Konspirasi Badik

18 Feb 2008 | Cetusan, Indonesia

Misteri Kematian Lady Diana
Hidup ini terkadang terlalu jujur untuk berlalu seperti apa adanya.
Maksudku, selalu ada sesuatu dibalik sesuatu, seperti halnya ada awan yang lebih kelam dibalik mendung yang tebal.
Nggak di keluarahan ini, nggak di kabupaten ini, nggak di negara ini, yang namanya konspirasi itu pasti ada.
Setelah membaca berita soal misteri kematian Diana itu aku jadi tertarik untuk berfantasi…

Seorang Lurah berkonspirasi dengan istrinya untuk mendesak sebuah perusahaan perkreditan rakyat menawarkan barang-barangnya pada arisan kelurahan.
Perjanjiannya, setiap barang yang terjual secara kredit, Lurah dan istrinya akan mendapatkan poin untuk memperoleh TV berlayar lebar secara cuma-cuma.
Ketika barang-barang terjual dengan sukses, secara kredit, sebuah kardus besar TV berlajar besar itu pun sampai di rumah Pak Lurah.
Dengan bangga, Pak Lurah berujar pada para tetangga bahwa ia “beda kelas” dibanding para tetangganya.

“Sampeyan kan bisanya kredit, lha kalo saya ini ya cash. Ndak pake nyicil!” Sambil berkacak pinggang, Pak Lurah memamerkan kedigdayaannya ditengah rakyat yang plonga-plongo.

Sebulan dua bulan, semuanya lancar saja hingga akhirnya pada bulan kelima, si Tukang Kredit itu mendatangi Pak Lurah dengan membentak-bentaknya karena banyak rakyatnya yang nunggak cicilan.

“Pak! Ini bagaimana ?!? Ini kan ide sampeyan??!? Cicilan rakyat sampeyan nggak ada yang beres ini gimana?!? Saya rugi besar, Pak Lurah!”

Pak Lurah yang dimarahi begitu pun mengkeret. Tapi hatinya tetap digdaya, “Lurah kok dibentak” gumamnya dalam hati.
Sepeninggal Tukang Kredit itu pergi dengan tetap marah-marah, Pak Lurah pun memanggil si Badik, preman kampong tersohor di seantero situ.
Setan pun perlahan tapi pasti menguasai udara tempat pertemuan licik itu diadakan.

“Dik! Ada yang perlu dibereskan!” Bisik Pak Lurah.

“Apa Pak?”

“Kerat lehernya dengan badik, Dik!”

“Ah! Siapa?”

“Itu.. Si Tukang Kredit yang setiap hari bisanya cuma membentak-bentak warga untuk membayar kredit yang tak jelas itu!”
Dasar si Badik orang bodoh, ia pun bagai tersiram minyak lalu dipantiki api mendengar hasutan Pak Lurah.

“Oh Beres, Pak! Nanti saya habisi! Saya juga tak terima dengan dia yang selalu, setiap hari membentak emak saya karena hutang!”

“Jangan cuma habisi! Bakar kantornya! Kerahkan massa!”
Si Badik yang bodoh itupun menuruti kata-kata Pak Lurah, orang yang sangat ia segani tapi ia sendiri tak tahu kenapa harus segan.

“Dan… eitsss.. satu lagi yang kelupaan,” Pak Lurah menarik bahu Badik yang hendak terburu pergi, “Lakukan semuanya dengan halus dan sempurna!”
Badik pun manggut-manggut lalu pergi, menyisakan Pak Lurah dengan senyum licik menghiasi bibir kumalnya.

Sehari dua hari tak berkabar.
Hari ketiga kampung digegerkan dengan ditemukannya mayat tak berkepala di tepi sungai desa.
Tapi karena masyarakat sangat hapal pada jacket yang dikenakan korban, mereka tahu dia adalah si Tukang Kredit.
Kehebohan pun melanda! Masyarakat berkumpul mengelilingi mayat si Tukang Kredit sambil menggumam satu sama lain.
Lalu tiba-tiba sekelompok orang yang mengenakan seragam kaos bergambar nama perusahaan perkreditan rakyat tempat si Tukang Kredit itu bekerja mendatangi para warga dan memukuli hingga perseteruan benar-benar tak seimbang. Tak sampai lima belas menit banyak warga yang tergeletak meski tak sampai mati.
Penggerebekan yang diatasnamakan balas dendam itu pun berlangsung rapi. Seketika itu pula orang-orang misterius itu pun pergi. Lenyap.

Pak Lurah yang “cerdas” itu turun tangan!
Ia mencoba menenangkan rakyatnya dengan bahasa-bahasa yang menjadi andalannya.
“Tenang saudara-saudara, tenang! Kita tahu perusahaan itu pasti tak terima dengan matinya si Tukang Kredit di kampung kita!
Tapi kita akan buktikan melalui jalur hukum saja! Jangan bertindak anarkis! Kembalilah bekerja, semua akan saya selesaikan!”

Masyarakat diam saja. Darah masih mengucur pada beberapa jidat serta bibir, lengan serta lambung.
Hingga sekonyong-konyong Badik yang sedari tadi diam pun berteriak “Tidak bisa! Lurah macam apa kau ini! Kita harus datangi kantor itu! Kita harus bakar kantor itu! Ayo serrrbuuu!”
Rakyat yang semula diam saja pun menjadi beringas seperti Badik.

Mereka beringsut pergi ke kantor perkreditan.
Sementara lurah pun terdiam saja. Ia berlagak lesu tapi matanya jalang memandang ke Badik yang berdiri di bagian belakang barisan itu.
Sementara rakyat maju hingga sampai di kantor perkreditan, Badik pun keluar barisan dan melipir pergi menuju ke rumah Pak Lurah.

“Tugas selesai Bos! Leher terkerat, massa berangkat dan sebentar lagi kantor akan habis terbakar oleh rakyat!”

“Hehehe! Kerja yan bagus Badik. Mari makan sini sambil nonton televisi” Di ruang itu Pak Lurah bersanding dengan istri, bersama dengan sekelompok orang-orang yang tadi mengaku sebagai wakil kantor perkreditan serta Badik yang datang membawa keranjang plastik berisi kepala Tukang Kredit.

Mereka bersantap bersama, mereka bersulang bersama. Di lapangan rakyat telah sukses membumihanguskan kantor serta memukuli pemilik serta para pegawai yang bekerja di sana.
Sementara polisi kebingungan mencari siapa aktor intelektualnya sambil menangkapi rakyat yang telah sadar akan kekhilafannya…

Untuk Lady Diana, Alexander Litvinenko, Udin Bernas, Wiji Thukul, Marsinah, Lambang Babar Purnomo dan… Munir.

Gambar diambil dari sini

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. Polanya sama: masuk hutan, cari kelinci. Si kelinci digebuki sampe modhar, disuruh ngaku sebagai serigala. Dalam keadaan babak beluk, si kelinci diseret keluar hutan sambil teriak-teriak mengaduh: “Ampuuunnn… Ampuuunnn… Iya, iya saya serigalanya… Saya serigalanya…” teriak si kelinci mengaduh.

    Balas
  2. @DM: Ah… entah kenapa tiba-tiba jadi ingin bernyanyi “Darah Juang”. Yuk!

    Balas
  3. Ini postingan lama…
    Tapi justru karena aku membacanya sudah lama, saat ini jadi di ingatkan kembali.

    Hal yang mengingatkanku akan kospirasi ini tak lain dan tak bukan adalah setelah menyimak dan berdiskusi dengan beberapa teman Multiply tentang kejadian pembantaian di Mesuji yang belum lama berlangsung Dab…
    Yang justru belakangan ini ada perkembangan berita mengenai indikasi pemutarbalikan fakta dari “lurah”nya juga…
    hemm…

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.