Kiamat. Kapan?

3 Agu 2017 | Kabar Baik

Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar
(Matius 13:49)

Berbagai ramalan tentang kedatangan hari akhir itu menghiasi sejarah perjalanan hidup manusia. Menurut laman Wikipedia, ada lebih dari 200 ramalan yang telah tercipta dan tercatat hingga saat ini. Kita tak tahu berapa banyak lainnya yang tak tercatat dan berapa ramalan yang akan terus-menerus bermunculan hingga kiamat betulan datang, dengan atau tanpa ramalan!

Ada satu pengalaman menarik yang terjadi di penghujung dekade 1990an. Waktu itu ramai tersiar kabar bahwa kiamat akan jatuh pada tanggal 9 September 1999 atau yang biasa disingkat sebagai 999. Aku masih duduk di bangku kuliah dan seperti halnya banyak terjadi di kawasan lain, di kampung tempat tinggalku ramalan itupun begitu kuat dipercaya warga sekitar.

Menjelang malam tanggal 8 September 1999 atau sehari sebelum ‘kiamat’, tetangga ramai-ramai keluar rumah dan menggelar tikar serta kasur di pelataran dan jalanan kampung. Mereka ingin ‘guyub’ sambil menikmati ‘malam terakhir di muka bumi’.

Aku yang sebenarnya tak percaya, pun jadi ikut-ikutan larut dalam suasana ‘guyub’ itu.

Awalnya kami saling bersenda gurau layaknya malam tirakatan tujuhbelasan. Bernyanyi sambil bermain gitar, makan bakso, bapak-bapak bermain karambol, catur dan kartu remi sementara ibu-ibu mendengarkan radio.

Menjelang larut malam, penduduk mulai berdoa. Tampaknya mereka sadar, ‘waktunya’ benar-benar tak lama lagi. Karena kebetulan kampung tempat tinggalku dulu mayoritas beragama Katolik, kami menggelar doa rosario.

Isak tangis mulai terdengar di sana-sini, suasana benar-benar mencekam. Orang-orang tua memeluk anak-anak dan sanak-saudaranya. Saling memaafkan antar tetangga, termasuk mereka yang selama ini dikenal tidak saling menyapa karena pernah berbenturan dalam masalah yang bermacam-macam. Mereka berdamai, mereka tersedu-sedu dalam samudra pemaafan.

Aku sendiri ketiduran hingga akhirnya sekitar jam 5:30 pagi, suara kentongan riuh memekak telinga. Aku kaget karena kupikir kiamatnya sudah datang.

Ternyata tanda kentongan itu adalah upaya untuk membangunkan warga karena matahari sudah terbit, matahari terakhir di bumi.

Suasana kian mencekam karena meski tanggal, bulan dan tahun sudah didapatkan tapi siapa yang tahu kapan tepatnya? Jam berapa?

“Jam sembilan pagi!” celoteh tetanggaku. “Jam sembilan pagi waktu mana? WIB? WIT? WITA? Waktu Israel?” balas tetanggaku lainnya yang memang dikenal kritis dalam berpendapat.

Hening lagi.
Angin tiba-tiba berdesir, orang-orang ketakutan… tapi tak terjadi apa-apa.

Kami semua terpaku menunggu waktu yang belum tentu. Detik demi detik berlalu, jam demi jam beranjak sementara matahari meninggi membakar kepala, beberapa orang mulai tak tenang meski yang lain tetap terdiam.

Menjelang tengah hari, orang-orang mulai gerah. Mereka berdiri dan tak peduli lagi kiamat akan datang kapan, menggulung kasur, memasukkannya ke dalam rumah lalu tidur lagi melanjutkan penat yang tersisa semalam-malaman.

Kiamat diputuskan tak jadi datang. Aku merenung, barangkali seharusnya dijatuhkan hari itu tapi karena begitu banyak orang bersiap-siap dan tahu, maka kiamat diundurkan entah sampai kapan saat orang-orang tak tahu, supaya surprise.

Kehidupan pun kembali seperti biasa.
Tak ada lagi yang bicara tentang kiamat dan aku tak tahu bagaimana para orang tua besok harus mengirimkan alasan kepada guru anak-anaknya karena memaksa mereka untuk membolos di hari ‘kiamat’ itu. Aku juga tak tahu bagaimana nanti pusingnya para pedagang pasar mengejar setoran karena hari itu tak menggelar dagangan.

…yang aku pengen banget tahu sebenarnya adalah bagaimana para tetanggaku yang tadinya bermusuhan lalu jadi baikan semalam karena kiamat, akankah mereka kembali bermusuhan atau terus melanjutkan pertemanan yang terjalin lagi sejak semalam?

Kiamat akan datang pada jam entah, hari entah, tanggal entah, bulan entah dan tahun entah. Tapi yang tak bisa kita entahkan adalah keputusan untuk terus-menerus berbuat baik dan mengikuti jalan yang benar. Karena ketika kiamat benar-benar datang, kebaikan dan seberapa setia kita pada kebenaran adalah modal supaya kita tidak di-entah-kan dan di-enyah-kan Tuhan.

Sydney, 3 Agustus 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.