
Apa beda antara 99.999 dengan 100.000 ?
Dalam tataran harga berbasis mata uang rupiah, beda keduanya hanya serupiah saja.
Akan tetapi dalam tataran pikat-memikat, angka 99.999 memiliki daya pikat yang lebih banyak calon pembeli ketimbang kakaknya, 100.000.
“Itulah yang dinamakan batas psikologis harga, Mas!” demikian tutur temanku yang psikolog.
“Maksudnya?”
“Iya, maksudnya kebanyakan orang akan menganggap bahwa angka 99.999 itu jauh lebih terlihat murah ketimbang angka bulat 100.000.”
“Kenapa demikian?” tanyaku lebih lanjut.
“Ya karena 99.999 itu lebih sedikit ketimbang 100.000 terlebih dari digitnya yang masih berarti puluhan ribu dan bukan ratusan ribu.”
Akupun manggut-manggut, “Oh, berarti sama saja dengan iklan di tv soal harga yang 999.999 itu lebih murah ketimbang satu juta ya?”
Sekarang gantian ia yang manggut-manggut kepadaku.
Tapi memang benar, kalau melihat angka-angka yang seperti itu, ingatanku langsung meloncat ke belakang pada saat iklan TV yang menawarkan barang-barang inovasi tercanggih dari luar
negeri pertama kali berhamburan datang melalui layar kaca kita dekade lalu.
Ah tentu kalian sama denganku, masih ingat ungkapan yang berujar “Dapatkan produk kami, hanya Rp 999.999,00 saja” lalu muncul tanda
silang untuk mencoret harga lamanya yang Rp 1.999.999,00.
Maka, sepertinya semenjak saat itu kita pun sering melihat angka-angka yang tak terlalu bulat untuk menunjukkan harga banyak barang di pertokoan.
Seperti misalnya di pusat perbelanjaan, harga sekilo apel merah US yang adalah Rp 21.799 atau harga gelas kaca yang dipatok di harga Rp 6.799.
Tentu ini berbeda dengan kebiasaan kita dulu yang pergi ke warung sebelah rumah atau toko kelontong milik Bah Ahong yang menjual gelas dengan Rp 6000 ya 6000 saja,
atau apel merah di lapak Bu Herman dengan harga per kilonya adalah 21.000 saja nggak pakai embel 999 anymore.
Tapi, beberapa hari lalu, pada sebuah sore setelah makan Pempek Bu Kamto di basement Ambarrukmo Plaza,
dimana aku menghabiskan dana sebesar Rp 15.799 (kenapa tidak 16 ribu atau 15 ribu sekalian ya ?)
aku melewati sebuah lapak penjual sunglass kelas “KW1”, bukan kelas original, dan mendapatkan angka diskon yang menurutku unik dan
fantastis, 58%.
Waktu kutanya pada mbak penjaganya di sana kenapa diskonnya sebegitu uniknya, ia pun hanya berujar “Disuruh Bapak begitu jhe, Mas!”
Aku pun hanya manggut-manggut. “Ya sudah, coba Mbak hitungkan kalau saya mau beli yang ini..” ujarku iseng.
Lalu Mbak itu pun mengeluarkan kalkulatornya dan ia menghitung beberapa saat lamanya dan… ketemulah angka yang semangkin mejik saja.
Kacamata itu tak jadi kubeli, bukan karena aku tak punya cukup uang atau bukan pula karena aku tak suka barang “KW1”,
tapi sebenarnya aku hanya butuh conversation antara aku dengan mbak penjualnya sehingga terjadilah percakapan dalam tulisan ini.
Tapi anyway, aku kok jadi curiga jangan-jangan yang punya lapak kacamata itu masih ada keturunan saudara atau salah satu fans Sang Pakar yang juga gemar menaruh angka-angka mejik dalam
prediksi dan analisanya, 68% meski sekarang mulai gemar menggunakan yang lebih umum, fifty-fifty ?
Ah, saya mulai ngaco, mungkin karena kekenyangan empek-empeknya Bu Kamto.
Tinggalkan Balasan