Ketika Yesus melihat iman seseorang?

4 Jul 2019 | Kabar Baik

Hal paling menarik dari Kabar Baik hari ini adalah bagaimana Yesus melihat iman seseorang.

Yesus melihat iman

Yang pertama-tama dilihat adalah iman Si Lumpuh dan kawan-kawan yang mengusungnya.

Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.? (lih. Mat 9:2)

Mereka mengimani Yesus sebagai penyembuh karen Ia adalah Anak Allah. Sebagai ganjaran, Yesus pun mengampuni dosa.

Yang kedua, Yesus melihat iman ahli Taurat.

Si Ahli yang menyaksikan bagaimana Yesus mengampuni Si Lumpuh, di dalam hati mengatakan bahwa Yesus menghujat Allah karena berani mengampuni Si Lumpuh. (lih. Mat 9:3)

Lalu apa yang terjadi? Yesus membuat Si Lumpuh tadi bangkit berdiri! Hal itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa tak hanya soal pengampunan dosa, Anak Manusia juga diberi kuasa untuk membuat orang yang sakit menjadi sembuh! (lih. Mat 9:6)

Melihat lalu memutuskan

Bagaimana Yesus melihat iman menjadi kunci. Dari apa yang dilihat, Ia lantas memutuskan apa yang akan dilakukanNya. Jika si ahli Taurat itu tidak berpikiran buruk dalam hati tentang Yesus, belum tentu Ia membuat Si Lumpuh berjalan meski menurutku Ia tetap mengampuni dosa Si Lumpuh, kan?

Hal ini menguatkanku bahwa ketika kita meminta sesuatu dan tidak dikabulkan, itu bukan melulu karena kita tak punya iman tapi karena menurutNya itu bukan hal terbaik yang bisa dilakukan olehNya. Sesuatu yang dikehendaki terjadi olehNya itu bukan karena kita dan bukan untuk kita melainkan untuk kemuliaanNya.

Kesembuhan fisik vs kesembuhan ilahi

Aku sebenarnya sedang cukup prihatin hari ini. Semalam, mantan kolega kerjaku, mengabarkan bahwa ia mengidap kanker otak. Aku tak tahu sudah seberapa akut stasinya tapi yang aku tahu ia sangat terpukul dengan hal ini.

Kita semua tahu kanker adalah hal yang tak mudah disembuhkan. Bahkan terkadang setelah berjuang melawan sekian lama, banyak yang akhirnya kalah, si pengidap meninggal dunia.

Tapi tadi pagi, setelah membaca Kabar Baik hari ini, aku percaya bahwa kalaupun ia tidak diberi kesembuhan fisik, bukan berarti ia tidak beriman dan tidak diampuni dosanya. 

Sebaliknya, kalau ia diberi mukjizat kesembuhan, bukan berarti pula bahwa ia sudah beriman dan sudah diampuni dosanya. Siapa tahu, justru dengan kesembuhan itu ia diberi kesempatan untuk beriman kepadaNya.

Dari kisah Kabar Baik ini, kita juga belajar hal lain bahwa pada akhirnya yang terpenting adalah keselamatan ilahi. Menjadi sehat, menjadi sembuh secara fisik itu penting. Tapi ketika kita diampuni, sejatinya kita telah menerima kesembuhan ilahi. Dengan diampuni, kita diberi harapan untuk hidup abadi.

Marilah kita merenungi hal ini sebagai sesuatu yang serius nan mendalam sembari kita terus-menerus mendalami iman kepadaNya.

Sydney, 4 Juli 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.