Makan vs makan

10 Feb 2018 | Kabar Baik

Hari ini, dalam Kabar Baik yang ditulis Markus, Yesus menjelaskan perlunya seseorang untuk makan.

?Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.? (Markus 8:2-3)

Uniknya, jika kalian cermati, pada bagian pengantar injil, yang dijadikan sebagai bait adalah apa yang dikatakan Yesus saat dicobai setan di padang gurun, saat Ia berpuasa 40 hari lamanya.

Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.? (Matius 4:4)

Yesus mengimbuhkan dimensi baru pada makna makan. Makan tak hanya tentang hal-hal jasmani yang kita santap tiap hari tapi makan juga tentang rohani: firman yang keluar dari mulutNya. Dimensi rohani tentang makna makan diperjelas lagi oleh Yesus seperti ditulis Yohanes. Makanan adalah melakukan kehendak Allah! (Yohanes 4:34)

Melaksanakan kehendak Allah adalah prioritas hidup. Tapi selama hidup, tubuh ini juga memerlukan makanan jasmani! Untuk itu kita bekerja membanting tulang setiap hari. Nah, kalau demikian sibuknya lantas kapan kita bisa melaksanakan kehendak Allah?

Kuncinya menurutku ada pada dua hal, Ketercukupan dan sudut pandang.

Ketercukupan

Makan dan rejeki itu yang penting cukup. Kurang itu salah, berlebihan juga tak tepat.?Jadi, bekerjalah tapi secukupnya.?Keluangan waktu dari bekerja bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal lain yang tak kalah bermanfaatnya bagi hidup.

Sudut pandang

Beberapa kalangan masih menganggap bahwa melaksanakan kehendak Allah hanya identik dengan pelayanan di Gereja, di persekutuan doa dan kelompok-kelompok bina iman saja. Padahal jika kita mau terbuka, salah satu wujud pelaksanaan kehendak Allah itu ya bekerja untuk mencari makan.

Bekerja itu menopang kehidupan dan hidup kita adalah kehendakNya. Salah satu wujud pertanggungan jawab dalam mengelola hidup ya memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, untuk itu kita perlu bekerja.

Jangan takut berdosa untuk bekerja. Lebih baik bekerja dan kita bisa makan sehingga kita bisa melakukan banyak kehendakNya. Takutlah berdosa ketika kamu tak bekerja. Karena kalau untuk melaksanakan kehendak Allah untuk diri sendiri saja malas, apa bisa seseorang giat untuk membantu sesama?

Sydney 10 Februari 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.