Kompromi

4 Okt 2017 | Kabar Baik

Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.”
(Lukas?9:60)

Barangkali ada yang bingung dengan penggalan ayat di atas, kenapa Yesus tak mengijinkan seseorang untuk menguburkan ayahnya yang meninggal sebelum mengikutiNya. Dan alasanNya pun ?ketus? nian, ?Biarlah orang mati menguburkan orang mati.? Di penggalan berikutnya, (bdk. Lukas 9:61-62), Yesus bahkan juga seolah tak mengijinkan seseorang yang hendak mengikutiNya untuk berpamitan dengan keluarganya.

Apakah Yesus sejahat itu?
Tentu tidak. Kita tak bisa memahami dan mengambil kesimpulan tentang pribadi Yesus hanya dari penggalan ayat ini karena bahkan saat kita merasa telah mampu menelaah seluruh isi kitab suci dan saat kita merasa telah mampu mengenal Yesus dari kehidupan sehari-hari, semuanya tak kan sanggup untuk mengenali kepribadianNya secara utuh. Kenapa? Ia terlalu besar, terlalu maha sedangkan kita terlampau kecil dan terlampau mikroskopis!

Justru tantangan kita adalah, apa yang kita bisa ambil dari ayat yang kedengarannya ketus di atas untuk dijadikan pelajaran baik karena bukankah tak ada kabar yang tak baik dariNya?

Aku merenunginya sebagai cara Tuhan untuk mengajarkan supaya kita tak ambil kompromi terhadap hal-hal duniawi ketika memutuskan untuk mengikutiNya. Ketika kita memutuskan untuk mengikutiNya, pada saat itu juga kita harus memfokuskan pandangan dan tujuan hidup hanya kepadaNya, bukan kepada hal-hal lain kita anggap mengganggu tujuan kita memuliakan Allah.

Aku ingin menutup renungan ini dengan cerita mengenai pengalamanku sendiri.

Sejak SMP aku adalah perokok berat. Dulu aku merasa ?beruntung? karena kedua orang tuaku yang kini sudah almarhum, juga adalah perokok sehingga mendapatkan ijin merokok lebih mudah ketimbang anak-anak yang lain yang harus diam-diam, termasuk mendapatkan jatah rokok ya tinggal ambil di lemari, beres, tak perlu nyolong!

Bahkan sejak awal tahun 2000an, karena sudah bekerja dan bisa membeli rokok tanpa meminta, dalam sehari aku biasa menghabiskan dua bungkus rokok.

Tapi lama-kelamaan terbit pikiran kenapa aku masih terus merokok? Kenapa aku tak berhenti? Bukan karena takut dosa tapi semata karena ketika jatuh miskin, aku tak mau menyalahkan kebiasaanku membeli rokok yang membuatku tak bisa menabung. Ketika jatuh sakit, aku tak mau menyalahkan kebiasaanku merokok yang membuatku lebih mudah terserang berbagai macam penyakit kronis. Bukankah itu adalah sikap dan tujuan yang baik?

Rencana untuk berhenti kupikirkan. Mulai dari membeli permen karet yang konon berisi zat untuk melawan keinginan merokok, membeli patch (plester) yang ditempel di lengan yang katanya juga akan membantu melawan nafsu merokok, hingga terapi pikiran supaya tak lagi berpikir untuk merokok.

Tapi semuanya gagal. Kenapa? Karena aku selalu memberikan kompromi terhadap rokok dengan jalan mengurangi bukan langsung berhenti. Meski sudah makan permen karet khusus, memasang patch yang tak kalah khususnya bahkan belajar tentang terapi pikiran, aku masih berkompromi dengan diriku sendiri untuk merokok meski dalam porsi yang dikurangi dari biasanya.

Hingga akhirnya saatnya tiba. Oktober 2005, tanggal 13 malam tepatnya, Tanteku, adik kandung Mama, menelponku. Ia mengabariku bahwa dirinya sedang berjuang melawan kanker. Tanteku bukanlah perokok, ia waktu itu juga tidak terserang paru-parunya tapi kekecewaan, kemarahan dan kesedihan yang kurasakan atas kabar itu dan amat pekat, hal itu membuatku memiliki energi yang begitu besar untuk tak lagi berkompromi terhadap rokok.

Telepon kututup dan kututup juga lembaran hidupku sebagai seorang perokok berat sejak saat itu hingga setidaknya sekarang saat tulisan ini kurawi dan kuterbitkan.

Lima tahun kemudian, saat aku sudah pindah ke Australia, tanteku, Indira Wardhani, meninggal dunia setelah lebih dari lima tahun bergelut melawan kanker. Ia kuanggap sebagai utusan Tuhan yang mengajariku tentang bagaimana tak berkompromi demi meraih tujuan mulia, memuliakan nama Allah dalam setiap kebaikan hidup.

Sydney, 4 Oktober 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.