Lik Jokowi, semoga surat ini membuat mongkok* hatimu

7 Mar 2017 | Cetusan

Pak, Paklik… seminggu setelah kamu melawat kemari, orang-orang Indonesia yang waktu itu datang ke acaramu rata-rata masih susah untuk move on. Mungkin level susah move onnya sama dengan mereka yang sejak 2012 silam datang ke konser NKOTB-BSB dan hingga sekarang masih terus ngomongin hal yang sama.

Yang kuamati dari wall Facebook mereka, semua masih bau ‘Jokowi’ (sesekali nyelip ‘ohak-ahok’ juga sih). Di sana-sini masih diviralkan penggalan-penggalan video kunjunganmu, artikel-artikel yang menyertainya, bahkan ada beberapa yang mengganti foto profil dengan hasil hunting mereka untuk ber-selfie bersamamu. Meski fotonya banyak yang kabur, meski di foto itu pandanganmu tak fokus ke kamera karena sibuk untuk menanggapi mereka yang lain yang juga ingin diperhatikan, ingin masuk lensa bersamamu.

Aku bisa membayangkan gempitanya waktu itu dan memang wajar kalau ketika membuka pidato, kamu mengajukan pertanyaan retorik nan menggelitik, “Dua ribu lima ratus orang? Ini pada mau nonton konser?” karena yang datang, sekitar 2500 orang di Darling Harbour itu memang layaknya jumlah penonton sebuah konser dan kamulah bintang utamanya.

Jokowi

foto diambil dari minutespost.com

Aku memang tak datang ke acara itu, Paklik. Nyuwun ngapunten tapi jadwal akhir pekan bersama keluarga, terutama acaranya anak-anak itu adalah sesuatu yang tak bisa ditinggalkan sama sekali. Mulai dari kursus balet, renang, aku dan istriku sudah terikat komitmen untuk mengantar dan menemani Odilia dan Elodia beraktivitas.

Tapi aku mengikuti kiprahmu.
Aku menyimak penggalan-penggalan video nan menggetarkan serta mengharukan, seorang presiden Republik Indonesia duduk sejajar sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan pimpinan sebuah negara maju bernama Australia. Di sisi lain kulihat kerendahhatianmu (sekaligus kejantananmu) untuk membawa payung sendiri dan tak dibawakan ajudan saat turun dari pesawat, menggandeng Bulik Iriana dan memayungi beliau.

Lalu bagaimana ketika kamu sampai di muka hotel, tak langsung masuk lobby, tapi malah ‘beredar’ menyalami satu per satu rombongan orang-orang Indonesia yang sejak pagi buta sudah menunggu hadirmu.

Jokowi

foto diambil dari kumparan.com

Ada juga yang lebih menggetarkan saat seorang kawanku dengan suara bergetar bercerita betapa kamu, saat ‘konser’ itu tak canggung menyalami satu-per-satu mereka yang berdiri menyambutmu. “Terharu gue, Don! Dia kan presiden, tapi nggak sungkan buat turun dan nyalami satu-per-satu,” begitu kawanku tadi menceritakan.

Ada begitu banyak kesan, Paklik, dan itu wajar karena kamu memang mengesankan. Tapi yang paling ingin kukatakan kepadamu tentang kesanku adalah ketika kamu, dari yang kubaca di media tak meminta kami, para diaspora ini, untuk pulang ke Tanah Air kalau memang tidak ingin. Kamu hanya meminta kami untuk membuka peluang usaha di Tanah Air.

Dan untuk itu, betapa aku bersyukur karena hal itu sudah kulakukan sejak sebelum kamu memintanya, Lik!

Bersama kawan-kawan yang sama-sama pernah menuntut ilmu di SMA Kolese De Britto Yogyakarta, aku membangun PT Jalin Nusa Oceania, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang keuangan dan teknologi sejak tahun lalu. Ini adalah perusahaan kedua yang pernah kudirikan di Tanah Air, yang pertama 17 tahun silam dan masih berdiri dengan tegar meski aku sudah tak berada di bilik pengurusnya.

Dari nama perusahaannya saja, Jalin Nusa Oceania, kalau kamu perhatikan, menuai arti yang tak sederhana yaitu tentang bagaimana mengadakan satu pemufakatan baik untuk keuntungan antara ‘Nusantara’ dengan ‘Oceania’ yang kerap diidentikkan dengan Australia, New Zealand dan sekitarnya. Karena kenyataannya memang begitu, setiap hari aku membagi bahu bersama kawan-kawanku yang mengelola operasional di Kalasan, Jogja sana sementara aku ikut urun rembug dan usaha dari Sydney, Australia.

Dan yang lebih membanggakan lagi, setidaknya untukku, tiga hari setelah kedatanganmu itu, setelah kamu menyerukan para WNI yang tinggal di Australia untuk membuka usaha di Indonesia, aku menjawabnya dengan merilis satu produk terbaru dari perusahaanku tadi, easydoku namanya!

Easydoku adalah benar-benar jawabanku untukmu, Paklik! Sebuah solusi jitu pembayaran online berbagai macam hal di Tanah Air. Mulai dari pembayaran tagihan listrik, air minum, kredit perkakas. Lalu tiket pesawat, tiket kereta hingga pulsa telepon, semua kami layani, Lik.

Yang menariknya lagi, sekaligus yang menjadi pembeda dengan banyak online payment system lainnya, kami mencoba menawarkan easydoku ini ke seluruh penjuru Tanah Air.

Kami tak hanya berfokus di Jawa saja karena Indonesia itu luas adanya. Sama sepertimu yang pernah berikrar untuk membangun Indonesia dari sisi paling timur negeri, demikian juga adanya kami. Penetrasi pasar kami lakukan utamanya di Sulawesi dan Maluku, mungkin sebentar lagi juga Papua dan Nusa Tenggara!

Paklik, melalui easydoku, setidaknya kebanggaanku padamu itu kubuktikan bukan cuma omongan berbusa dan bukan pula hanya supaya mendapatkan foto selfie denganmu saja! Jauh pula dari embel-embel ‘supaya kamu meluluskan ide dwi kewarganegaraan bagi orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri.’ Tidak, Paklik.. jauh panggang dari api, jauh sekali!

Sekian dulu suratku, Paklik. Tapi sebagai penutup surat ini, ijinkan aku untuk mengutarakan sebuah mimpi. Aku menganggap mimpi itu penting, ibarat rumah, mimpi adalah uang muka alias DP. Rumah tanpa DP atau DP 0%/Rp 0,00 itu sama saja dengan kenyataan yang tak diawali dengan mimpi! Hahahahaha….

Aku bermimpi bahwa suatu saat nanti kamu akan kembali ke Sydney. Dalam kunjungan kenegaraanmu itu, saat orang-orang sibuk menyodori tangan untuk bersalaman dan kamera untuk ber-selfie, sambil menanggapi, kamu menanyai mereka, “Terimakasih! Eh kamu kenal Donny?” begitu terus-menerus tanpa henti kepada setiap orang.

Lalu, setelah diberi alamat oleh salah satu dari mereka, Paspampres segera mengantarmu ke rumahku. Rombongan yang nggak pakai ‘nguing-nguing’ masuk ke dalam area, setelah mobil-mobil terparkir, kamu mengetuk pintuku, dan ketika kubukakan, kamu menyodori tangan dan kitapun bersalaman, berpelukan.

Lalu kamu mengeluarkan henpon dan merekam pertemuan kita untuk dijadikan vlog karena kamu kan memang lagi demen-demennya vlogging, kan? Untuk tajuk, kamu memilih sesuatu yang bombastis ‘Berjumpa Supperblogger Indonesia: Donny Verdian’ tapi realistis karena kenyataannya aku memang superblogger indonesia. Dan di awal vlog itu kamu memeluk pundakku erat dan mulai berkata-kata, “Akhirnya saya bertemu dengan Superblogger Indonesia yang juga berjasa membawa easydoku sebagai solusi jitu bertransaksi online di Tanah Air… Donny Verdian.” Matamu kulihat berkaca-kaca…

Paklik, kalau aku hanya bermimpi untuk menjadi orang yang terharu dan tergetar mendengar kiprahmu yang elegan dalam memimpin negeri, apa bedanya aku dengan ratusan juta penduduk Indonesia saat ini karena mereka pun mengelu-elukanmu! Aku punya keinginan yang lebih besar dari itu, sesuatu yang eksepsional! Aku ingin membuatmu terharu, aku ingin membuat bangga dan mongkok atimu dengan keberadaan serta kiprah nyataku, salah satunya melalui easydoku!

Katur sungkem kagem Bulik Iriana,

DV – Superblogger Indonesia

*mongkok (jawa): berbesar hati, puas.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.