Bagiku, bencana korupsi itu marak salah satunya karena manusianya tamak!
Sifat alamiah manusia yang satu ini, tamak, terpicu karena tak adanya batas kepuasan ditambah dengan perasaan harus menang apapun dan bagaimanapun caranya. Keharusan itu timbul karena kita mengandaikan hidup ini tak ubahnya sebagai sebuah perlombaan yang bersifat mutlak dan tak bertoleransi.
Sayangnya, sejak kecil kita memang dibiasakan untuk berkompetisi! Di sekolah misalnya, kita selalu dituntut untuk menjadi yang terbaik berbasis angka karena angka dianggap menyimpan informasi tentang peringkat kita dalam penguasaan mata pelajaran berbanding yang lainnya, kawan sebangku yang akhirnya menjadi lawan kita.
“…meletakkan arti kebebasan hanya sebatas hal-hal tersebut adalah seperti memetakan dunia dalam sekotak televisi berukuran empat belas inchi, tak optimal.”
Padahal pada kenyataannya, tak selamanya angka itu pandai berbicara karena kehidupan ini tak semuanya bisa diperhitungkan dan dirasionalisasikan.
Hingga sebelum akhirnya takdir membawaku mengenyam pendidikan di SMA Kolese De Britto Yogyakarta pada 1993 – 1996, akupun penikmat kompetisi nan menyeramkan itu! Orang tua selalu menyarankanku untuk mendapatkan posisi juara di kelas dengan nilai-nilai mata pelajaran yang tinggi tanpa pernah memberi beban kepadaku bahwa aku harus mengerti kenapa aku bisa dapat posisi juara dan sedalam apa aku mengerti mata pelajaran yang diberikan seolah hal-hal tersebut datang otomatis bersama dengan peringkat yang kuraih.
Di De Britto lah aku diberi wacana baru tentang arti sebuah kompetisi.
De Britto mengajarkan prinsip kebebasan yang bertanggung jawab bagi siswanya. Orang mungkin hanya melihat kebebasan itu dari sesuatu yang kasat mata yang selama ini menjadi ciri khas anak-anak De Britto saja. Misal, siswa berrambut gondrong, seragam sekolah yang bebas, serta diperbolehkannya mengenakan sendal gunung ketimbang melulu menggunakan sepatu yang tertutup rapat.
Tapi meletakkan arti kebebasan hanya sebatas hal-hal tersebut adalah seperti memetakan dunia dalam sekotak televisi berukuran empat belas inchi, tak optimal.
“Siapa di antara kalian yang tak ingin mencibir para koruptor? Kurasa tak ada karena mereka memang manusia bermartabat rendah yang patut direndahkan karena kelakuannya.”
Kebebasan yang diberikan pada para siswa di De Britto tak semata-mata seperti memberi keliaran pada kawanan kuda di sebuah padang rumput.,Ttapi lebih dari itu, kebebasan yang diberikan justru membuat kami berpikir apa imbas dari setiap hal yang kami lakukan berdalih kebebasan itu sendiri. Hal inilah pada akhirnya yang menjadi esensi dan memicu kami untuk berpikir sebelum bertindak, semisal di bawah ini.
Kenapa harus gondrong? Kenapa harus tak gondrong? Apa akibat dari keduanya?
Kenapa harus menggunakan kaos kusut? Kenapa milih berbusana parlente ke sekolah?
Kenapa harus menggunakan sepatu dinas dan bukannya menggunakan sendal gunung?
Tempaan atas nilai ?bebas bertanggung jawab? ini pada akhirnya terimplementasi nyaris pada semua hal selama bersekolah di De Britto termasuk dalam berkompetisi.
Dalam hal yang satu ini, pengejawantahan nilai tersebut tampak pada penentuan sikap ketika sedang memilih untuk bersikap jujur dalam berkompetisi atau memilih curang untuk menang.
Terlepas dari pakem dasar bahwa ketidakjujuran adalah sebuah kesalahan, kami dididik untuk tak hanya pasrah pada ?salah? atau benar saja tapi lebih dari itu, kenapa kita berani memilih bersikap jujur atau sebaliknya, kenapa engkau tak takut memilih untuk curang dalam berkompetisi karena kedua sikap tersebut akan mendatangkan akibat yang berbeda satu sama lain.
De Britto juga mengenalkan jargon man for others, bagaimana membuat hidup kita berguna bagi sesama. Sesama dalam pandangan kami bukanlah mereka yang hanya sama-sama satu agama, sama-sama satu ras dan daerah tapi sesama dalam arti luas yaitu sesama manusia tak peduli siapapun itu.
Idealnya, konsep Man for Others sendiri sebenarnya tidak lantas melemahkan konsep persaingan semata karena kita harus peduli terhadap sesama karena bukankah kepedulian bukan berarti kita harus kalah ataupun mengalah jika memang keduanya malah nanti tak lebih memajukan sesama kita?
Justru sebaliknya, menempatkan konsep ?man for others? sebagai tujuan dan menggunakan nilai ?bebas bertanggung jawab? dalam kaitannya dengan berproses untuk mendapatkan hasil kompetisi tersebut sesungguhnya adalah amunisi yang lengkap.
Mereka bukan hanya bicara tentang bagaimana cara mengalahkan lawan dan meraih kemenangan saja, tapi juga bicara tentang bagaimana berproses dan menghayati proses tersebut detik demi detik dengan terus mengutamakan self-checking atas tanggung jawab nantinya serta berorientasi pada kemajuan manusia seutuhnya termasuk dirinya sendiri, keluarga, umat manusia dan lingkungan serta Tuhan.
Nah kalau sudah demikian, cerita-cerita soal bagaimana orang mencuri uang dan kesempatan dengan cara selintat-selintut seperti yang sekarang marak ditayangkan media tak lain adalah upaya untuk mempermalukan nilai kepedulian dan kebebasan manusia dan berakibat pada perendahan martabat manusia.
Tak percaya?
Siapa di antara kalian yang tak ingin mencibir para koruptor? Kurasa tak ada karena mereka memang manusia bermartabat rendah yang patut direndahkan karena kelakuannya.
Selamat hari Pesta Nama Santo Yohanes De Britto, 4 Februari 2012!
Tinggalkan Balasan