Laksamana Mustika: Doa itu ?much stronger than any capital?

1 Mei 2018 | Tokoh Alumni De Britto

Laksamana Mustika adalah tokoh kesepuluh dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Laks, begitu ia dipanggil adalah sosok yang masih muda, baru lulus dari De Britto pada 2012 silam.

Tapi kiprahnya tak terhalang usia. Laks adalah CEO dari perusahaan yang dibangun bersama kawan-kawannya sejak kuliah, PT Elven Digital Holding.

Menurut catatan situs web SWA.co.id pada 2016 silam, perusahaan yang digawangi Laks ini sudah memiliki kantor tiga lantai di Alam Sutera, Serpong dengan jumlah karyawan lebih dari tiga puluh orang dan omset 200-400 juta per bulan.

Di sela kesibukannya, aku berhasil mewawancarai Laks melalui WhatsApp. Berikut petikannya.

[DV] Laks, awal mula kamu mulai usaha itu bagaimana?

[Laks] Mulai usaha dulu sebenarnya dari kelas tiga SMA, Mas. Jualan peralatan gaming dengan cara dropshipper.

Dropshipper itu apa dan bagaimana?

Kita nggak perlu stock barang cuma kontek supplier ketika ada pesanan nanti supplier akan mengirim ke pembeli atas nama toko/usaha kita.

Lalu gimana ngatur waktu dengan sekolah? Nggak kerepotan?

Enggak. Gampang kok, Mas cuma model BBM (Blackberry Messenger –DV)

Saat kuliah lanjut bisnis juga? (Setelah lulus De Britto, Laks melanjutkan studi di Universitas Bina Nusantara Jakarta -DV)

Yup! Usaha saya yang sekarang, Elven Digital Holding itu kami mulai sejak saya ada di semester tiga lalu saat semester lima berbentuk badan hukum PT.

Modal awalnya berapa kalau boleh tahu?

Modal awal laptop, koneksi internet, dan motor vario saya, Mas hahaha…

Wow! Nggak ada modal dari orang tua sama sekali?

Ada, Doa. Doa itu much stronger than any capital!

Bagaimana sih kamu memaknai doa yang much stronger than any capital itu?

Secara emosional, kalau tahu kita benar-benar didoakan oleh orang apalagi orang tua sendiri kita setidaknya jadi merasa benar-benar disayang. Saya jadi bersemangat dalam menghadapi segala rintangan dalam usaha maupun hidup yang cukup berat. Doa adalah pengharapan.

Usaha yang kamu rintis sejak dulu hingga sekarang itu pernahkah mencapai titik buruk dan membuatmu berpikir untuk bubar?

Titik terendah pernah, tapi berpikir bubar tidak pernah.

Core usahamu di bidang apa?

Awalnya web developer tapi sekarang berkembang jadi digital strategist.

Digital Strategist? Cakupannya bagaimana?

Jadi kami membantu client-client kami dalam proses digitalisasi mereka. Kami buatkan strategi sampai eksekusinya. Contohnya, kami membangun apps, web, content, dan media buying untuk pemasarannya.

Bagaimana tanggapan pasar sejauh ini??Apakah mereka tertarik atau masih ada yang berpikir bahwa sekarang belum saatnya berpikir serius tentang digitalisasi?

Bagus mas. Apalagi kita banyak recurring juga. Tahun ini, yang konvesional pada panik mau rame-rame mengarah ke digital.

Oh ya? Kenapa panik?

Panik karena telat pindah. Mungkin dikomporin oleh media yang membahas online terus-menerus.

Menurutmu sepenting apa sih sebuah perusahaan di Indonesia berpikir ke arah digital?

Sangat penting. Karena internet user dan mobile subcriber di Indonesia tinggi.

Bicara soal digital, baru-baru ini ramai dibicarakan tentang Facebook yang dituduh membocorkan privasi member-nya. Apa pandanganmu tentang ini?

Kalau membocorkan secara sengaja sih saya rasa tidak. Bahwa Facebook ada celah, iya dan itulah yang dimanfaatkan oleh oknum di Cambridge Analytic untuk keperluan kampanye bahkan big data sampai behavior user juga berhasil di-scrape.

Lalu muncul isu bahwa Facebook hendak ditutup di Indonesia. Menurutmu gimana?

Dari sudut pandang brand, Facebook beserta anaknya, Instagram adalah salah satu media promosi digital terbesar. Tentu akan sangat menyulitkan bagi dunia usaha karena kehilangan satu channel promosi yang lumayan efektif.

Kamu masuk ke ranah politik juga? Pilkada dan pilpres serta pileg tentu perlu strategi digital yang mumpuni?

Di tawarin jadi kader partai sering. Cuma saat ini belum berpikir ke arah sana karena mau fokus kembangin bisnis dulu.

Untuk klien sih belum pernah pegang ‘politik’ karena fokus kami memang ke corporate meski bagiku politik ya tetap butuh strategi digital. Bisa dilihat kan di pilkada dan pilpres lalu, digital sangat mempengaruhi hasil.

Menurutmu strategi digital yang terbaik untuk politik seperti apa?

Wah, saya ngga bisa jawab karena bukan kapasitas saya, Mas. Takut salah omong hehehe…

Tapi kalau kamu ditanya strategi digital untuk politik saat ini yang terbaik apakah tetap dengan mengusung isu SARA?

Kalau yang sehat sih harusnya enggak. Strategi dan prestasi adalah intinya. Segmentasi pasar politik kan luas sekali jadi justru seharusnya merangkul semua pihak.

Hoax jadi susah dikendalikan, sebagai praktisi bidang digital kamu ada ide apa untuk mengurangi atau menghambat penyebaran hoax?

Ini salah satu negatifnya media sosial. Jika ada di tangan orang yang salah bisa dijadikan sebagai sarana untuk penyebaran berita hoax berupa link ke media hoax, gambar hoax, dan lain-lain. Menguranginya tentu perlu peran aktif pemerintah juga untuk ngeblok situs-situs hoax.

Oh ya, beberapa tahun lalu kalau tak salah dengar kamu mendirikan restaurant ? Masih jalan?

Yang ‘mie instan’ sudah tutup yang di Jakarta tapi masih ada cabang di Medan dan Bogor. Tapi satu restoran satu lagi, HolyChick juga masih jalan.

Konsep rumah makan ‘mie instan’ itu menurutku menarik sekali. Ide awalnya gimana?

Waktu itu idenya lihat kenyataan bahwa orang-orang suka sekali dengan mie instan dan banyak warung-warung yang menjual di pinggiran, Mas. Kami ingin membawa ‘mie instan’ to the next level.

Kalau Holychick itu konsepnya bagaimana?

Ayam geprek di-fusion hehehe…

Ketika kamu hendak membuat bisnis baru, pertimbangannya apa saja?

Market share, competitor analysis, waktu untuk menjalankan, orang yang menjalankan, modal keuangan dan channel-channel untuk membantu bisnis.

Bicara soal De Britto, apa yang paling mengesankan dari tiga tahun bersekolah di sana?

Paling mengesankan adalah dinamika di sana yang unik. Semangat ‘man for others’ yang diajarkan juga sangat menarik.

Sebesar apa pengaruh pendidikan De Britto dalam karirmu?

Cukup besar. Semangat saya sampai sekarang untuk berwirausaha juga saya peroleh dari pendidikan di De Britto. Saya ingin hidup lebih bermakna bagi orang-orang di sekitar saya.

Ngomong-omong, saat di De Britto dulu model bercandaan ‘cina-jawa’ masih ada?

Masih, Mas Hahaha…

Kamu nyaman enggak?

Kalau saya sih nyaman-nyaman aja karena konteksnya kan bercanda dan untuk lebih mengakrabkan. Semacam dark humor gitu hahaha…

Ke depannya kamu punya rencana apa thdp bisnismu? Ekspansi? Menguatkan yg sudah ada atau… menjual ke investor?

Rencana bisnis ke depan adalah menguatkan yang sudah ada. Ekspansi dengan menambah kapasitas produksi dan lirik-lirik ke bisnis digital lain.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.