Legitimasi

30 Jul 2018 | Kabar Baik

Beberapa ahli Taurat serta orang-orang Farisi datang kepada Yesus dan berkata, ?Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.? (lih. Mat 12:38)

Mengenali sesuatu/seseorang berdasarkan tanda itu manusiawi sekali. Tapi meski demikian, Yesus mengecam orang-orang tersebut.

Kenapa?
Orang-orang itu berpura-pura tak tahu tanda. Ahli Taurat dan kaum Farisi adalah kalangan cerdas cendekia yang menduduki posisi penting dalam kehidupan beragama dan sosial kemasyarakatan Yahudi. Mereka paham bahwa Yesus adalah Anak Allah tapi memilih untuk tak mengakuinya.

Mereka takut legitimasi di mata masyarakat akan tumbang dengan hadirnya Yesus. Sekali saja mereka mengakui keilahianNya, mereka tak lagi dihiraukan atau setidaknya segala kebusukan untuk mementingkan kepentingan pribadi menggunakan dalih agama yang selama ini disembunyikan diungkap Yesus yang memang maha tahu itu!

Legitimasi bagi sebagian besar orang adalah segalanya. Tanpa legitimasi, dunia seolah akan berakhir dan dinding-dinding langit runtuh. Padahal legitimasi yang melekat pada kita sejatinya suatu saat harus dipindahkan ke sosok baru yang akan ?meneruskan perjalanan? selanjutnya.

Padahal hidup ini sebenarnya tak beda dengan perlombaan lari estafet. Setiap tim dalam lomba lari estafet terdiri dari empat pelari. Pelari pertama berlari lalu menyerahkan tongkat estafet ke pelari berikutnya, hingga akhirnya sampai ke pelari keempat.

Pada saat sebuah tim menang, foto pelari keempat yang menyentuh garis finish biasanya yang akan menghiasi headline media hari berikutnya.

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang pura-pura mempertanyakan tanda adalah seperti halnya para pelari pertama hingga ketiga yang tak bisa mengelola ego. Mereka tak mau menyerahkan tongkat estafet atau tak mau lari dengan kecepatan maksimal hanya karena alasan kalaupun menang toh bukan mereka yang muncul di koran.

Belajar soal bagaimana menyerahkan legitimasi kita perlu melongok pada Yohanes Pembaptis. Jika mau, Ia bisa saja mengaku diri sebagia mesias yang diharapkan. Ia juga tak perlu mengakui Yesus dan bisa saja menolak ketika Yesus datang dan minta dibaptis.

Tapi yang terjadi adalah sebaliknya.

Yohanes sekalipun tak pernah menyatakan diri sebagai mesias. Dia malah menganggap diri sebagai suara yang berseru-seru di padang gurun. Padang gurun adalah ruang tanpa dinding yang akan menelan suara sekeras apapun itu lalu bersama angin.

Pada saat Yang Dijanjikan tiba, Yohanes pun rela dan ikhlas. Dari kerelaan dan keikhlasannya lah lantas ia dipandang besar, namanya kita kenang hingga sekarang?

Bagaimana kamu ingin dikenang nantinya?

Sydney, 23 July 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.