Ma, setahun setelah kepulanganmu…

7 Mar 2017 | Cetusan

Ma, ketika aku memejamkan mata di Gereja siang tadi, sesaat sebelum perayaan ekaristi dimulai, aku nginjen* keberadaanmu…

Tepat hari ini, setahun yang lalu kamu berpulang ke haribaan Ilahi.

Entahlah, sejak Papa meninggal 2011 silam, untuk orang-orang yang kucintai, aku tak pernah menyebut peristiwa kematian sebagai kepergian tapi kepulangan karena sejatinya kami yang masih berziarah di dunia ini seperti sedang pergi dolan-dolan sebelum akhirnya pulang ke rumah yang sebenarnya.

Dan bicara dolan-dolan, tiba-tiba aku ingat dulu waktu kecil, kamu selalu mengajakku dolan ke dekat stasiun kereta api Klaten untuk melihat sepur langsiran (penggantian lokomotif untuk rangkaian kereta/penambahan gerbong) sembari menyuapiku makan di sore hari menjelang matahari lindap di ufuk barat.

Biasanya setelah bangun tidur siang kamu segera memandikanku, memberi bedak atau minyak kayu putih, mengenakan pakaian lalu menyisir rambut belah pinggirku. Mengenakan kaos dan celana pendek lantas meletakkanku di atas boncengan sepeda jengki-mu.

Tak lupa kamu mengikat kakiku, “Ben ora keruji sikilmu, Le!” Supaya kakiku tidak masuk ke dalam jeruji roda; kasus yang tampak sepele tapi kerap terjadi pada anak kecil yang diboncengkan dan biasanya berakibat fatal karena anak bisa terjatuh dari boncengan.

Lalu kamu yang juga sudah mandi wangi, menaiki sepeda membawa termos makanan di stang kiri perlahan melewati perempatan Jalan Garuda ke arah kiri melewati kali Jalidin menuju ke stasiun Klaten bersama arus lalu lintas yang meramai di kota nan mungil. Di sana biasanya telah menanti ibu-ibu bersama anak-anaknya yang duduk merumput dan menunggu kereta langsir.

Kereta yang kita tunggu biasanya adalah Senja Utama yang berangkat dari Solo Balapan ke arah Gambir, Jakarta. Di Klaten, mereka menambah dua-tiga gerbong.

Waktu itu aku belum pernah sekalipun pergi ke Jakarta dan kamu juga baru sekali dua ke ibukota.

“Jakarta ki gede, Ma?”
“Gede, Le!”
“Rame?”
“Rame, Le!”

Percakapan-percakapan seperti itu terjadi sembari kamu menyuapiku dengan makanan kesukaanku, nasi putih hangat yang dikepeli (dibentuk bola-bola bulat), diberi sedikit kecap manis dan telor dadar tebal dicampur bawang merah.

Lalu tiba-tiba ada suara ‘jenggleng’ tanda gerbong telah disatukan, petugas stasiun lalu membunyikan peluit, disambut suara lokomotif, kereta berangkat jeg-jeg-jeg-jeg meninggalkanku, kamu dan anak-anak lain bersama ibu mereka masing-masing.

“Dadah, Le… Dadah..” tukas Mama memberiku aba-aba untuk melambaikan tangan ke arah kereta yang mulai melaju dan akupun menurutinya.

“Ma, keretane lewat Kebumen?” tanyaku. Sejak 1980 hingga 1983 aku dan Mama hidup terpisah dari Papa karena ia bekerja di Kebumen dan kami bertemu seminggu sekali di akhir pekan saja.

“Lewat, Le..tapi ora mandheg…,” jawabmu sambil memberesi kotak makan yang kosong karena isinya telah kulahap semuanya.

“Oh berarti ra ketemu Papa yo..,” dan kamu terdiam. Kini kutahu keterdiamanmu waktu itu karena engkau pun menyimpan rindu padanya, pada Papa, pada suamimu.

Lalu kamu mengikat kakiku lagi ke sepeda dan kita berkendara pulang.
Di tengah jalan, biasanya kita mampir ke penjual serabi di ‘Klaten ndeso’ membeli dua-tiga bungkus serabi untukku, untukmu, Eyang buyut dan Eyang Putri / Ibuk dan Mas Kokok juga mbak Yo, kedua adikmu paling kecil yang waktu itu masih duduk di bangku SMP.

Sekembalinya ke rumah, kamu segera mengganti bajuku, mencuci kaki lalu menyiapkan serabi dalam piring kecil bersama teh hangat manis yang kukudap sembari menonton siaran televisi sore hari.

Waktu merambat malam, jam delapan malam kamu mengajakku tidur setelah sebelumnya kita berdoa bersama. Kamu memelukku, mengusap dahi dan rambutku, mencium pipi dan berbisik lembut, “Bobo, Le…”

“He eh, Ma!”
“Suk minggu Papa bali, Ma?”
“Iyo.. kowe pengen dipundhutke opo?”
“Mobil-mobilan…”

Kamu terdiam lalu mendekapku erat dan aku semakin masuk ke dalammu…

Ma, seandainya kau tahu rasa kehilanganku terhadapmu selama setahun terakhir ini, tercampur dengan sesal yang tak kunjung berhenti tentang hal-hal yang seharusnya bisa lebih baik lagi kulakukan terhadapmu saat kamu masih ada… inginku lari ke pangkuanmu, didekap erat dalam rengkuhmu sebagai anak dari seorang ibu yang telah mengorbankan hal-hal terbaik sebaik-baiknya, termasuk mengorbankan masa remajamu yang meski jika mau, engkau bisa saja menghilangkan aku sejak masih berupa tunas yang ada di dalam perutmu dulu.

Ma, ketika aku memejamkan mata di Gereja tadi siang, sesaat sebelum perayaan ekaristi dimulai, aku nginjen keberadaanmu dan kurasai engkau telah damai bersama Papa di rumah Bapa.

*nginjen (jw): melongok

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.