Magnus Magnis

5 Apr 2024 | Cetusan

Meski belum pernah bersua secara fisik dengan Franz Magnis-Suseno, SJ, aku sering menjumpai buah pikirannya di berbagai media. Dan seperti halnya interaksi biasa yang bebas tanpa pretensi, kadang aku setuju, kadang aku menolak buah-buah itu.

Sebagai anak yang tumbuh dalam model pendidikan jesuit, aku mengenal buah pikiran Magnis adalah buah pikiran yang khas. Meski seorang imam, ia tak dibatasi pada ritual keagamaan, dan pembicaraan surga-neraka belaka. Ia punya lapisan lain dalam berbuah, moral dan etika; dua pijakan manusia dalam bersikap dan bertindak terlepas apapun agama dan siapapun tuhannya.

Tentang perjumpaan-perjumpaanku dengan buah pikir Magnis sepuluh tahun belakangan, adalah seperti yang kurangkum berikut:

2014 dan 2019, Pemilu

Apa yang dikatakannya bahwa pemilu adalah cara untuk menghindari yang paling buruk berkuasa jadi peganganku dalam memilih. Menganggap Jokowi lebih baik dari Prabowo, akupun mencoblosnya dua kali! Menyesal? Ah itu urusanku sendiri, tidak ada kaitannya dengan Magnis, tidak pula dengan buah pikirnya.

2015, Hukuman Mati

Tak sampai tiga bulan menjabat, Jokowi menolak pemberian grasi pada beberapa terpidana mati yang akhirnya dieksekusi. Aku tak setuju jenis hukuman itu tak juga Magnis. Melalui tulisannya di Kompas, warga negara Indonesia keturunan Jerman itu mengemukakan pikiran emasnya terkait ide penghapusan hukuman mati “Tuntutan agar kita mencoret  hukuman mati dari hukum pidana kita bukan karena ikut-ikutan luar negeri, melainkan demi harga diri kita sebagai bangsa yang beradab.“

2015, Bintang Mahaputra Utama

Tapi bagai kerupuk kena air hujan, kuatnya kecintaanku pada buah pikir Magnis melempem mendengar dia menerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari Jokowi hanya beberapa bulan sesudahnya, Agustus 2015.

Aku marah betul! Harusnya dia menolak seperti halnya Jokowi menolak memberikan grasi kepada para terpidana mati itu.

Benar bahwa Magnis bilang dia akan tetap kritis meski Jokowi mengalungkan bintang di lehernya tapi come on Magnis!…. Namamu sudah terukir sebagai penerima bintang! :)

2016, Kontroversi Patung Bunda Maria tertinggi di Gua Kerep Semarang

Tak sampai setahun kemudian, aku kembali kecewa pada pikiran Magnis. Ia mengecam pendirian patung Bunda Maria tertinggi di dunia di Gua Kerep Ambarawa, Semarang Jawa Tengah. Magnis mengutarakan bahwa pendirian patung itu adalah hasil perbuatan agamis paling konyol!

Bagiku Magnis berpikir hanya dari benaknya saja dan mengesampingkan banyak hal positif yang muncul karena pendirian patung itu.

Magnis tidak melibatkan dalam pemikirannya bahwa dengan berdirinya patung itu, umat Katolik di Jawa Tengah dan Jogja akan punya simbol yang membuat rasa bangga dalam beridentitas menebal! Secara ekonomi, pun pendirian patung itu akan berimbas positif tak hanya bagi warga Katolik tapi semua warga sekitar lokasi karena banyaknya wisatawan yang berkunjung ke sana!

2022-2023, Kasus Ferdi Sambo

Ketika Tanah Air digegerkan kasus Ferdy Sambo, tiba-tiba Magnis muncul sebagai ahli yang dihadirkan tim penasihat hukum Richard Eliezer, orang yang didakwa membunuh Brigadir Joshua. Buah pikiran Magnis terurai begitu cerah di persidangan dan menurutku ada andilnya sehingga Richard yang tak lain adalah ajudan Ferdy seperti halnya Joshua akhirnya dihukum paling ringan sementara Ferdy dijhatuhi hukuman mati. Beberapa bulan kemudian, Sambo diperingan hukumannya menjadi seumur hidup. Kurasa Magnis akan senang dengan pengurangan ini karena ia toh tidak setuju juga dengan praktek hukuman mati.

2023-2024, Cawe-cawe Politik Jokowi

Ketika cawe-cawe politik Jokowi berhasil mengganti citra baiknya selama sembilan tahun belakangan, Magnis muncul melalu buah-buah pikirannya yang segar. Ia kembali menyorongkan etika dan moral untuk menilai keputusan kontroversial MK yang digunakan Gibran untuk mencalonkan diri jadi cawapres pasangan Prabowo Subianto.

Dan yang paling baru, sekali lagi buah pikirannya bagaikan kebatan sayap merak nan indah di sidang MK terkait gugatan pelaksanaan dan hasil Pilpres beberapa hari lalu. 

Sesuatu yang lantas membuat pribadinya disudutkan oleh banyak orang termasuk umat Katolik sendiri dengan menganggap bahwa Magnis, imam yang harusnya dihormati itu telah berubah menjadi buzzer yang partisan. 


Aku menyayangkan perundungan itu!
Aku menghormati Magnis sebagai pribadi meski aku kadang tak setuju dengan buah-buah pikirannya. 

Bagiku, Magnis dengan kecerdasan, kesetiaan dan ketulusannya adalah sosok yang harus dihormati. Saking besarnya rasa hormatku, aku tak ingin memanggilnya “romo” karena bagiku panggilan itu memerangkapnya. Maka dari itu sejak awal tulisan ini aku tak memanggilnya Romo Magnis.

Jika ada waktu dan konteks untuk menulis kembali tentang Magnis, aku sedang berpikir untuk memberinya jabatan baru baginya, Magnus. Magnus dalam Bahasa Latin berarti “yang terbesar”. Magnus Magnis! 

Berkah Dalem!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.