Ketika salibmu tertinggal

2 Jul 2018 | Kabar Baik

Kepada seorang ahli Taurat yang menyatakan ketertarikan untuk mengikutiNya, Yesus memberikan jawab yang menohok:

“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya? (lih. Mat 8:20)

MengikutiNya memerlukan keseluruhan hidup tanpa kenal lelah dan berhenti karena Ia, Anak Manusia, tak punya tempat untuk sekadar meletakkan kepalaNya sedetik pun!

Aku tak tahu apakah si ahli Taurat itu lantas bergegas mengikutiNya atau mengurungkan niat mengetahui jawabanNya. Hidup toh menyediakan pilihan dan Yesus tak pernah memaksa seperti BapaNya yang selalu menghormati kehendak bebas dan pilihan kita.

Ikut Yesus itu gimana sih? Apa bener capek seperti itu?

Kawanku dulu dengan mata berbinar-binar selalu bilang, ?Ikut Yesus itu enak! Rejeki nggak berhenti mengalir! Lihatlah usaha dan tokoku jadi lancar jaya setelah aku memutuskan ikut Yesus!?

Tapi kawanku yang lain, dengan binaran mata yang sama mengatakan hal yang berbeda, ?Ikut Yesus itu enak! Bukan karena rejeki karena aku sampai sekarang toh masih pas-pasan. Yang bikin enak adalah karena rasanya menjalani hidup jadi enteng aja? ?

Mana yang benar?
Bisa jadi semuanya benar karena aku tak punya kuasa menyalahkan. Tapi bagiku mengikuti Yesus adalah pilihan yang mau-tak-mau harus kupilih. Bukan karena paksaan tapi karena kesimpulan. Kesimpulan yang terus-menerus dikuatkan dari waktu ke waktu. Kesimpulan yang terus-menerus dikukuhkan dengan satu alasan sederhana: kalau Ia tak pernah berhenti menyertai kita kenapa kita bosan mengikutiNya?

Adapun capek, enteng, enak dan yang lain itu semua adalah kesan dan ilusi duniawi! Setiap orang pada setiap penggalan waktu punya kesan dan ilusi masing-masing, bebas saja! Wajar adanya!

Tak penting? Penting lah! Karena kita masih tinggal di dunia ini sehingga mempelajari kesan dan ilusi duniawi tidak bisa diremehkan.

Terutama ketika rasa letih tiba.
Hidup sudah pas-pasan. Masih harus aktif di Gereja. Tetangga membutuhkan, kalau tak ditolong lalu teringat apa yang dikatakan Yesus untuk mengasihi sesama. Harus bagaimana? Sementara kawan lain hidupnya beda dari kita. Ia tak pernah ke Gereja, tak peduli pada sesama tapi hidupnya kaya-raya meski entah dari mana saja sumbernya.

Apa menyerah saja? Mengambil peluang jabatan di kantor syukur-syukur bisa nyolong dikit-dikit asal nggak ketahuan yang penting bahagia, kan?

Jangan!
Hidup ini adalah perkara memanggul salib dan setia hingga akhir dengan panggulan itu. Kalau mau enteng, letakkanlah salib niscaya jalan hidupmu lebih ringan.

Aku akan memilih meletakkan salib jika hidup ini tak diakhiri kematian dan kelanjutan hidup abadi sesudahnya. Tapi tidak demikan adanya toh?

Dengan imanku yang belum seberapa ini, aku percaya bahwa di ujung jalan nanti, saat akhirnya bertemu Dia, kalau kamu tak membawa salib barangkali Dia akan bertanya, ?Mana salibmu? Kok nggak dibawa??

Apakah ada jawab selain, ?Oh?! Harus ya? Berat, Tuhan makanya kutinggalkan!?

Lalu Ia menggeleng-geleng, menutup pintu dan membiarkanmu ada di luar sementara untuk berlari ke belakang dan mengambil kembali salib yang tercecer adalah hal yang tak mungkin karena mesin waktu tak bisa diputar ulang?

Sydney, 2 Juli 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.