Kristen sesungguhnya, kristen yang setia dari Betlehem hingga Golgota

11 Jun 2018 | Kabar Baik

Yesus didatangi ibuNya, Maria dan saudara-saudaraNya. Orang-orang yang mengelilingi Yesus pun berkata, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.” (lih. Markus 3:32) Yesus menjawab, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” (lih. Markus 3:33)

Jika tidak hati-hati, kita barangkali akan terjebak pada kesan bahwa Yesus tidak mengakui Maria juga saudara-saudaraNya. Adakah Ia telah jadi anak durhaka?

Tentu tidak!
Yesus ingin memberi contoh bahwa bagiNya siapapun yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara laki-lakiNya, dialah saudara perempuanNya, dialah IbuNya. (lih. Markus 3:35).

Dalam perspektifku, Yesus adalah pro-meritokrasi dan anti-nepotisme! Meritokrasi adalah lawan kata nepotisme. Sebuah sistem dimana penghargaan diberikan berdasarkan prestasi dan kemampuan. Sebaliknya, nepotisme adalah cara memberi penghargaan dan pengakuan berdasarkan kedekatan dengan yang memberi penghargaan tak peduli apakah ia mampu atau tidak.

Bicara soal meritokrasi dan nepotisme, kali ini terhadap Tuhan, menjadi menarik ketika kita bicara tentang identitas kekristenan kita.

Kenapa kamu dianggap kristen?
Seorang yang berpikir dalam alam nepotisme akan menganggap kekristenan datang dari identitas; dibaptis dan di KTP pun tertulis demikian dalam kolom ?Agama?.

Tapi akankah itu cukup? Tidak! Kekristenan dibangun tak hanya dengan dibaptis, tak hanya dengan mengakui iman dalam hidup bernegara dan berbangsa. Kekristenan dibangun dalam kerangka menjalankan kehendak-kehendakNya seperti yang dikatakan di atas.

Sosok yang layak menjadi teladan dalam hal ini adalah Bunda Maria. Pada akhirnya, Bunda membuktikan bahwa Ia adalah ibuNya. Bukan saja karena dibuahi Roh Kudus, bukan saja karena melahirkan Yesus di Betlehem tapi juga karena ia begitu setia membesarkan dan membimbing Yesus. Saat Yesus memulai pelayanan, Maria selalu mengikutiNya, barangkali tidak dalam jarak yang dekat, tapi ia selalu ada. Bahkan saat Yesus ditangkap, disiksa lalu disalibkan, Maria bersama Yohanes, murid yang dikasihiNya, begitu setia hingga akhir. Saat jasadNya diturunkan, Marialah yang menggendongNya seperti saat kanak-kanak, Yesus didekapnya.

Kesetiaan Maria adalah kesetiaan dari Betlehem ke Golgota. Begitulah kita seharusnya! Tak hanya setia pada saat-saat kaya, sehat, menang tapi juga terus-menerus melakukan kehendakNya bahkan di kala susah, sakit, kalah dan terhina. Itulah kristen yang sesungguhnya.

Sydney, 10 Juni 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.