Lebur hingga tak tersisa lagi, lebur hingga tak tampak lagi

28 Mar 2018 | Kabar Baik

Dari Kabar Hari ini yang ditulis Matius, aku melihat pribadi Yudas Iskariyot dalam dua keping.

Pengabdi Mamon

Yesus pernah bersabda,

?Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24)

Yudas Iskariyot adalah bukti telak atas kebenaran apa yang disabdakan Tuhan di atas.

Di depan imam-imam kepala yang merencanakan untuk menangkapNya, Yudas ?menawarkan Yesus?, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?? (Matius 26:15).

Yudas adalah pengabdi mamon yang meski barangkali pada awalnya pernah mencoba mengabdi Tuhan tapi pada akhirnya ia menjualNya! Yudas takluk pada tiga puluh keping perak. Semurah itu loyalitasnya, jiwanya?

Kedekatan bukan jaminan keselamatan

Menurut tradisi, dalam perjamuan terakhir, orang yang paling dekat duduk dengan Yesus adalah Yohanes, di sisi kanan dan Yudas Iskariyot di sisi kirinya.

Keduanya memberi contoh yang saling bertolak belakang. Yohanes menemani Ibu Yesus, Maria, hingga ke Golgolta sementara Yudas mengkhianatiNya.

Dekat dengan Tuhan terbukti tidak cukup kuat untuk menyelamatkan meski kedekatan denganNya adalah syarat mula-mula.

Lalu apa yang menjamin keselamatan?

Tidak ada satu kata kerja yang mampu menjamin keselamatan kita karena setiap pekerjaan sebaik dan semulia apapun yang dilakukan oleh kita yang lemah ini tetap berpeluang menimbulkan dosa.

Yang menjamin keselamatan kita adalah Allah sendiri. Mau dilebur denganNya adalah kuncinya.

Lebur, menyediakan apa yang ada dalam diri ini untukNya.

Lebur, merelakan daya diri dan hidup untuk digerakkanNya.

Lebur, hingga tak bisa melihat lagi wajah dan rupa kita sendiri karena yang kita pandang hanyalah wajah Allah saja.

Lebur, hingga tidak tersisa lagi bentuk ego dan diri kita?bagai embun yang menguap di pagi hari, bagai kayu yang menjadi abu oleh karena api, bagai awan yang menjadi hujan karena angin*

Sydney, 28 Maret 2018

*penggalan tercetak miring terinsipirasi sajak ?Aku ingin mencintamu dengan sederhana? karya Sapardi Djoko Damono

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.