilayani?

Keputusan yang kuambil ini kupertahankan hingga akhir. Aleluia Sing To Jesus menjadi lagu terakhir dan setelah semua tempik sorak berakhir, aku mengemas gitar lalu mohon pamit.

Para anggota koor dan musisi saling menyelamatiku. Mereka secara khusus juga mengucapkan terima kasih kepadaku karena meskipun sudah pindah rumah tapi aku masih tetap mau datang menempuh jarak 45 menit perjalanan mobil untuk melayani lengkap dengan beberapa kali latihan sebelum acara.

Di atas mobil, Joyce menghiburku. Ia tahu aku sedang berusaha kuat meski sejatinya aku ambyar karena masalah sound yang terjadi barusan.

Odilia dan Elodia juga meyakinkan bahwa permainan papanya tadi bagus meskipun aku tahu mereka sejatinya sedang membesarkan hatiku saja karena mereka sebenarnya tak bisa mendengar karena mereka duduk jauh di belakang.

Malam kian temaram, kami menikmati perjalanan pulang dan tiba-tiba aku membayangkan Yesus.

Dia Anak Allah, datang sebagai manusia. Lahir di kandang domba, matipun tak kalah hina, digantung di atas kayu salib bersama dua penjahat di kanan-kirinya. Tapi semuanya itu tak mengurangi kemuliaanNya dan niatNya untuk memberikan yang terbaik bagi Bapa yang mengutusNya.

Selamat Paskah!
Kristus bangkit, kita dimenangkan!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.