Ketika tersudut, beranikah kita untuk terus berharap?

7 Agu 2019 | Kabar Baik

Kabar Baik hari ini bicara tentang ketersudutan dan keberanian kita untuk berharap. Tapi jika dibaca secara tekstual, tulisan Matius hari ini akan sangat mengagetkan, dan menimbulkan tanya, ?Kenapa Yesus bersikap demikian??

Perempuan Kanaan

Jadi ceritanya ada seorang perempuan Kanaan yang datang kepada Yesus memohon supaya Ia menyembuhkan anak perempuannya yang kerasukan setan serta sangat menderita.

Lalu para murid Yesus memintaNya untuk mengusir perempuan itu, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” (Mat 15:23)

Jawaban Yesus ini amat mengejutkan, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Mat 15:24) Orang Kanaan bukan orang Yahudi dan adakah dengan jawabanNya itu Yesus berarti setuju untuk mengusir pergi perempuan itu seperti yang diminta para murid?

Tahan dulu? tahan pendapatmu :)?

Mari kita ikuti cerita selanjutnya. Jadi setelah ?dibegitukan?, diluar dugaan, perempuan tadi tidak menyerah. Ia bilang, “Tuhan, tolonglah aku.” (Mat 15:25) Apa tanggapan Yesus, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.? (Mat 15:26)

Oh, kok begitu?
Tahan lagi? tahan pendapatmu :)?

Apa yang jadi jawaban perempuan tadi mengejutkan! “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” (Mat 15:27)

Mau tahu tanggapan Yesus selanjutnya? “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.? (Mat 15:28)

Kasih Tuhan: tak terbatas dan tak bisa dibatasi

Bagiku apa yang ditunjukkan dalam Kabar Baik hari ini adalah sebuah pelajaran berharga dari Yesus untuk para muridNya. Yesus justru ingin menunjukkan kepada para murid bahwa Kasih Allah itu tak bisa dibatasi oleh apapun termasuk agama dan suku bangsa. KasihNya tak terbatas, tinggal kita sendiri bagaimana, menanggapi atau menolakNya.

Perempuan Kanaan tadi adalah contoh terbaik bagaimana kita menanggapiNya.

Ia tidak menyerah ketika para murid meminta Yesus untuk mengusirnya. Bahkan saat Yesus menyatakan hal-hal di atas, perempuan tadi tak bergeming, pokoknya minta tolong, pokoknya anaknya harus disembuhkan.

Berharap karena percaya

Kenapa ia sedemikian nekadnya?
Karena Ia percaya bahwa kuasa Tuhan tak terbatasi oleh batasan-batasan duniawi termasuk suku bangsa serta agama. Bahkan kalaupun memang dibatasi, perempuan tadi tetap percaya ada ?remahan-remahan? yang barangkali jatuh dari meja makan yang bisa dimakan dan itu sudah lebih dari cukup untuk menguatkan!

Itulah harapan.
Ketika kita tersudut, tersingkir dan kecil, kita diajak untuk terus berharap. Bukan terhadap manusia tapi terhadap Tuhan karena kasih, kuasa dan kerahimanNya itu maha.

Jangan berlaku sebaliknya, karena merasa dirinya kecil, tersingkir dan tersudut maka pasrah saja tanpa bisa berharap.

Percaya karena berharap

Misalnya ketika sekalangan orang tidak diijinkan untuk mendirikan rumah ibadah karena alasan yang tidak-tidak. Bagiku, orang-orang itu punya hak untuk melawan melalui jalan yang terhormat dan benar.?

Adalah salah jika mereka yang ditindas lantas memilih diam dengan alasan, ?Aduh jangan dilawan deh! Damai aja.. damai!?  Damai atau takut? Jika takut, apakah kita tidak malu pada perempuan Kanaan di atas? 

Kalau untuk berharap saja sudah ketakutan bagaimana ketika kita benar-benar diberi jalan olehNya? Kita berharap karena kita percaya?

Sydney, 7 Agustus 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.