Kreatiflah dalam berbahagia!

27 Jul 2017 | Cetusan

Tulisan yang kemarin kurilis bertajuk ‘Karena uang hanyalah pemampu kebahagiaan?’ tak kusangka menambat hati para pembaca. Ada banyak pujian yang terkirim melalui jendela WA dan FB Messenger dan akupun berbahagia! Eh, tapi ada juga yang bertanya, “Bro DV nggak perlu uang lagi mungkin karena Bro DV sudah punya uang banyak?”

Lah! yang nggak perlu uang siapa? Yang punya uang banyak siapa?

By the way, berapa sih ukuran banyak dan berapa pula sebuah jumlah dikatakan sedikit?

Kalau gajimu dua juta, bagi orang yang bergaji sejuta, gajimu itu sudah dianggap jauh lebih banyak karena bagi mereka gajinya sedikit!

Berhati-hatilah ketika kamu menakar kebahagiaan dari banyak-sedikitnya uang karena tak sekali-kalinya kedua hal tersebut, kebahagiaan dan uang, ekuivalen!

Tak percaya?

Seorang kawan, bersama keluarganya, mengunjungi restaurant steak mahal di Sydney, Australia sini. Seperti halnya manusia-manusia milenial lainnya, ia memotret pesanan, wefie sekeluarga bahkan daftar harga pun ikutan dijepret, semua foto lantas diunggah di social media.

Beberapa saat kemudian foto-foto itu dibanjiri like dan komentar-komentar positif mulai dari,

“Wuihhh, gajian Bos?”,
“Gile! Satu steak harganya bisa dapet jatah kerupuk berapa abad tuh?” hingga, “Traktir dong!”

Aku lantas kepikiran untuk melakukan hal yang sama. Suatu sabtu sore, aku mengajak anak-anak dan istri ke sana.Ya memang mahal dan berkelas. Seperti halnya kawan tadi, foto-foto makanan, daftar harga hingga wefie pun kuunggah ke sosmed dan ‘like’ membanjiri ditingkahi komentar-komentar positif seperti,

“Cah Klaten makan steak mahal! Perutnya nggak kaget?!”,

“Keren, Bro! Happy family!” hingga “Traktir dong!”

Seminggu kemudian, kami berwisata ke taman dekat rumah. Wisata yang nyaris dibilang gratisan karena akses ke taman gratis. Untuk makanan, Joyce membawa kudapan hasil kreasinya, bannana bread (roti pisang) dan kopi yang diseduh dari rumah. Kami foto-foto dan seperti biasa, kami unggah ke sosmed. ‘Like’ pun bertaburan dan komentar-komentar juga berdatangan.

“Wah, tamannya asri!”,
“Masuk taman bayar nggak?”
hingga “Traktir dong!”

Dari pengalaman-pengalaman itu, jika kebahagiaan adalah tinjauan berapa banyak like dan komentar-komentar positif yang bisa kita dapat di social media, keduanya sama saja! Sama-sama membahagiakan!

Padahal ongkos yang harus kukeluarkan untuk keduanya benar-benar beda bumi-langit! Harga steak per porsi untuk satu orang bisa sepuluh kali lipat dari ongkos membuat bannana bread plus kopi yang dihabiskan sekeluarga!

Jadi? Bukan uang kan sumber kebahagiaan kita?
Meski sejatinya dalam hidup kita tetap perlu uang dan statement ini sekaligus menampik pernyataan bahwa seolah ‘Bro DV’ ini tak perlu uang! Meski ketika aku harus menggadaikan kebahagiaanku sendiri hanya demi uang yang katanya adalah sumber kebahagiaan, aku sih nehi!

Aku ingin menutup tulisan ini dengan sebuah ‘paribahasa’ seorang kawan lama yang dulu pernah getol pergi ke lokalisasi untuk nge-sex dengan para pekerja seks komersial (PSK).

Setiap habis gajian, ia menghambur-hamburkan uangnya untuk memuaskan nafsu birahi lalu ketika tanggal tua ia berhenti. Ketika kutanya, “Kok nggak ngeple (keple adalah istila Jogja untuk PSK) lagi? Tanggal tua?” jawabnya singkat agak getir, “Iya! No money? Onani!” sambil ngeloyor pergi ke kamar mandi.

Tentu aku tidak sedang mengajari kalian untuk onani atau untuk nge-sex di lokalisasi tapi mari kita belajar dari paribahasa ‘nakal’ itu dengan sudut pandang yang benar yaitu bahwa ketika keuangan sedang seret, berpikirlah kreatif untuk tetap bahagia seolah kita sedang tidak seret karena pada dasarnya standard kebahagiaan itu ada pada ujung-ujung panca indera dan pikiran kita sendiri mau seseret, seperet maupun sebasah apapun keuangan dan rejeki kita!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.