Kuasa dan rasa takut

5 Jul 2018 | Kabar Baik

Kapan pertama kali kita mengenal rasa takut?

Meski badanku besar, tattooan, bertampang (kata sebagian orang) gahar sejatinya aku ini penakut. Takutnya bukan dengan orang tapi takut dengan ?hantu?.

Misalnya sedang berada di rumah sendirian, karena suara sedikit saja, pikiranku sudah liar kemana-mana. berbagai gambar dalam benak mengulas dan ketakutan pun hadir tanpa diundang.

Aku agak lupa kapan mulai merasakan hal seperti itu tapi kalau tak salah, salah satu awalannya terjadi? saat aku berumur kira-kira tujuh tahun.

Waktu itu aku terbangun di malam hari, kebelet kencing. Saat hendak melangkah ke kamar mandi tiba-tiba aku merasa enggan dan takut. Aku lantas membangunkan Papa untuk mengantarku.

Keesokan paginya aku diajak bicara Papa. ?Kenapa semalam bangunin aku, Le??

?Aku takut, Pa!?
?Kenapa takut??

Aku terdiam sejenak.
?Takut ada hantu seperti yang ada di film kemarin itu?.?

Papaku tersenyum, ?Kamu harus melawan rasa takut itu. Apa kamu mau ngompol di celana hanya gara-gara takut ke kamar mandi??

***

Hari ini seperti tertulis dalam Kabar Baik, banyak orang memuliakan Allah karena mereka melihat kuasa yang diberikan kepada Yesus. Yesus tak hanya mengampuni dosa tapi juga membuat orang lumpuh kembali berjalan.

Seperti halnya kepada Yesus, Allah pun memberikan kuasa pada kita. Persoalannya sekarang, percayakah kalian akan hal tersebut?

Kuasa dan talenta diberikan namun kadang kita tak sadar. Dari cerita di atas tadi, kuasa yang diberikan Tuhan tampak dalam hal bagaimana aku bisa mengelola tubuh. Karena kebelet kencing, aku jadi terbangun. Otak lantas menyuruh badanku untuk berdiri dan pergi ke kamar mandi.

Tapi karena takut, kuasa itu tak kulanjutkan. Rasa takut dan kecil hati kadang membuat kita mengabaikan kuasa yang diberikanNya.

Bandingkan dengan Yesus. Adakah Ia takut? Tidak!

Meski dihardik oleh ahli Taurat yang hadir di tempat itu dianggap sebagai orang yang menghujat Allah (lih. Matius 9:3) Yesus tak kecil hati. Ia justru menegur dengan berkata, ?Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?? (lih. Matius 9:4)

Bayangkan jika saat itu Yesus takut dengan hardikan si ahli Taurat. Sudah barang tentu Ia mengurungkan niat untuk mengampuni dosa dan membangunkan si lumpuh.

Yesus berani kitapun demikian. KeberanianNya untuk berkorban membuat kita harusnya tesemangati untuk lebih lagi memaksimalkan kuasaNya dalam hidup kita.

Atau jangan-jangan kalian benar-benar tak percaya bahwa kita ini diberi kuasa olehNya?

Percayalah kuasa itu ada padamu. Setidaknya Ia memberimu kuasa untuk membaca tulisan ini hingga di sini :)

Sydney, 5 Juli 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.