
Sejatinya, ketika kemarin beberapa rekan menyelamatiku “Selamat tahun baru ya… Gong Xi Fat Choi” aku tak terlalu terkesiap meski ada sedikit perasaan yang ingin berkata “Kamu salah orang!”
Kenapa demikian, karena aku bukanlah tionghoa, bukan datang dari golongan hoa kiau meski beberapa orang bilang warna kulit serta sipitnya mataku menyatakan aku adalah salah satu dari mereka. Dari berangkat lahir hingga pulang ke alam abadi nantinya, aku adalah seorang Jawa.
Lha tapi istri ?
Iya, itu kan istri, lain saya tho ?
Tapi anyway, pagi-pagi buta di tengah orang-orang ber-ras bule di atas bis ini, aku tak ingin membawa bahasan perbedaan ras ataupun suku. Tapi justru aku ingin bertanya pada kalian, kalau kalian berada pada posisiku, dan mendapatkan ucapan selamat seperti itu, apa yang akan kalian lakukan ?
Mungkin kalian akan menolak secara langsung, tapi itu tak mengapa, cukup katakan
“Gilingannn!!! Apa kalian nggak bisa ngeliat hitamnya kulitku dan belonya mataku ini? Apa kausangkakan aku ini singkeh penjual telor yang melafalkan huruf “R” pun susah? Haiyaaaa!”
Mungkin kalian akan menerima dengan setengah hati, itupun tak jua jadi masalah karena lambat laun nanti kalian akan menjadi salah satu dari pilihan, menjadi ekstrim seperti di atas, atau menjadi sangat toleran seperti… ya, sepertiku hahahah!
Lalu lantas kenapa aku berani mendeklarasikan diri sebagai sangat toleran dalam hal seperti ini?
Well, karena aku biasa hidup dalam alam perbedaan. Ketika orang ditakdirkan untuk ada di kiri dan kanan kita maka saat itu juga kita berada pada satu keanekaragaman. Dan salah satu penghormatan terhadap keberagaman menurutku adalah dengan bersosialisasi, mengenal tradisi dan budaya mereka tanpa harus mendalami apalagi menyelaminya.
Contohnya ada dalam keluarga orangtuaku sendiri.
Papaku adalah seorang muslim sejak lahir hingga saat ini dan demikian juga dengan sebagian besar saudara darinya.
Setiap Lebaran, ketika aku masih tinggal di Indonesia dulu, kami sekeluarga selalu pergi ke rumah Nenek di Blitar. Mereka yang tahu kalau aku, Mama serta Citra itu non-muslim akan serta merta menghilangkan ucapan “Selamat Hari Raya” tapi tetap menyertakan ucapan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” tapi bagi para saudara jauh yang ketemu juga baru sekali seumur hidup, mereka akan mengkomplitkan ucapan-ucapan itu lengkap dengan Minal Aidzin Wal Fa Idzin kepadaku.
Lalu apa yang kuperbuat?
Ya aku nggak berbuat apa-apa :)
Tak perlu aku berteriak “Astaga! Saya bukan muslim! Alleluia!” atau buru-buru cuci tangan dan mulut komat-kamit berdoa yang panjang-panjang… tapi cukup membalas “Minal Aidzin juga.. mnohon maaf lahir dan batin” lalu habislah perkara. Yang menyalami senang, akupun juga senang karena berhasil membuat orang senang.
Mungkin di antara kalian ada yang bertanya,
lho kamu kan Katolik kenapa kamu mau dibegitukan, apa nggak kenapa-napa itu nantinya?
Maka kujawab balik, lha kalau kamu Katolik dan dibegitukan oleh mereka apa kamu nggak marah dan kenapa-napa juga ?
Bagiku, ucapan selamat adalah satu hal yang lepas bebas dari segala bentuk kepercayaan, ras, golongan atau apapun itu sekat kehidupan. Ketika kita mendapatkan ucapan ataupun mengucapkannya, aku percaya itu semua tak mengikis sedikitpun kepercayaan ataupun identitasku. Ucapan itu tak kan mampu menyentuh inti sedangkan inti juga tak perlu membuat benteng pelindung hanya gara-gara ucapan seperti itu.
Jadi siapkah kamu meski mungkin kamu bukan Kristiani lalu diselamati Selamat Natal pada desember nanti ?
Atau mungkin kamu non-muslim lalu dijabati tangan Selamat Idul Adha ?
Atau kamu tak sama sekali sipit dan bahkan legam lalu dikerubungi anak-anak di Chinatown dan dibilang
“Koh, angpaunya Koh! Buat beli alat tulis, Koh! Bagi Kang taw -nya Koh!”
Hehehehe… sekali lagi terserah tapi kupikir dengan kita mengamini toleransi tanpa harus menyelami serta mendalami kita seperti dihadapkan pada kue lapis warna-warni yang sering kita santap itu …
Ah, jadi lapar, ada yang mau membawakan barang sepotong ke Sydney sini ?
Tinggalkan Balasan