Adalah Gogor, seorang pemuda yang cukup umur dan mapan, berkeluarga satu anak dari satu-satunya istri. Suatu waktu, ia berkata kepada Sawiyah, istrinya, hendak memberikan mobil kesayanganya ke Genjik, salah satu sepupu yang tinggal di kota lain.
Adapun mobil itu sejatinya sangat berarti bagi Gogor. Sejuta kenangan pernah ‘terjadi’ di dalam mobil itu. Mulai dari kenangan menyedihkan semacam bagaimana dia dulu diputus mantan pacarnya hingga kenangan menyenangkan yaitu bagaimana ia untuk pertama kalinya menjemput Sawiyah, istrinya sekarang ini, dari rumahnya menuju ke kampus yang terletak di utara kota.
Kontan, Sawiyah pun kaget dengan keputusan itu. “Emang kamu ada terlibat utang dengan Genjik, sepupumu itu, kok sampai mobil kesayanganmu diberikan padanya?” ujar Sawiyah mengernyitkan dahi tajam-tajam.
Tapi Gogor bukanlah orang yang tak mempersiapkan jawaban. Dengan tenang ia pun mengemukakan hal-hal di bawah ini sebagai alasan kenapa pada akhirnya ia memutuskan untuk memberikan mobil kesayangannya.
Pertama, fungsi dari mobil itu untuk Gogor sekarang sudah tak lebih dari sekadar kesayangan; klangenan, tak lebih dari itu.
“Kalau dulu waktu kita belum punya anak, kita bisa jalan-jalan pake mobil itu tiap sore, Ma! Tapi sekarang setelah si precil mbrojol (lahir -jw), kan praktis waktu kita untuk dia dan nggak ada waktu untuk ngrumat (memelihara –jw) mobil itu tho?” tukasnya pada Sawiyah.
“Lho, tapi kan bisa kita pakai bertiga keliling kota?” timpal Sawiyah.
“Oh, dengan bau apek dan sifat yang gampang mogok itu kamu beneran mau keliling kota bareng Precil?”
Dan si Sawiyah pun terdiam tak mampu menjawab.
Kedua, masih lanjutan dari yang pertama, Genjik, sepupunya itu sangat membutuhkan kendaraan pribadi sedangkan ia harus berebut dengan Papa dan juga adiknya untuk menggunakan satu-satunya mobil keluarganya. Dengan sedikit biaya bengkel plus modal parfum mobil, toh mobil itu akan sangat berguna bagi Genjik entah untuk kuliah atau pacaran.
“Siapa tahu nasib baik tertular ke Genjik, bertemu jodoh berkat mobil itu?” ujar Gogor lagi meyakinkan Sawiyah.
Ketiga, “Coba bayangkan, Ma… kalau mobil itu kita kasih ke Genjik, garasi kita kan kan longgar satu tempat.. nah kamu bisa pakai tempat itu untuk nyimpan barang-barangmu tho? Nanti kalau Precil sudah besar dan kamu perlu mobil satu lagi ya kita beli baru lagi dan kita taruh di situ…” kali ini Sawiyah tercerahkan!
* * *
“…bagi masa kini, kenangan adalah ilusi.”
Gogor adalah contoh orang yang tak mau jatuh ke dalam ‘kenangan’, ia lebih berpikir tentang masa kini dan masa depan.
Kenangan adalah sesuatu yang ada di masa silam, setidaknya demikian sampai nanti manusia menemukan mesin pembalik waktu yang bisa menghantar kita pada masa lalu, sesuka dan semau kita. Tapi sebelum semua itu ada, satu-satunya yang mampu terhubung dengan kenangan masa silam adalah pikiran atau barang, dalam hal ini, Gogor dan mobilnya adalah contoh.
Tak ada yang bisa disalahkan jika orang memilih untuk jatuh berlarut-larut ke dalam kenangan karena ketika ia memantik sesuatu yang indah di dalam benak, siapa sih yang mau beranjak? Tapi indah maupun tak indah, bagi masa kini, kenangan adalah ilusi, sehingga keputusan Gogor untuk tak mempertahankan mobil kecilnya adalah salah satu caranya membuang selaput ilusi itu tadi.
Masa lalu, bagi Gogor telah usai ketika masa kini tiba. Oleh karenanya, Ia tak lagi memandang mobil itu dari sisi kilasan waktu masa lalu saja, klangenan, tapi lebih bagaimana mengoptimalkan ‘sisi sosial’ -nya jika ia menghibahkan pada orang yang membutuhkannya, dalam hal ini Genjik, sepupunya. Adapun soal masa datang, bagi Gogor, meski baru sebatas menyiapkan ruang ekstra bagi garasi, itu adalah ‘investasi awal’ bagi mobil baru yang akan datang yang entah kapan akan dibelinya.
Berkebalikan dengan Gogor, kalau kalian tak mampu menunjuk diri kalian sendiri, aku adalah contoh orang yang selalu menjatuhkan diri ke dalam kenangan tak peduli empuk-keras permukaannya.
Sangat susah bagiku untuk melepas ingatan tentang sesuatu atau apapun yang tercecer di punggung waktuku dan sebagai sarananya, aku selalu memanfaatkan barang, ketika pikiran tak lagi mencukupi, untuk mengenang dan mengenang.
Lalu karena merasa bahwa kenangan bukan sesuatu yang bisa diputar ulang, rasa sayang yang tak terlukiskan itu muncul terhadap barang-barang wakil dari kenangan itu tadi. Jadi, jangankan bersikap tegar seperti Gogor, membayangkan untuk kehilangan saja aku sudah kerepotan melukiskannya serepot aku kalau tak boleh mengenang apapun yang ada di masa silam!
Dalam hal ini, aku curiga, jangan-jangan melalui kenangan, kita dimampukan untuk memberi ruh pada barang-barang itu dan kita tak mampu mengontrolnya lantas mereka pun mendekap kita erat, sangat hingga kita tak bisa dan teramat berat untuk melepaskannya? menjualnya? membinasakannya?
Ah, abaikan paragraf terakhirku.. sudah terlalu kacau alur tulisan ini!
Tinggalkan Balasan