Mak ‘Ndhuk

3 Des 2015 | Cetusan

wefie dengan Mak Ndhuk, Maret 2015 silam. Ini barangkali foto pertama tapi yang pasti ini adalah foto terakhirku dengannya.

wefie dengan Mak Ndhuk, Maret 2015 silam.
Ini barangkali foto pertama tapi yang pasti ini adalah foto terakhirku dengannya.

Tahun pertama kepindahanku ke Jogja, 1993, adalah tahun yang berat. Meski sekolah di De Britto yang notabene keren banget, meski semua kebutuhan dicukupi orang tua lewat uang mingguan/bulanan, aku tak serta merta langsung kerasan di kota itu.

Setiap akhir pekan aku memang selalu pulang ke Kebumen karena waktu itu alm. Papa tugas di sana. Tapi pada hari lainnya, hampir seminggu sekali (kadang dua kali) aku pergi ke Klaten yang berjarak sekitar 21km dari Jogja, ke rumah Ibu, demikian aku memanggil Eyangku, untuk bermalam di sana.

Pada saatnya nanti di tulisan ini, kalian akan tahu kenapa aku suka sekali berkunjung ke rumah Ibu di Klaten. Ada banyak hal yang bisa kulakukan di sana. Mulai dari nonton televisi, ngobrol, belajar dengan lebih fokus (meski akhirnya aku sadar itu hanyalah alasanku saja padahal aku lebih tak banyak berlajar di sana!) makan makanan khas Klaten yang ngangenin (tahu kupat, teh jahe panas, nasi lethok, bubur ayam!) dan berkumpul bersama teman-teman masa kecilku karena memang aku menghabiskan masa kecil hingga umur tujuh tahun di rumah Ibu.

Tapi Ibu tidak sendirian.
Sejak Eyang buyut putri meninggal awal 1990an, Ia ditemani seorang ibu, tetangga selisih satu rumah, aku tak tahu nama aslinya tapi sejak dulu ia tak keberatan dipanggil sebagai Mak Ndhuk.

Mak Ndhuk adalah seorang Katolik yang taat. (Kebanyakan mereka yang tinggal di kampungku dulu adalah katolik meski generasi kini banyak pula yang memutuskan meninggalkan iman Katolik dengan alasan nikah!) Perawakannya kurus dan pendek.?Tak pernah sekalipun aku melihatnya mengenakan rok; ia selalu memakai jarik dan stagen serta kebaya. Ia jarang pula mengenakan alas kaki, kalau berjalan cukup kebat dan hobinya nginang, mengunyah daun sirih.

Ia bisa betah berjam-jam mendengarkan wayang dari radio yang diputar oleh Ibu semalam-malaman (sesuatu yang selalu membuatku menutup telinga dengan bantal karena kalau sudah masuk bagian ?gara-gara?, Ibu membesarkan volume padahal pada bagian itu biasanya suara dalang pun sudah ikutan membesar) dan sesekali ikut menonton saluran televisi.

Interaksiku dengan Mak Ndhuk hampir setara dengan interaksiku dengan Ibu. Apalagi karena Ibu sangat aktif dengan kegiatan keagamaan baik di kampung maupun gereja serta sesekali ikut kumpulan arisan sana-sini, waktuku di rumah Klaten lebih banyak bersama Mak Ndhuk.

Sebagai orang yang setia membantu, meski aku enggan menyebutnya pembantu, Mak Ndhuk selalu menawariku segala macam penganan, makan malam ataupun teh dan kopi.

?Dijog mboten teh-e njenengan, Mas Donny? (Tambah lagi tehnya, Mas Donny)?

?Kopine sisan mboten? Tugu Luwak napa neskape? (Sekalian kopinya juga? Tugu Luwak atau Nescafe?)?

?Njenengan ajeng ditumbaske rengginang nopo klethikan liyane? (Kamu mau dibelikan rengginang atau snack lainnya?)?

?Ajeng dhahar tahu kupat nopo.. sengsu? (Mau makan tahu kupat atau tongseng daging anjing)?

Semua ditawarkannya kepadaku dan hingga di sini kuyakin kalian tahu kenapa aku lebih kerasan untuk tinggal di Klaten saat awal-awal masa studiku di Jogja!

Tapi itu bukan hal yang paling membekas dalam memoriku terhadap pribadi Mak Ndhuk.

Ada hal yang sebenarnya agak berat untuk kuceritakan tapi demi Mak Ndhuk, aku rela untuk memberitahukannya pada kalian.

Badanku memang tinggi besar. Aku juga tergolong anak badung dan pantang takut pada orang lain karena bagiku kita sama-sama makan nasi. Tapi aku sangat takut pada makhluk halus!

Entah!
Mungkin karena aku terlalu banyak nonton film, mungkin juga karena aku terlalu sering diberitahu tentang cerita-cerita hantu tapi sepertinya yang paling mungkin adalah karena aku terlalu dalam memasukkan bayangan-bayangan cerita itu ke dalam pikiran dan aku akhirnya ketakutan sendiri!

Nah, karena struktur rumah Klaten adalah rumah kuno yang letak toilet dan kamar mandinya di luar rumah, aku sering ketakutan sendiri kalau harus buang air ke toilet pada malam hari. Terlebih tetangga sebelah rumah adalah rumah kosong yang sangat terkenal cerita-cerita keangkerannya.

Mak Ndhuk lah yang setia menemaniku!
Jam berapapun aku perlu mengakses toilet, ia selalu menyediakan diri. Bahkan sering tengah malam, perutku ?bergejolak? aku lari ke belakang dan Mak Ndhuk mengikutiku dengan terkantuk-kantuk.

Sesekali, selama di dalam toilet, karena ingin men-check apakah Mak Ndhuk masih menungguiku di luar atau tidak, aku memanggil namanya secara berkala.

?Mak??
?Nggih, kula teng mriki. Mbok cepet niki adem? kula ketinggalan wayang niki! (Ya, saya di sini. Cepetan dikit di luar dingin? Aku ketinggalan mengikuti wayang nih!)?

?Mak??
?Nggiiiiihhh? dengan nada panjang.

Lalu ketika pagi hari aku bangun, sekitar jam 5:30 karena aku harus mengejar bus pertama ke Jogja, bubur ayam atau nasi lethok sudah terhidang di meja bersama teh panas manis kesukaanku. Siapa yang menyiapkan? Mak Ndhuk!

Hal itu berlangsung secara bertahun-tahun meski ketika aku makin kerasan di Jogja (dan punya pacar) aku jadi lebih jarang pulang ke Klaten.

Pada 1998, saat Mama, Papa dan Chitra pindah dari Kebumen ke Klaten, demi pengetatan ekonomi, kami tak lagi memerlukan jasa bantuan Mak Ndhuk.

Tapi karena kami bertetangga, setiap kali pulang ke Klaten aku selalu bertemu dengannya.

?Wangsul, Mas Donny? (Pulang, Mas Donny?)? sapanya ketika melihatku pulang entah itu jalan kaki ataupun naik becak.

?Nggih, Mak?, balasku.

Atau ketika pulang larut malam, bersama adiknya Mbak Benik, ia menyapa, ?Wangsul kok ndalu-ndalu tho Mas Donny? Napa njenengan mboten wedi copet? (Pulang kok malam hari, Mas Donny? Apa kamu nggak takut copet?)? karena aku selalu pulang naik bus.

?Mboten wedi, copete sing wedi kaliyan kula! (Saya nggak takut copet. Copetnya yang takut pada saya!)? Hal itu berlangsung hingga akhirnya aku memutuskan pindah ke Australia setelah menikah, 2008.

Terakhir kali aku bertemu dengan Mak Ndhuk pada Maret 2015 silam. Saat itu aku pulang mendadak karena Mama sakit dan aku menemui Mak Ndhuk di beranda rumahnya.

?Wangsul, Mas Donny? (Pulang, Mas Donny?)?
?Nggih, Mak. Tilik Mama?(Iya, Mak. Menjenguk Mama)?

?Sing sabar, Mas Donny?(Sabar ya Mas Donny)?
?Nggih, Mak.?

?Lha niki kula nggih pun mboten iso nopo-nopo, Mas Donny! Mboten iso mlaku, isane mung lungguh ngeten kaliyan turu? Obate nopo nggih Mas? (Aku juga sakit dan nggak bisa ngapa-ngapain lagi, Mas Donny. Nggak bisa jalan, bisanya cuma duduk seperti ini dan tidur. Obatnya apa ya Mas??

Aku trenyuh mendengar keluhnya sekaligus penghiburannya kepadaku untuk sabar terhadap kondisi kesehatan Mama padahal ia sendiri sedang sakit menua.

?Obate doa, Mak. Ndonga mawon.. Nyuwun Gusti Yesus kekuatan.. Niku sing paling penting! (Obatnya doa, Mak. Doa saja? Minta kekuatan pada Tuhan Yesus. Itu yang paling penting)? balasku sambil mengusap-usap punggung tangannya yang keriput dan mengurus.

Di akhir kunjungan aku menyempatkan wefie bersama dengannya lalu dengan adiknya, Mbak Benik.

Sekitar seminggu yang lalu, ketika aku menelpon Mama, seperti biasa aku bertanya apakah Mama sudah menerima komuni hari itu atau belum. Karena Mama juga dalam kondisi sakit, ia mendapatkan dispensasi untuk tidak pergi ke perayaan ekaristi mingguan di gereja. Sebagai gantinya, seorang prodiakon (petugas) gereja mengantar Tubuh Kristus untuk disantap di rumah. Biasanya, selain Mama, hadir juga beberapa orang sakit yang mendapatkan dispensasi di kampung yang memerlukan komuni suci termasuk Mak Ndhuk.

?Wes komuni, Ma? (Sudah komuni, Ma?)?

?Uwis? tapi Mak Ndhuk ora melu. (Sudah tapi tadi Mak Ndhuk nggak ikut)?
?Kok??

?Mak Ndhuk wes ora iso ngapa-ngapa kae… (Mak Ndhuk sudah nggak bisa ngapa-ngapain sekarang)?

?Mungkin mikir Mbak Benik (Mungkin memikirkan Mbak Benik)?
?Mungkin??

Selasa sore yang lalu, melalui Whatsapp, Chitra mengabarkan kalau Mak Ndhuk meninggal dunia. Ia pergi karena sakit tua hanya sekitar dua minggu setelah adiknya, Mbak Benik, meninggal.

Wefie dengan Mbak Benik, adik Mak Ndhuk yang meninggal setengah bulan lebih awal dari Mak Ndhuk.

Wefie dengan Mbak Benik, adik Mak Ndhuk yang meninggal setengah bulan lebih awal dari Mak Ndhuk.

Sepulang kerja hari itu aku menyempatkan mampir ke gereja. Memanjatkan doa dalam hening secara khusus untuk ketenangan jiwa Mak Ndhuk sekaligus rasa syukurku kepada Tuhan telah pernah diberi kesempatan mengalami perjumpaan yang menarik dengannya dulu.

Matur sembah nuwun, Mak Ndhuk untuk semuanya.
Banyak kerabat Tegal Blateran yang selalu mengingatkanku, ?Kamu jangan lupa dan jangan sampai pernah lupa atas jasa Mak Ndhuk, Le!? dan tulisan ini adalah pengingat jika suatu waktu nanti aku lupa sekaligus sebagai bukti bahwa setidaknya hingga kini aku tidak pernah melupakan jasa baikmu kepadaku dulu.

Beristirahatlah dalam kedamaian, Mak. Engkau kini telah bertemu dengan Mbak Benik dan semua leluhur-leluhurmu. Selamat jalan dan sampai jumpa di surga yang abadi suatu saat nanti.

Tulisanku tentang kepergian Mbak Benik, adik Mak Ndhuk, setengah bulan silam kurilis di Facebook Notes di sini.

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. Di kampung memang ada saja tetangga yang membantu kita, walau kadang kita gak tega untuk menolak.

    Balas
  2. Sosok seperti Mak nDuk sudah langka jaman sekarang. Salam hormat buat almarhumah. Keluarga saya juga punya “kepala kerumahtanggan” yg mengurusi banyak hal, menu makan harian, sbg baby sitter, kebersihan rumah, pakaian, makanan buat hewan piaraan d?l. Dulu kami panggil dirumah Yu Nie, karena lalu mengurusi generasi yg baru, menjadi mBah Nie. Mbah Nie kami sekarang sedang sakit karena strook dan beberapa memorinya putus nyambung dan kadang berubah menjadi kekanak-kanan.
    Sebetulnya sudah lama pensiun dan dipensiunbsebagai kepala kerumahtanggan, tetapi jiwa pengabdoannya masih tertanam di keluarga kami.
    Adik kami sekarang yg ‘ngopeni’ , dng memberi suster yg merawat mBah Nie….Terima kasih Anton.

    Terima kasih DV atas ceritanya…. suatu saat aku harus belajar nulis yg enak dibaca dan perlu….

    Balas
  3. selalu menyenangkan kalau membaca tulisan mas don ketika masih di jogja/klaten.
    matur nuwun sudah berbagi ‘rasa’ ke saya. :)

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.