
Kupikir, jika benar gagal aksesnya halaman twitter @LunMay adalah karena dihapus oleh pemiliknya, Luna Maya, maka hal ini adalah tindakan yang paling tepat yang bisa dilakukan di saat-saat ini.
Meski barangkali hal itu tak bisa mengurungkan niat PWI Jaya seksi infotaintment untuk membawa kasus ‘komentar pedas’ tentang infotaintment dari akun twitter tersebut ke ranah hukum, namun setidaknya hal itu membuktikan bahwa Luna Maya punya niat untuk meminta maaf terhadap apa yang telah ia katakan dan semoga memang demikian.
Akan tetapi, terlepas dari itu semua, secara pribadi aku berkomentar bahwa tindakan untuk mem-posting tulisan:
“Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!…”
pada Selasa (15/12/2009) di Twitter/LunMay adalah sesuatu yang tak bisa dibenarkan sama sekali.
Adalah benar bahwa Luna Maya, kamu, aku dan kita adalah manusia biasa yang boleh jengkel terhadap infotaintment atau terhadap apa saja yang memang dirasa menjengkelkan. Tapi mengutarakannya dalam kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan terlebih di ranah publik, meski bisa menyelesaikan kejengkelan tapi di satu sisi justru akan membuka peluang masalah baru yang bisa dimunculkan oleh pihak lain yang terkait.
Kasus ini, dan demikian juga halnya dengan banyak kasus yang mempersengketakan statement seseorang/kelompok di dunia maya semoga bisa menjadi guru terbaik bagi kita untuk menyadari bahwa bagaimanapun juga, meski kita memiliki kebebasan untuk berekspresi dan berpendapat, namun lebih daripada itu, kenyataan bahwa kebebasan tersebut berkelindan dengan kebebasan berekspresi dan berpendapat orang lain, adalah sesuatu yang harus dihadapi.
Bebas yang bertanggung jawab lantas menjadi kunci bagi setiap orang untuk tetap eksis di dunia 2.0 ini. Tiada lain!
Selamat berakhir pekan!
Tinggalkan Balasan