
Beberapa minggu yang lalu, pada sebuah sabtu pagi nan menyenangkan, seperti biasa aku selalu mencari kesibukan di depan komputer.
Bukan! Bukannya aku tak punya teman dan sahabat di luar, tapi entahlah, dari waktu ke waktu belakangan ini aku seperti semakin tak bisa lari dan lepas dari kursi, meja serta iMacku.
Menghabiskan waktu berjam-jam disitu adalah satu kenikmatan yang untuk sementara sepertinya tak tergantikan.
Iseng, aku membuka YouTube dan mulai mencari-cari video yang memang sedang kuingin cari dan lihat.
Kali ini temanya adalah videoclip tahun 80-90an. Aku merenung sebentar mencari apa yang paling identik dengan musik di masa itu.
Tiba-tiba jemariku mengetik Roxette Its Must Have Been Love pada kolom keyword dan a-ha.. kutemukan videoclipnya.
Ketika sedang menyaksikannya, bulu kudukku tiba-tiba meremang. Ingatanku berlarian dan berguling-guling ke belakang, ke akhir dekade 80-an dan awal 90-an
ketika lagu itu begitu ngetop setelah menjadi soundtrack Pretty Woman, film tentang seorang escort girl,
Vivian Ward (Julia Roberts) yang beruntung dipersunting milyarder yang baik hati, Edward Lewis (Richard Gere).
Lagu itu kunikmati betul-betul dari awal hingga akhir.
Berbagai kejadian baik yang baik maupun buruk yang ada di masa-masa itu laksana slide yang dihadirkan berganti-gantian di benakku.
Tak berhenti disitu, aku mencari videoclip-videoclip lainnya yang tersedia di YouTube.
Berturut-turut kutemukan Michael Learns to Rock, Richard Marx,
Debbie Gibson, Tommy Page, Whitney Houston dan masih banyak lagi.
Nyaris tiga jam kuhabiskan waktuku untuk menikmati lagu-lagu mereka dan masa-masa dimana mereka dulu begitu berjaya di blantika musik internasional.
Sesudahnya, akupun larut dalam genangan pikiranku.
Kenapa ya musik bisa begitu mengena bagi seseorang setidaknya bagiku ?
Maksudku, ketika kita diperdengarkan sebuah lagu dari masa lalu,
tiba-tiba otak kita bisa merespon bahwa “Oh, lagu ini ngetop ketika kejadian A, B, C sewaktu kamu sedang senang melakukan
ini dan itu.” Seperti ada sesuatu yang otomatis ter-reffer begitu mendengarkannya.
Mungkinkah hati bisa menjadi media penyimpan memori-memori khusus seperti itu disamping otak yang menyimpan memori-memori “biasa” yang datang dan pergi ?
Kenapa ketika kita diminta menghapal oleh Pak Guru tentang siapa penggagas dan pembuat Terusan Suez, maka ingatan
itu tak kan pernah lebih lama dari masa liburan setelah terima rapor tiba sedangkan mengingat sebuah kejadian berdasarkan sebuah lagu akan jauh lebih everlasting untuk diingat ?
Mungkinkah kita menyimpan memori dengan lagu di dalam hati sedangkan Ferdinand de Lesseps dan Terusan Suez-nya itu di otak ?
Tiba-tiba aku membayangkan sebuah kotak arsip dan lagu barangkali adalah label warna-warni bertuliskan title dokumen yang ketika mata kita melihat dan otak kita membaca tulisan label
tersebut kita langsung ingat “Oh, tepat! Arsipnya ada dibawah label ini!”
Ya, mungkin juga seperti itu…
Entah benar atau tidak pikiranku ini, akan tetapi hal tersebut membuatku berpikir untuk setidaknya mulai saat ini akan mencoba memilih-milih lagu yang hendak kudengarkan
pada saat suatu kejadian terjadi, sehingga di masa yang akan datang, untuk mengingat tentang kejadian tersebut, aku tinggal memutar lagu itu dari keping CD yang kupunya saja.
Ok, begitulah, lantas lagu apa yang sedang ingin kau dengar hari ini yang mungkin akan mengingatkanmu pada hmmm… mantan pacar yang memberimu ciuman pertama?
Kalau aku sedang memutar lagu Yogyakarta, dan ah, ini jelas mengingatkanku pada awal-awal kudatang merantau ke Jogja dulu dan sepertinya akan selalu mengingatkanku pada kota yang sebentar
lagi akan kutinggalkan ini …
Tinggalkan Balasan