
Sepertinya kita memang sudah terlalu biasa menempatkan semuanya dalam kerangka-pikir kompetisi.
Selalu berpikir harus menang dan menghindari kalah dalam segala hal, seakan yang terbaik adalah selalu yang menang dan kekalahan adalah sebuah keburukan yang selamanya akan buruk.
Dulu, tetanggaku pernah kelimpungan karena merasa tersaingi hanya karena ayahku membeli mobil baru.
Iapun lantas mencari utangan sana-sini, melego beberapa mobil lawasnya hanya demi membeli sebuah mobil yang lebih baru dari yang ayah punya, tak mau kalah ceritanya. Tak lama sesudah itu, tetanggaku yang sebelahnya lagi pun tertulari “penyakit” yang sama.
Tapi malangnya, ia tidak didukung oleh faktor ekonomi yang baik. Bermodal rasa “ingin bersaing”, ia hanya sanggup membeli mobil bobrok pengganti motor bututnya. Untuk “menutup” kekurangannya, sebuah “propaganda” dihembuskan kepada anaknya yang sebaya denganku untuk tidak terlalu banyak bergaul denganku dan anak tetanggaku yang kuceritakan sebelumnya dengan alasan karena menurutnya kami adalah kaya dan mereka miskin dan di antara kami ada tebing yang tinggi yang tak terobohkan.
Dua blok groupies di sebuah kota tak jauh dari Jogja dulu pernah terlibat dalam baku hantam hanya karena masalah sepele; band yang satu mengalahkan band yang lainnya dalam festival band tingkat kabupaten. Mereka yang kalah tidak terima dan menganggap yang menang sebenarnya tak pantas juara. Di gerbang stadion, tempat perlombaan itu digelar, “peperangan hidup mati” pun tak terhindarkan lagi. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala heran kenapa mereka bisa seperti itu, tapi yang lebih mengherankan lagi adalah kenapa panitia bisa-bisanya mengadakan ide untuk menyelenggarakan kompetisi musik.
Seni kok dipertandingkan menang-kalahnya, apa layak ?!?
Seorang anak harus merelakan masa depannya untuk beberapa saat dengan ngendon di rumah sakit jiwa, diperbaiki syaraf gilanya.
Ia adalah korban ambisi orang tuanya yang memaksanya untuk belajar tentang Astronomi hanya gara-gara ibunya dulu pengagum Pratiwi Sudharmono, calon astronot pertama Indonesia yang hingga kini ya tetap calon itu.
Baginya, menjadi astronot adalah salah satu kunci sukses untuk memenangi pertarungan kehidupan; menapaki jenjang karir yang bergelimang uang mengalahkan jenjang-jenjang lainnya yang “miskin” uang. Rupanya mental si anak tak siap karena sebenarnya ia lebih mencintai sastra dan filsafat ketimbang tata alam semesta.
Begitulah.
Sayangnya kita semua memang telah berada di putaran yang tak terputus dan sulit diputus yang bernama kompetisi.
Kompetisi diasosiasikan sebagai kehidupan itu sendiri.
Kehidupan lantas diibaratkan sebagai jalanan, masing-masing dari kita dianggap sebagai para pembalap di dalam mobil yang kebat menderu menerjang lawan-lawan lainnya tanpa ampun, pantang kendur.
Tidak bisakah kita nyempal dari semua ini, mengibaratkan diri sebagai seekor lembu betina yang duduk santai melipat lutut di ladang ilalang pinggiran jalan? Menikmati teduhnya pohon besar nan tua, menjemput angin sepoi-sepoi jam dua siang melenakan diri serta mengunyah adonan rumput; memamahbiaknya berulang kali sambil menertawakan kegoblokan demi kegoblokan para pandir bodoh yang beradu cepat di jalanan itu tadi?
Tinggalkan Balasan