Lustrum De Britto, Sebuah Kisah Klasik untuk Masa Depan

25 Agu 2008 | Aku

DeBritto-01

Sejak lama aku sudah beranggapan bahwa hari yang terbaik sekaligus terindah adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari dimana aku akan di-recall, dipanggil untuk kembali padaNya.
Di bawah tingkatan dua hari itu, ada beberapa hari terbaik yang sudah, sedang dan akan kurasakan seperti misalnya hari pernikahan dan hari kelahiran anak (jika dianugerahi Tuhan tentunya).
Sedikit dibawahnya lagi, adalah apa yang kurasakan pada hari sabtu (23/8) yang lalu.

DeBritto-02
Ada dua hal penting yang terjadi pada sabtu lalu sehingga bisa kubilang bahwa hari itu adalah salah satu hari terbaik bagiku.
Yang pertama, syarat-syarat yudisium dari kampus telah kudapat semuanya, hal ini menandakan aku bisa lulus dan wisuda pada jadwal yang telah kurancang sebelumnya,
dan yang kedua adalah ikut sertanya aku ke rangkaian acara Lustrum XII SMA Kolese De Britto Yogyakarta, sebuah sekolah menengah atas terkemuka di Yogyakarta yang merupakan almamaterku.

Secara harafiah, kedua hal itu barangkali akan terasa biasa-biasa saja, atau kalaupun mau dipandang hebat maka kehebatan itu akan timbul dari masing-masingnya.
Akan tetapi, aku sebagai pribadi yang merasakan bagaimana beratnya jalan untuk meraih gelar sarjana (S1) setelah tertunda selama 8 tahun dengan total waktu pendidikan adalah 12 tahun,
serta bagaimana gemblengan yang pernah kurasakan di SMA Kolese De Britto Yogyakarta sehingga mampu menempaku menjadi pribadi yang seperti sekarang ini, sungguh kedua hal itu sangat terkait.
Keterkaitannya adalah pada perkara semangat. Semangat untuk melawan persoalan studi yang pada akhirnya menjadi pemenang.

Maka, kepergianku ke acara Lustrum tepat setelah pulang dari kampus kemarin adalah seperti seorang anak yang membawa oleh-oleh seikat buah durian terbaik hasil panen lalu membawanya
pulang ke rumah orang tuanya untuk menunjukkan “Look, Ma! Ini adalah buah panenan yang kuhasilkan dari gemblenganmu selama ini walau agak sedikit terlambat!”
Aku pulang ke De Britto dengan membawa apa yang terbaik yang dapat kuselesaikan dengan berdarah-darah, sempoyongan bahkan nyaris terjerembab namun pada akhirnya aku berhasil.

Acara lustrum menyambut ulang tahun intan (60 tahun) SMA Kolese De Britto sendiri dimulai sejak pukul 09.00 WIB ditandai dengan penyelenggaraan ekaristi kudus dipimpin langsung
oleh Bapa Uskup Agung Ignatius Suharyo serta beberapa pastor yang merupakan alumni De Britto. Karena ekaristinya berlangsung secara besar-besaran yang melibatkan banyak imam dan umat,
maka pelaksanaannya pun diadakan di lapangan sepakbola SMA Kolese De britto dengan membangun masing-masing tiga tenda besar. Satu tenda terbesar untuk altar dan tempat duduk para imam,
sementara dua lainnya menjadi peneduh bagi umat yang duduk di atas kursi lipat.

Acara ini sendiri tak kuikuti karena pada jam yang sama, aku sedang berjuang mondar-mandir ke sana kemari untuk mencari tanda tangan dosen, membuat surat ini dan itu untuk syarat-syarat
yudisium itu tadi. Aku baru datang ke De Britto sekitar pukul 10.30 WIB, pada saat ekaristi menjelang usai, pada saat mars SMA Kolese De Britto yang legendaris itu sedang dinyanyikan.

Hatiku terasa berdebam-debam ketika mendengar dan menyanyikan lagu itu.
Tangan kanan terkepal ke dada kiri, tepat di atas jantung, sebuah sikap standar yang selalu menjadi kebanggaan kami ketika menyanyikan lagu tersebut sejak dulu.

Akulah putra SMA De Britto gagahlah cita-citaku
Murni sejati jiwaku, jujur semangat hatiku
Itulah rencana hidupku, itulah tujuan niatku
agar dapat menuang tenagaku bagi tuhan dan bangsaku

Ayolah putra SMA De Britto kuatkanlah dukunganmu
selalu tetap bersatu dengan semua kawanmu
meskipun terpencar hidupmu di kelak kemudian waktu
ingat selalu di dalam hatimu, ialah de britto contohmu.

Usai ekaristi, acara berikutnya adalah peresmian patung St Yohanes De Britto, santo pelindung sekolah, di halaman kelas tiga, di bawah pohon beringin nan rindang.
Para alumni pun berbondong-bondong menuju pelataran itu, melewati kelas-kelas yang dulu pernah kami pakai untuk menimba ilmu, menempa kepribadian dengan kualitas pendidikan khas
Jesuit yang berat, keras tapi hasilnya mengagumkan ini.

Seusai patung yang terbuat dari logam dan menjulang menghadap ke arah barat itu diresmikan, para alumni disuguhi pertunjukan gamelan yang dimainkan oleh para guru.
Aku sempat begitu terharu melihat pertunjukan ini. Satu per satu wajah mereka kukenali sebagai orang-orang yang begitu berjasa bagiku.
Mereka, para guru itu, barangkali tak selalu kuingat sepanjang hari meski ilmu-ilmu yang mereka tularkan sejak dulu itu selalu kupakai setiap saat.
Melihat wajah-wajah mereka yang menua, aku begitu terperas perasaan … Betapa dunia dan manusia-manusia yang semakin menua, meski pada sebuah kaca film yang menutup jendela ruang
tak jauh dari panggung gamelan pun kudapati melalui cerminannya, diriku juga telah menua, ternyata…

Gamelan itu hanyalah jeda. Sementara para alumni yang lain sibuk berfoto-foto, beramah-tamah dengan teman-teman seangkatannya yang lain, panitia lustrum menyiapkan sebuah
sarasehan di Aula SMA Kolese De Britto dengan pembicara adalah Dr J. Kristiadi, politikus dan peneliti senior dari CSIS yang merupakan alumni De Britto tahun 1967 itu.
Acara sarasehan itu sebenarnya tak begitu banyak diminati. Salah satu alumni yang kutemui dan kukenal dekat berujar “Males aku di dalam… Pusing ngurus politik terus!”
Padahal ia juga adalah politikus negeri ini yang juga lulusan De Britto tapi dengan alasan khusus lebih baik tak kusebutkan namanya di sini.

Konsentrasi massa alumni yang semula terpusat di lapangan sekitar patung St Yohanes De Britto yang baru dipugar pun perlahan-lahan mulai berpindah ke bangunan kantin di dekat lapangan
sepakbola. Di sini para alumni duduk berkelompok-kelompok. Kebanyakan berkumpul berdasarkan tahun kelulusan, namun bagi yang tak terlampau banyak, mereka pun merger jadi satu dengan lulusan
dari tahun-tahun yang lain yang tak terlalu berjauhan selisihnya.
Sambil menikmati bakso Pak Man, es Pak Bob, nasi goreng Mboke yang dulu sering kami gabrul, obrolan pun meluncur ke sana kemari hingga tak terasa, waktu telah sampai jam 2 siang.
Acara sesi pertama pun usai. Para alumni berangsur-angsur pulang untuk nanti malam kembali berkumpul dalam malam andrawinan, malam pentas seni, dan temu kangen sekaligus penutupan rangkaian
acara lustrum kali ini.

DeBritto-03
Malam harinya, lapangan sepakbola SMA Kolese De Britto kembali dipenuhi para alumni dan siswa menjelang pukul 19.00 WIB.
Beberapa kedai makanan terbangun di pinggiran lapangan sepakbola. Kebanyakan berbahan baku B1 (daging anjing) dan B2 (daging babi) meski juga ada makanan-makanan yang masuk dalam kategori
“common sense” seperti sate kambing, soto kudus dan rawon. Kupikir ini adalah jalan tengah terbaik untuk memberikan khasanah kuliner yang lengkap dan beragam mengingat juga ada begitu banyak
latar belakang yang ada di De Britto.

Meski menganut sistem pendidikan Jesuit yang Katolik, SMA Kolese De britto adalah sekolah yang sangat plural.
Ada banyak siswanya yang beragama lain dari Katolik seperti Islam, Kristen Protestan, Budha dan Hindu. Kami dan mereka, hidup berbaur dalam kerukunan yang sesungguhnya tanpa harus memaksakan,
iri dan dengki terhadap keyakinan lainnya. Bahkan sebagai tambahan informasi, presiden Alumni De Britto Nasional pun saat ini dijabat oleh alumni yang seorang muslim keturunan Padang,
Bp Datuk Sweida Zulalhamsyah, lulusan angkatan 1973.
Pemandangan yang menyejukkan, bukan ?

Acara pentas seni malam itu dipandu oleh dua MC yang salah satunya adalah A. Susilo, yang lebih dikenal sebagai “Den Baguse Ngarso” tokoh yang begitu ngetop dulu bersama Theater Gandrik-nya.
Guyonan-guyonan dan banyolan khas De Britto membahana lengkap dengan pisuhan-pisuhan khas-nya.
Lalu bermacam-macam atraksi seni ditampilkan mulai dari tari barongsai, tari tradisi jawa, hingga sexy dancer yang menurut saya yang mulai menua ini kok agak “nggak pada tempatnya” :)
Sementara di pinggir-pinggir lapangan, para alumni tetap bergerombol sendiri-sendiri dan lebur asyik dalam obrolannya masing-masing ditemani anak, istri dengan mangkuk-mangkuk makanan di tangannya.

Acara usai pukul 23.00 WIB ditutup dengan pesta kembang api yang indah.
Usai sudah pesta sehari yang kembali mendekatkan jiwa dan hati para alumni dengan SMA Kolese De Britto, alamater nan gagah perkasa yang tak hanya memberikan asupan gizi pendidikan formal
saja, namun lebih dari itu, telah ikut membesarkan biji sesawi yang tertanam dalam hati yang berkeyakinan bahwa hidup ini tidak akan pernah berarti jika tidak dipersembahkan untuk
sesama demi kemuliaan Allah yang lebih besar, Ad Maiorem Dei Gloriam.

Kami pun berpisah satu per satu. Tak ada airmata, bukan karena kami lelaki semua.
Tapi karena kami yakin bahwa keindahan malam ini adalah bekal untuk dapat menjalani kehidupan di depan dengan lebih kuat lagi.
Perpisahan malam itu justru memberi makna baru seperti halnya sebuah kisah klasik untuk masa depan*.
Sesuatu yang layak dikenang untuk masa depan yang lebih baik lagi.

Menjelang tidur malam itu, di kamar nan sunyi lagi sepi, tiba-tiba aku terngiang ratusan hingga seribu suara yang berpadu menyanyikan Mars De Britto pagi tadi.
“Meskipun terpencar hidupmu, dikelak kemudian waktu, ingat selalu di dalam hatimu, ialah De Britto, contohmu”

Ah, thanks god untuk semuanya, begitu indah, teramat indah.

Kumpulan foto rangkaian acara lustrum dapat anda nikmati di sini.

Ket:
* : Diambil dari judul album kedua Sheila on 7.

Sebarluaskan!

28 Komentar

  1. mwahahahhahahahahhahahahaha xD
    eh don… sengsunya enak banget yah:D
    rugi aku makan babi rica sama babi kecap kalo tau sengsunya seenak itu kekekekeke.
    eh iya… sori aku pulangnya rada sore, kurang tidur + waktu kumpul sama anak2 aku dah terhantam sedikit alkohol nan membuatku menderita excessive happiness stadium menengah xD
    oh ya lucu yah sekarang ada patung di halaman kelas 3. belum sempet poto2 sama patungnya… cuma ya sudahlah…
    rasanya koq ga ada yang baru dari debritto kecuali ada pondok2 di ujung lapangan bola yang masi belum jelas kegunaannya apa :p

    Balas
  2. eh baru tahu don, kamu 2-4 sama 3 ipa 1 to? kekekkeke podho rak an XD

    Balas
  3. Wow!! Mas Donny penggemar Sheila on 7 yah? Wah, kereeen…
    Dan Kumpulan foto rangkaian acara lustrum dapat anda nikmati di sini itu? Maksudnya anda nikmati? Gimana, Mas? Kita? Menikmati foto=foto itu?

    Balas
  4. Wah, selamat Don. Pasti menyenangkan bisa bertemu kawan-kawan satu almamater. Moment ini pasti akan kamu ingat terus… :)

    Balas
  5. @LA: Saya memang penggemar Sheila on 7, dan saya bangga mengakuinya :)

    Balas
  6. Wahhh… moment yang asyik tuh bisa kumpul sama temen… dan bakal diwisuda!
    Sukses mas DV

    Balas
  7. Thanks Don atas sharingnya. Cukup mengobati luka tidak bisa ikut ke Lustrum. Eh, emang presiden Alumni De Britto Nasional keturunan Padang ya??
    Teruskan penggunaan judul2 So7, soalnya saya juga fans So7..hahaha..Mungkin ada juga nanti judul2nya seperti Sephia, Tunjuk Satu Bintang, Kutunggu Kau di Jakarta, dlsbnya. Manteb tenan…lebih manteb kalau minta Sakti, nge-gitar di acara2 JB.

    Balas
  8. Selamat mas DV, one step for future success! :D

    Balas
  9. salut semangatnya .. selamat deh mas

    Balas
  10. Terimakasih blognya mas.
    Ternyata tdk cuman saya yang merasa sexy dancer bukan pada tempatnya. Mending yang puncak ya tariannya sexy dancer yang cowok2 itu… lucu dan rasanya lebih pantes dijadikan penutup… Mosok nutup koq saru… padahal bar pidatone Romo lho.
    Irwan/ JB91-3F2

    Balas
  11. hmm… kebayang sih… selalu ada kebanggaan pernah sekolah di sekolah katolik … rasanya beda…. secara gw juga almamaternya marsudirini ….dr dulu gaungnya de britto emang udah nyaring di kalangan sekolah2 katolik don…apalagi buat kita2 yg perempuan kayanya bangga klo punya temen cowok dr canisius atau PL hahaha sayang gw kenal lu telat yaa…tp jgn ge er aah…;-)

    Balas
  12. Terimakasih blognya mas.
    Ternyata tdk cuman saya yang merasa sexy dancer bukan pada tempatnya. Mending yang puncak ya tariannya sexy dancer yang cowok2 itu… lucu dan rasanya lebih pantes dijadikan penutup… Mosok nutup koq saru… padahal bar pidatone Romo lho.
    Irwan/ JB91-3F2

    Balas
  13. Lustrumx gak disiarin di tipi ya Don? Wah, jadi nyesel gak bisa ikutan. Gak bisa menikmati sensasinya. Tapi lebih nyesel lagi kalo ikutan kali ya? Berat di ongkos. Jauh nian Jogja sekarang.

    Balas
  14. Di lustrum ada band yg nyokelat gak Don? Maksudq band yg mengaransemen ulang lagu Mars JB jadi lebih heroik like the way cokelat do to lagu2 kemerdekaan.

    Balas
    • Ora ono jhe, Bon!
      Sing ono ki malah band kafe sing main pas encore pesta. Rodo wagu sakjane mengingat De Britto yang kuyakin yo nduwe band lokal sing luwih nyentrik.
      Wagu lah pokokmen nek soal band wingi kuwi …

      Balas
  15. hwasyuu tenan.. karena suatu hal, saya batal datang ke acara ini.. :(
    hasilnya, beberapa teman seangkatan saya berkirim sms pisuhan.. hehehe
    *tangan mengepal di dada dan bernyanyi..*
    Akulah putra SMA De Britto gagahlah cita-citaku
    Murni sejati jiwaku, jujur semangat hatiku
    Itulah rencana hidupku, itulah tujuan niatku
    agar dapat menuang tenagaku bagi tuhan dan bangsaku
    Ayolah putra SMA De Britto kuatkanlah dukunganmu
    selalu tetap bersatu dengan semua kawanmu
    meskipun terpencar hidupmu di kelak kemudian waktu
    ingat selalu di dalam hatimu, ialah de britto contohmu.

    Balas
    • Welah.. kok iso ra mangkat, padahal njenengan kan admin Lustrum on FaceBook tho? Ndagel tenan nek iki…

      Balas
  16. Woh, penggemar 507 juga ya..
    Album barunya kok masih blum dirilis juga ya, padahal “Betapa”nya udah diputer di mana-mana.
    *kok malah jd ngomongin 507?*
    Anyway, salam kenal Mas :)
    Aku dulu di SMA 6, “kawan lama” JB. Heheheh

    Balas
    • Album barunya baru release setelah Lebaran, katanya. Ini kan memang taktik terbaru dari pelaku industri musik supaya pencegahan bisa diredam sedikit dan lagunya tetap bisa muncul di media. Mungkin ini juga salah satu uji kelayakan pasar terhadap album yang hendak dikeluarkan.. Mungkin …

      Balas
  17. waktu saya baca de britto, jadi ingat teman yang asalnya dr de britto, tapi karena pindah ke jkt dia lanjut ke CC. bersama PL sekolah khusus laki2 semua ya. Saya bisa merasakan betapa bangganya Anda pergi ke reuni itu dengan beban yang telah tuntas. Selamat untuk perjuangan selama 12 tahun.
    Saya juga kangen dengan suasana dan ingin sekali hadir di acara reuni besar2an Tarki, namun apa daya jauh sekali.
    Salam kenal dan ijinkan saya berkunjung lagi ya.
    tabik
    EM

    Balas
  18. kolose de britto, hmmm, sepanjang yang saya baca di berbagai berita, memiliki visi dan misi pendidikan yang berusaha utk memanusiakan manusia secara utuh, mas donny. mudah2an keberadaannya tetep mampu menjadi “ikon” sebuah peradaban yang berbudaya ketika sebagian besar dunia persekolahan kita gagal membendung arus industrilisasi dan kapitalisasi…. selamat atas lustrumnya, mas donny….

    Balas
    • Terimakasih, Pak.
      Betul kata Bapak, SMA Kolese De Britto memang memiliki visi yang memanusiakan manusia serta mengajarkan kepedulian bagi sesama demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.
      Hal ini dituangkan dalam dua motto yang saling terkait, Man for Others dan Ad Maiorem Dei Gloriam.

      Balas
  19. Wahh.. terimakasih bro atas tulisannya.. Seperti pingin kembali kemasa-masa urakan dulu di JB. Sayang sy ngga bisa hadir dalam acara kebersamaan tsb.. :(
    Ngomong2, si Sakti Sheila On 7 msh ingat ngga ya dulu kala blom ngetop dapat dukungan dari kru Helemann JB pas manggung dr festival ke festival. That a nice memory..

    Balas
    • Hahaha, satu hal yang aku ingat waktu terakhir ketemu si Shakti, about 7 years ago, dia masih ingat sekali kenangan-kenangan waktu di JB dulu.

      Balas
  20. oh ternyata cah JB toh…
    selamat yah buat wisudanya…. semoga tambah sukses deh di perjalanan berikutnya ;)
    ps. blognya keren, pake apa? wordpresskah? boleh minta themesnya? ;)

    Balas
    • Hi Ayu, penggemar anak-anak JB ya hahaha..:)
      Blog ini mbikin sendiri, nggak pake wordpress jadi nggak ada theme-theme nya..:)

      Balas
  21. eyaampyun Om.. Sampeyan kuliah sampek 12 tahun?
    Berarti umure saiki wes piro? *ditapuk*
    Tahun 98 sepupuku lulus JB.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.