Kumpul kebo di Australia. Bagaimana kalau kumpul kangguru aja?

26 Apr 2017 | Australia

Sekitar tiga tahun lalu, ada seorang yang mengirimkan pertanyaan melalui email kepadaku, begini…

Mas, apa benar kehidupan free-sex di Australia itu parah? Banyak kasus kumpul kebo? Aku takut nih kalau jadi pindah sana anakku nanti juga jadi ikut-ikutan begitu!

Sesaat setelah membacanya, hal yang kupetakan dalam otak adalah begini:

Untuk terjadinya seks bebas (free sex) tak mengharuskan adanya kumpul kebo karena seks bebas bisa dilakukan dimanapun, kapanpun dan dalam tempo yang bisa dibikin sesingkat-singkatnya maupun selama-lamanya selama tak ada masalah dengan ejakulasi seksual.

Jadi, mengasosiasikan kumpul kebo dengan seks bebas itu sama halnya mengasosiasikan hidup dengan bicara soal Pilkada melulu! Kumpul kebo lebih luas dari seks bebas, hidup lebih mulia ketimbang Pilkada yang barusan berlalu itu…

Tapi kenyataannya angka pasangan di Australia yang melakukan kumpul kebo memang punya kecenderungan naik dari tahun ke tahun. Pada tahun 1986, ada 5.7 persen pasangan di Australia kumpul kebo. Sepuluh tahun berikutnya, 1996, angkanya meningkat tajam jadi 10 persen. Pada 2011, naik lagi jadi 16.2 persen. (sumber di sini)

Lalu kenapa kumpul kebo?

Aku punya beberapa kawan yang kumpul kebo atau mereka yang pernah kumpul kebo sebelum akhirnya menikah/putus. Mendapatkan informasi tentang motivasi mereka melakukan kumpul kebo tidaklah mudah karena orang-orang sini amat anti untuk di-kepo-in terutama hal yang cukup personal seperti itu.

Tapi beberapa yang kudapat diantaranya adalah alasan-alasan berikut ini:

Ekonomi
Kawanku ada yang memilih kumpul kebo dengan pacarnya karena dengan bersama mereka bisa nyicil beli rumah bareng-bareng sedangkan kalau sendirian cukup sulit karena harga properti di sini amat mahal. Lha kalau putus? Ya tinggal dijual lagi lalu dibagi dua!

Cinta
Ini alasan yang paling banyak kutemukan. Mereka memilih kumpul kebo karena mereka mencintai pacarnya dan ingin mengimplementasikan cinta itu dalam kehidupan bersama.

Belum/Tidak mau terikat
Pernikahan bagi beberapa kawan di sini adalah tantangan berat karena komitmen jangka panjang dan tetek-bengeknya. Kumpul kebo adalah cara terbaik mereka untuk menghindari pernikahan meski banyak dari mereka akhirnya menikah setelah kumpul kebo sekian waktu. Mereka banyak menggunakan kumpul kebo sebagai sarana penjajakan terhadap pasangannya apakah layak dinikahi atau ditinggalkan.

Kok nggak ada yang alasannya supaya ngeseks lebih enak? Mungkin ada tapi aku belum menemui yang berani mengungkapkan alasan sepolos itu. Tapi aku berpikir jika seks hanya alasan untuk kumpul kebo, bukankah ngeseks itu bisa dilakukan dimanapun tak perlu tinggal bersama? Di kamar hotel juga bisa? Di kawasan wisata yang sunyi juga gampang, di kost-kostan juga ok aja bahkan di toilet atau di rumah orang tua saat orang tua pergi juga mudah tho?

Lalu bagaimana pemerintah Australia menangani persoalan kumpul kebo ini?

Pemerintah pada awalnya melakukan langkah paling signifikan yaitu tidak menganggap kumpul kebo sebagai satu persoalan!

Pemerintah mengakui hubungan kumpul kebo dalam klasifikasi de facto relationship. Bahkan, pasangan kumpul kebo yang diakui bukan hanya yang berbeda jenis kelamin karena mereka yang menyukai kawan sejenis/homoseksual pun diakui keberadaannya meski belum diakui keabsahan pernikahannya. Oh ya, meski demikian, pemerintah memberi syarat bahwa sebuah hubungan dinyatakan sebagai de facto relationship saat mereka tinggal bersama selama minimal dua tahun. (Sumber di sini)

Tapi… tapi itu kan dosa?
Yup! Tapi di Australia, persoalan dosa dan moral diletakkan dalam ranah pribadi yang tidak diatur negara selama hal tersebut tidak mengakibatkan kerugian bagi orang lain dan komunitas.

Sedikit banyak aku mendukung cara pemerintah memilah dosa/moral dengan peraturan ini. Kenapa? Bayangkan, Australia adalah negara yang dibangun di atas keragaman latar belakang orang tak hanya asal muasal tapi juga budaya dan agamanya. Kalau mereka menerapkan aturan bahwa dosa dan moral warga adalah urusan negara, betapa akan terpecah-belahnya negara ini karena masing-masing punya proyeksi yang bisa berbeda dengan yang lain tentang banyak hal terkait moral, agama dan dosa tadi!

Aku ingin menutup tulisan ini dengan cerita seorang Pastor asal Indonesia yang berbincang denganku beberapa tahun lalu.

Pastor itu bercerita bahwa ia merasa prihatin, sedih dan kecewa karena ada sepasang anak muda yang begitu aktif menggerakkan kegiatan di paroki tempat ia ditempatkan tapi setelah kenal lebih jauh, ternyata mereka adalah pasangan kumpul kebo yang tentu dalam pandangan imannya adalah perbuatan dosa.

Aku diam saja dan tak berkomentar. Aku menghargai rasa kecewa dan sedihnya sebagaimana aku dan pastor itu juga menghormati kebebasan orang muda tadi untuk memilih jalan hidupnya untuk tetap kumpul kebo meski tetap aktif di gereja.

Apakah pasangan muda tadi adalah kalangan orang munafik karena meski aktif di gereja tapi mereka juga kumpul kebo? Aku tak berani menyimpulkan karena ketika aku menyatakan demikian maka aku akan jadi orang yang lebih munafik dari mereka.

Don, kamu penulis Kabar Baik tapi kok kesannya mendukung kumpul kebo begini?

Lho! Jangan berasumsi! Lagipula kalau Tuhan tidak menghukum kenapa aku harus menghakimi? Bagiku ini adalah kenyataan yang harus kita sikapi dengan bijak, bukan dengan rasa takut seolah-olah bahwa kalau tak ada kumpul kebo maka semua orang di dunia ini akan jadi putih bersih tanpa dosa, bahwa seolah-olah jika kita sudah meributkan soal akhlak dan kumpul kebo maka cerita lama tentang petualangan seks sebelum nikahmu dulu yang kau sembunyi-sembuyikan akan aman-aman saja semata karena kini kamu sudah menikah dan merasa lebih punya hak untuk menuding mereka yg belum menikah dan kumpul kebo dan memilih jalan kehidupan seks bebas!

Begitu? Kak Ema?!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.