Beberapa waktu lalu, Joyce, istriku, mengeluhkan giwang kesayangannya yang hilang sebelah.
“Barangkali di kamar mandi jatuh waktu kamu mandi pagi tadi?” hiburku padanya.
“Enggak kok! Tadi masih sempat kupakai kerja malah…” Ia menjawab lirih, dalam kegalauannya.
“Oh, ya … hmm o well mau gimana lagi? Biarin aja deh, barang sekecil itu dicari ya bakalan susah.” tegasku padanya.
“Dan, jangan diharapin balik deh. Kalau (barang itu) masih jadi hakmu, pasti balik.” tambahku lagi seraya berharap omongan itu menutup kekecewaan istriku.
Peristiwa kehilangan semacam ini tiba-tiba mengingatkanku pada Nenekku.
Beliau cukup sering kehilangan perhiasan baik itu anting maupun kalung, malah pernah pula cincin yang ia kenakan tiba-tiba lenyap seperti ditelan bumi tanpa ia sadari.
Dan setiap kejadian, Nenekku yang sekarang sedang menjelang usia ke 80 itu selalu berujar “Oh, barangku sedang dipinjam Simbah!”
Pernah aku bertanya, “Simbah siapa?”
Nenekku yang biasa kupanggil “Ibu” itu tersenyum nggleges menjawab “Ya simbah yang mbaurekso rumah ini, mungkin dia mau pinjam pakai untuk kondangan,
nanti juga dikembaliin.”
Dan akupun melongo…
Ajaibnya, tak seberapa lama kemudian barang itu memang benar-benar dikembalikan.
Diketemukan tergeletak di tempat-tempat tak terduga. Bisa dikolong tempat tidur, di kamar mandi ataupun di dapur.
“Faham” nenekku ini lantas menurun pada anaknya, Mamaku yang pada setiap ia kehilangan (dalam bahasa jawa adalah “ketlingsut”) barang terutama perhiasan ia selalu menganggap barangnya bukan hilang tapi dipinjam dan nanti kalau sudah waktunya akan dikembalikan. Dan kok ya, biasanya kehilangan itu tak terlalu lama. Hitung dalam satu dua hingga empat hari, barang yang dipinjam itu akan dikembalikan. Dan kalau sudah demikian, seperti halnya Ibunya, Mama selalu berujar “Nah, rak tenan tho. Matur nuwun nggih, Mbah!” (Nah beneran kan, makasih ya Mbah). Kalimat ucapan itu pada akhirnya semakin hari semakin meneguhkan bahwa apa yang ia dan ibunya yakini adalah benar.
Dan cukuplah faham itu menurun sampai Mamaku saja, dan tidak padaku meski entah pada si Citra adikku.
Aku bukannya tidak percaya akan hal-hal yang terjadi di luar nalar seperti itu tapi penolakanku simply karena aku tak mau terperosok terlalu jauh memikirkan hal-hal yang tak sanggup kupikirkan dan sialnya tak bisa dipelajari secara teoretis karena ngga ada buku yg membahas ttg howto nya hal-hal demikian, bukan?
Lebih baik bagiku, saat kehilangan maka kita berpikir untuk lebih hati-hati ke depannya, menabung untuk membeli lagi dan meski menyesakkan, belajar untuk melupakan yang sudah hilang. Karena bukankah kita sebagai manusia memang harus siap untuk kehilangan apapun juga pada akhirnya nanti?
Kembali ke soal Joyce yang kehilangan giwang itu tadi… dua hari setelah kejadian, pada sebuah pagi ia mengirimkan sms padaku yang sudah sampai di kantor lebih dahulu. Begini bunyi sms-nya “Ajaib! Aku nemu giwangku di aspal jalan depan rumah tetangga padahal kemarin aku lewat situ nggak ada!”
Dan akupun menjawab “Thanks God!”
Cukup, cukup demikian tak perlu kubilang bahwa itu barang sudah dikembalikan Tuhan A atau Dewi B atau apapun kekuatan-kekuatan yang diceritakan selalu lebih besar dari manusia.
Kuyakin dan percaya, kalaupun memang benar-benar ada, mereka bahkan tak perlu meminjam kalau memang betul-betul perlu, bukan? :)
Tinggalkan Balasan