
Kira-kira sepuluh tahun silam aku pernah punya keinginan unik nan nyentrik; membuat film bokep dengan musik latarnya adalah lagu Making Love Out of Nothing At All!
Gila, bukan?
Entah kenapa bisa terbesit ide segila itu dulu tapi yang jelas cuma ada dua kemungkinan penyebabnya, aku yang kebanyakan menonton bokep, atau aku yang terlalu sering memutar lagu Making Love Out of Nothing at All milik duo Air Supply itu!
Dan kegilaan itu tergali kembali kamis malam lalu!
Konser Air Supply dengan iringan Sydney Symphony di gedung yang menjadi land mark kota Sydney, Sydney Opera House berlangsung fantastis. Di gedung yang setiap pagi dan sore kulewati dan strukturnya mengingatkanku pada Keong Mas, TMII itu, duo Graham Russell dan Russell Hitchcock selama nyaris dua jam sejak pukul 08.10 malam benar-benar memuaskan kerinduan lebih dari 5000 penonton yang hadir termasuk aku, istriku, Irna, Jaya dan Paul temanku.
Usia yang nyaris 60 tahun tak menghalangi duo Australia – Inggris itu untuk tampil memukau.
Graham Russell yang tinggi besar itu ya masih lincah untuk bergoyang mengikuti irama lagu sambil memainkan gitar dan terus bernyanyi sedangkan si Russell yang memproduksi suara-suara melengking dalam setiap lagu Air Supply itu sama sekali tak pernah kedodoran ketika menanjaki tangga nada yang meninggi. Lihat saja pada lagu Power of Love, Making Love ataupun All Out of Love, kalau tak salah hitung lebih dari tiga kali ia melakukan overtune dan suaranya tetap lempeng-lempeng saja!

Tentang jalannya konser itu sendiri, kalau boleh menyebutnya aku lebih memilih pertunjukan semalam sebagai konser cinta.
Tak hanya karena 6 dari total 16 lagu yang dibawakan memuat kata “love” dalam tiap judulnya tapi lebih karena keberhasilan Russell dan Graham menghilangkan sekat antara mereka dengan penonton.
Mereka tak jarang turun ke panggung, melayani permintaan tanda tangan, dipeluk sana-sini serta difoto dengan berpuluh-puluh orang sementara sebelah tangannya tetap menggenggam mike dan terus bernyanyi. Ini adalah pertama kalinya aku melihat ada artis yang rela melakukan hal-hal seperti itu sembari terus menjalankan konser. Atau mungkin juga karena venue acara yg begitu mendukung, Opera House kan memang tak besar-besar amat sehingga memungkinkan Air Supply dapat “merangkul” erat audiense nya dalam senyum, kata-kata serta lagu.
Belum lagi kesan “cinta” yang didapat dari penampilan Sydney Symphony yang mengiringi Air Supply.
Benar-benar tak bisa dipandang enteng!
Mereka bukan pelengkap penderita tapi lebih pada memberi tambahan arti dan greget pada setiap lagu romantis yang dibawakan.
Memang tak semua lagu dipenuhi dengan iringan orchestra (ah jadi ingat Metallica dengan SF Orchestra-nya) tapi kalau boleh kubilang adonan musiknya pada setiap “titik” yang “di-orkestra-i” adalah just right.
Dari keseluruhan lagu, jelas aku mengidolakan Making Love… tapi setelahnya aku menjagokan Power of Love.
Aku cukup terkaget-kaget ketika tanpa intro yang berlebihan tiba-tiba Russell menyanyikan bait pertama lagu yang ngetop awal dekade 90-an itu. Namun sayangnya, meski ini sangat pribadi sekali, tapi bagiku Russell tetap tidak bisa lepas dari bayangan Celine Dion yang membuat tenar lagu itu. Cengkok-cengkoknya, tak terbuang jauh dari perempuan Perancis yang beberapa lagu lawasnya adalah theme song romantika cintaku dulu itu.
Dan satu lagi yang cukup membedakan tentu saja ketika pada bagian reffrein, Russell mengganti lirik bukan lagi “Cause i am your lady and you are my man” tapi “Cause you are my lady, and i am your man..”
Arggghhhh, berasa jadi pengen muda lagi! Hahahahaha….
River, lagu beraroma akustik ballad yang dibawakan Graham sendirian di atas panggung juga menjadi penutup fase pertama konser yang cukup menarik.
Gitaris kidal ini memainkan lagu yang terinspirasi kota Santiago (Peru) ini dengan sangat sunyi.
Sunyi? Ya sunyi! Aku menyebutnya demikian karena ia berhasil membuat penonton tak bergeming, terkatup dan menikmati petikan gitar serta suara serak-seraknya, dua hal yang seakan menyeruak dari kesunyian yang terjalin.
Kalaupun ada kekecewaan tentang konser itu, satu-satunya dariku adalah karena mereka tidak menyanyikan Goodbye, Book of Love serta Always, tiga lagu kugiran yang juga sangat … ahh membuatku menerawang kalau diperdengarkannya barangkali…
Tapi penjelasan istriku sepulang dari acara itu cukup memuaskan keingintahuanku kenapa mereka tidak menyanyikan lagu-lagu yang kusebut itu tadi. “Lagu-lagu yang kamu sebut itu kan ngetopnya di Indo. Kalau di sini yang ngetop ya yang dinyanyiin tadi…”
Dan akupun tersadar kembali, oh iya ya…. aku kan memang tidak di Indonesia lagi.
Ya sutra, Goodbye…
Dan inilah list lagu yang mereka bawakan:
Sweet dreams
Even the nights
Just as I am
Little bit of everything
Here I am
Chances
Faith in love
Power of love
The River
(break 20 minutes)
Without you
Two less lonely people in the world
The one that you love
Lost in love
Every woman
Making Love Out of Nothing At All
(encore)
All out of love
Tinggalkan Balasan