Lima cara untuk menasihati tanpa bikin sakit ati!

16 Agu 2017 | Kabar Baik

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.”
(Matius 18:15)

Masihkah relevan saat ini untuk melihat dosa saudara dan menasihatinya meski itu dilakukan empat mata? Tentu masih sebagaimana halnya beragama pun juga demikian, masih relevan untuk dilakukan hingga akhir jaman.

Namun pada prakteknya banyak kekhawatiran muncul terkait hal tersebut. Kita justru cenderung dimusuhi, dijauhi bahkan tak jarang kita diserang balik , “Enak aja nuduh dan menghakimi orang? Berkacalah dulu pada dirimu dan hidupmu? Yakin kamu sudah bersih dari dosa?”

Waduh gimana kalau demikian? Serba salah ya?
Pandanganku begini, tak ada yang salah dari apa yang diajarkan Yesus kepada kita bukan hanya karena Dia adalah Tuhan tapi juga karena Ia memberikan kita akal budi untuk berpikir serta bimbingan Roh Kudus yang menuntun kita dalam menjalankan ajaranNya itu.

Artinya, meski perkara menasihati itu cara-cara yang diajarkan sejak dua ribu tahun silam, Tuhan pasti memberi arahan bagaimana melakukannya di masa kini.

Apa yang kusampaikan di bawah ini bukan aturan dan pedoman tapi sekadar tips yang sering kulakukan ketika aku merasa terpanggil untuk menasihati saudara. Siapa tahu cocok silakan dipakai, kalau tidak ya nggak papa.

#1 Benar-benar empat mata, jangan ngember!

Yesus menekankan ’empat mata’ berarti hanya antara kamu dan dia. Jangan melibatkan orang lain dan jangan pula jadi ’ember bocor’ yang malah membocorkan bahkan menggosipkan apa yang dilakukan saudaramu itu ke orang-orang lain!

Ingat, Paus Fransiskus pernah berkata bahwa gosip adalah bentuk teror dalam wujud kata-kata.

#2 Jangan menghakimi

Pernah satu waktu aku berdiskusi tentang relevansi menasihati orang di jaman ini dan kawan diskusiku itu menentangku dengan menggunakan argumen begini, “Kita nggak perlu menasihati, ingat apa yang dikatakan Paus Fransiskus, ‘Who am I to judge?'”

Paus Fransiskus tidak salah karena judging/menghakimi memang beda dengan menasihati.

Waktu aku menasihati kawan yang memutuskan untuk tidak mau lagi pergi beribadah ke gereja, dulu aku menghabiskan waktu semalam-malaman di warung angkringan bukan untuk menyatakan bahwa yang dilakukannya itu salah tapi untuk menceritakan betapa aku merasa beruntung dan bersyukur bisa tetap ke gereja.

Lalu ketika subuh menjelang, aku bilang ke kawanku, “Aku ngantuk nih, kamu kuantar pulang dulu aku mau pergi sebentar sesudahnya…” kebetulan kami satu kos-kosan.

“Emangnya mau kemana, Don?”
“Ke gereja ikut misa harian. Ngobrol denganmu malah bikin aku pengen ke gereja.” Aku tak mengajaknya tapi iapun memberanikan diri untuk ikut.

Aku tidak menghakimi, tidak menggurui hanya menunjukkan kepadanya dan ia mencerna petunjuk itu lalu mengikutinya berdasarkan kesadaran dirinya sendiri.

#3 Walk the talk

Salah satu kendala kenapa kita sering ogah menasihati adalah kalau orang yang kita nasihati itu menyerang balik, “Emangnya loe sesuci apa? Emangnya loe udah bersih dari dosa sehingga menasihati gue?”

Sebenarnya kalau dia bilang begitu, dia salah juga karena untuk menasihati kan tak perlu jadi suci dan bersih dulu seperti halnya waktu Yesus mengatakan perintah di atas, Ia tentu sadar bahwa para muridNya juga manusia biasa yang tak lepas dari dosa dan noda, bukan?

Tapi mari berpikir juga dari sisi lainnya bahwa ketika kita menasihati seseorang sejatinya nasihat itu datangnya dari Tuhan dan bukannya tidak mungkin kita akan ikut terkoreksi hidupnya oleh nasihat tersebut.

Misalnya kita menasihati orang untuk tidak nyolong waktu kerja untuk bersocial media misalnya, kita tentu juga mau tidak mau berusaha untuk tidak main Twitter atau Facebook atau iseng-iseng buka Youtube nyari vlog terbaru semata karena kita telah menasihatkan hal-hal tersebut ke orang lain.

Istilah bulenya adalah ‘Walk the talk’, menjalani apa yang kita katakan.

#4 Hormati

Kita sudah menasihati tapi ia tetap ngotot melakukan apa yang kita anjurkan untuk tidak dilakukan? Tetaplah mencintai dan mengasihinya! Kasih, cinta dan perhatian yang kita berikan bukanlah pemakluman atas tindakannya tapi justru sebagai tanda bahwa apa yang kita nasihatkan adalah hal yang benar karena kita orang benar. Orang benar adalah orang yang mengikuti ajaranNya yang salah satunya termasuk mencintai dan mengasihi sesama tanpa terkecuali.

#6 Doakan

Menghormati lahir batin adalah termasuk mendoakannya karena doa itu perkara batin. Tetaplah doakan supaya ia bahagia pada pilihannya dan diberi keteguhan untuk kembali ke jalanNya. Doakan!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.