Ketika Tuhan berbicara…

31 Agu 2018 | Cetusan

Setelah menjalani tiga kali interview, aplikasi lamaran yang pernah kukirim untuk menjadi seorang Senior UX Architect pada sebuah? perusahaan software development multinasional yang berpusat di Amerika Serikat memasuki tahap akhir.

Salah satu anggota tim rekrutmen perusahaan itu menghubungi selasa sore lalu saat aku sedang menunggu pesawat untuk pergi menghadiri UX Australia Conference di Melbourne, Australia.

?Minggu depan, sepulang dari Melbourne, stafku akan menghubungi untuk membuat janjian interview dengan managing director Asia Pasifik!? ujarnya di seberang. Akupun mengiyakan.

Aku memang sangat tertarik dengan pekerjaan itu.

Pekerjaan bergengsi. Gaji besar bahkan bisa dibilang sangat besar ditawarkan sejak wawancara pertama. Asuransi sekeluarga ditanggung dan segepok benefit ?standard? lainnya seperti bonus, mobile device dan data tak jadi perkara. Satu-satunya yang membuat aku sempat tak sreg adalah karena konon pekerjaan itu menuntut travelling keliling Asia dan Pasifik yang berarti aku harus meninggalkan keluarga meski masih kata HR officer yang menghubungiku, ?Travellingnya cuma senin sampai kamis kok? ?

Toh pada awalnya, ketidaksregan itu tertutup dengan gaji dan banyaknya benefit seperti kusebut di atas. OK lah, cincai lah, pikirku.

Sesampainya di Melbourne, mengikuti UX Australia Conference hari kedua, Kamis 30 Agustus 2018 kemarin, saat makan siang, ada seorang yang mendekatiku.

?Hey, mate?? sapanya. Sebuah sapaan tanda untuk berkenalan yang biasanya dilanjutkan dengan tanya nama. Tapi alih-alih demikian, yang ia tanyakan justru tattoo dan lubang besar di telingaku ini.

?Kamu kerja jadi UX Consultant?? tanyanya.

?Iya. Lead UX Consultant lebih tepatnya??

?And your tattoos??? Ia menunjuk tattoo di leherku.

Aku mengangkat bahu tanda tak tahu maksudnya.

?Tattoomu dan ear lobe mu itu nggak dipermasalahkan client?? tanyanya lagi.

Aku tersenyum.

Lalu kami asyik berbincang. Awalnya tentang dunia UX lalu melebar ke sejarah kerja masing-masing. Lalu tak kusangka ia menyebut bahwa ia pernah bekerja di perusahaan yang menawariku pekerjaan tadi.

?Hah? Really?? Mataku membelalak dibuatnya.

?Minggu depan aku dapat interview terakhir dengan mereka!?

?Wow, congratulations!? jawabnya.

?But? tell me, gimana pengalaman kerjamu di sana??

?Well? Gajinya memang besar. Asuransi ditanggung. Bonus lancar. Begitu diterima kamu langsung dikirim ke Amerika Serikat untuk training lima minggu. Sepulang dari sana kamu akan jadi certified consultant di software yang mereka kembangkan dan kamu akan banyak diperebutkan klien-klien di Australia, Indonesia, Hongkong, Jepang, New Zealand bahkan India!?

Aku membubung? tinggi? sekali.

?But?.it require 100% travelling time!?

Aku mengernyitkan dahi. ?Maksudmu??

?Iya! Kamu dituntut untuk travelling sehari-hari. Kamu pergi ke kota atau negara tempat klienmu ada terkadang hari sabtu atau minggu sore supaya senin pagi jam 9 waktu setempat kamu sudah ada di sana dan bekerja.?

Aku terdiam.

Seserpih hatiku kaget, tapi di sisi hatiku yang lain tetap mencoba menenangkan kekagetan itu dengan iming-iming? uang dan benefit-benefit yang terkonfirmasi oleh orang asing tadi.

?Aku akhirnya keluar setelah delapan belas bulan di sana.?

?Alasannya? Travelling itu??

Ia mengangguk. ?Tapi itu bukan yang utama??

Aku deg-degan. ?Hal yang membuatku memutuskan keluar adalah karena aku tak kuat lagi melihat anakku nangis dan memelukku setiap minggu siang hingga sore karena ia tahu aku harus pergi pada malam harinya dan senin pagi, saat ia bangun aku sudah tak ada!?

Bagai petir di siang bolong! Sejuta topan badai tapi orang baru yang bahkan tak kukenal namanya itu telah berhasil menyentuh sentimentilku bahkan tanpa tahu aku sudah beranak-istri! Gaji besar menggiurkan. Benefit banyak, amat menarik dan mengesankan. Tapi membayangkan apa yang ia alami dan nanti kualami, adakah segala kebesaran itu bisa menggantinya?

Yang kubayangkan adalah Joyce, Odilia dan Elodia, permata-permataku. Apa yang akan terjadi saat hari Minggu malam tiba seperti yang dialami orang asing itu?

?Wah, makasih banyak! Kamu memberiku insight yang luar biasa, Mate!? Aku menepuk bahunya.

Ia tersenyum dan berlalu begitu saja?

Aku segera menelpon Joyce dan menceritakan semuanya. Ia yang semula mendukungku untuk masuk tahap akhir interview menarik lagi kata-katanya. ?Lebih baik kamu batalkan aplikasinya sekarang, jangan tunggu-tunggu lagi??

Aku tersenyum, ?Gimana kalau aku tetap datang saja ke interview itu, siapa tahu bisa nego misalnya lima puluh persen travelling dan sisanya di Sydney??

Sore harinya, selepas conference dan sebelum melanjutkan meeting dengan beberapa executive leader di perusahaan tempatku bekerja, aku menyempatkan diri bertemu dengan SD. SD adalah kawan baru. Ia kukenal karena sebuah email yang dikirimkannya kepadaku beberapa tahun lalu terkait salah satu artikel yang kutulis di sini.

Kami janjian bertemu di Melbourne Central karena ia hendak mentraktirku makan di sebuah restaurant masakan Bali sambil sekalian ngebeer.

Setelah ngobrol sana-sini, tiba-tiba ia menceritakan pengalamannya dengan almarhum Papanya.

?Papaku pekerja keras, Don? Sepanjang tahun nggak pernah libur sama sekali. Nggak hari sabtu, nggak juga minggu. Natal, Paskah bahkan Hari Raya Imlek isinya kerjaaa melulu??

Tiga minggu sebelum meninggal karena kanker paru-paru, Papanya memanggil SD untuk bicara. ?Waktu itu umurku baru 19 tahunan lah?? ia menerawang.

Rupanya Papanya mengalami ketakutan dan ia hendak memberi wejangan pada SD.

?Papaku mengalami ketakutan. Ia nggak takut mati. Ia nggak takut aku dan adik serta Mamaku jadi miskin. Papaku cuma takut bagaimana ia nanti akan kukenang!?

Maksudnya?

?Karena sepanjang hidup ia hanya bekerja terus-menerus, ia takut aku tak punya gambaran lain tentangnya selain bahwa aku memang tak pernah dekat dan tak punya waktu bersama papaku!?

Lagi-lagi, di titik itu, tanpa kuminta, tanpa kuharapkan sebelumnya, aku mengalami momentum ?Seribu topan badai!? Wajahku kalem tapi hatiku tergoncang!

Mau-tak-mau aku lantas menghubungkan cerita barusan itu dengan apa yang dikatakan orang asing di conference tadi dan aplikasi lamaran di perusahaan yang kuceritakan di atas.

Bagaimana kalau aku menerima pekerjaan dari perusahaan itu? Awalnya mungkin akan berat seperti yang dirasakan orang asing di conference tadi. Tapi kalau aku pada akhirnya berhasil menguasai perasaan dan menganggap isak-tangis dan kesepian istri serta anak-anakku adalah hal biasa hingga titik dimana aku menyesal seperti penyesalan yang dialami Papa Si SD itu!?

Bagaimana nanti setelah mati aku akan dikenang oleh istriku dan terutama anak-anakku kalau aku tak pernah memberi waktu untuk mereka? Pikiran itu mengular di kepala melebihi hening yang menggigil di Melbourne semalam?

Pagi harinya, conference memasuki hari terakhir.

Di tengah sesi pertama sedang berjalan, teleponku berdering. Sebuah nomer yang kukenal adalah nomer perusahaan yang hendak menginterviewku itu muncul di layar.

Aku sengaja tak mengangkatnya. Tekadku membulat. Jika kuangkat, aku akan luluh dibujuk untuk tetap melanjutkan lamaran. Pilihanku hanya satu, menulis pesan.

Aku membuka aplikasi Mail dan kuketikkan pesan singkat yang keluar bukan melalui tahap pengambilan keputusan yang singkat sama sekali itu.

Hi,
After a long discussion with my wife last nite, i have decided not to continue my application. Apologize for this late confirmation.

All the best,
DV

Lega? Iya meski ada rasa-rasa gela-nya (menyesal -jw) juga mengingat iming-iming imbalan yang luar biasa di atas.

Pada saat makan siang, aku melihat sekelebat sosok yang kutemui kemarin. Aku tepuk bahunya dan bilang, ?Mate? thank you so much! I?ve just withdrawn my application!?

Ia tersenyum dan bilang, ?Good! Kita bertemu bukan kebetulan, pasti ada reason-nya!? Ia membalas tepukan bahuku dan berlalu.

Aku tak sempat bertanya namanya tak juga kusebut namaku di depannya. Tapi adakah nama itu penting? Paling-paling namanya tak jauh dari Michael, Richard, James, Jason dan nama-nama ?standard bule? lainnya.

Ada yang lebih penting daripada itu.

Bahwa siapapun namanya, ia adalah pembawa pesan Tuhan! Tuhan kuhayati hadir dalam peristiwa-peristiwa ?kecil? yang barangkali selama ini kita tutup-tutupi dengan label ?Ah, kebetulan itu!? atau ?Bisa-bisamu aja??

Darimana seorang yang asing yang bahkan tak kukenal namanya dan ia pun tak mengenalku lalu bercerita tentang hal yang selama ini kuharapkan muncul? Kebetulan? Bisa-bisa biasa?

Darimana pula seorang yang baru pertama kali kutemui meski kukenal sejak lama, SD, menceritakan tentang pengalaman nyata bersama mendiang Papanya yang ternyata ketika kuhubungkan membentuk rangkaian cerita yang memudahkanku untuk berkeputusan? Bisa-bisaan? Kebetulan?

Aku bersyukur kepadaNya.

Semakin hari aku semakin diyakinkan bahwa kuasaNya terasa begitu nyata dalam hidup sehari-hari, melalui peristiwa-peristiwa kecil dan besar, dalam pesan-pesan dan pikiran yang bahkan mungkin bagi si pembawanya dianggap biasa saja tapi begitu berpengaruh dan memunculkan momentum ?seribu topan badai? di sisiku?

Aku baru saja kehilangan kesempatan besar untuk bekerja di perusahaan bergengsi yang menawarkan gaji amat besar dan peluang mengenal dunia dan cakrawala yang lebih luas. Tapi aku baru saja selamat dari ancaman kehilangan kesempatan terbesar untuk memberikan perhatian-perhatian yang barangkali kecil dan ?rutin? bukan pada perusahaan, bukan pada sebuah badan lembaga tapi pada tiga orang yang kepada mereka Tuhan menitipkan cinta dan waktu serta perhatian: Joyce Taufan, Odilia Maura Taufan-Verdian dan Elodia Maree Taufan-Verdian.

Aku pada kalian! Cinta! Cinta! Cinta!

Melbourne Airport, 31 Agustus 2018: 5:50pm.

Sebarluaskan!

6 Komentar

  1. God always be with you my Bro…Good job… and always Love your family,Gbu..

    Balas
    • Amin. Makasih :)

      Balas
  2. Don!! Terharu bacanya..

    Balas
    • Thanks, Mel :)

      Balas
  3. Pesen yang disampaikan kok koyo puzzle yo mas..

    Balas
    • Betul, Mas! Aku juga heran… dan semuanya terjadi dalam sehari! Tuhan Maha Besar!

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.