Ketika pertolongan Tuhan datang, adakah kita percaya hal itu berasal dariNya?

5 Mei 2019 | Kabar Baik

Yesus berjalan di atas air membuatku merenung tentang bagaimana kita menjalani hidup dan reaksi kita saat menerima pertolongan dariNya.

Peristiwa itu bermula ketika Yesus memutuskan untuk menyingkirkan diri ke gunung karena Ia tahu banyak orang datang mencariNya.

Sementara para murid yang kubayangkan kebingungan mencari dimana Yesus berada, mereka pergi ke danau lalu naik perahu hendak menyeberang ke Kapernaum.

Hingga hari menggelap malam dan para murid itu belum juga melihat Yesus sementara di luar ombak bergelora karena angin kencang.

Setelah mendayung dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air, menghampiri mereka. Para murid ketakutan. Oleh karenanya Yesus lantas menegur, ?Aku ini, jangan takut!?

Hidup, badai ombak dan kehadiran Tuhan

Hidup itu bagaikan mengarungi laut seperti halnya para murid.

Permukaannya tak selamanya tenang. Terkadang permasalahan datang bagai ombak bahkan tak jarang badai hidup menerpa membuat kita tergoncang dan kewalahan menghadapinya.

Yang lebih tak menguntungkan lagi, justru di saat yang ?gelap? dan ombak hidup meninggi, terkadang kita merasa Tuhan tak hadir. Bahkan ketika akhirnya melihat pertolongan Tuhan, kita malah ketakutan! 

Kenapa takut?

Karena kita tak percaya! Para murid ketakutan melihat Yesus berjalan di atas air karena mereka mengira Ia adalah hantu. Kita tak percaya pada  pertolongan Tuhan yang datang karena berpikir jangan-jangan itu tidak datang dari Tuhan.

Pertolongan Tuhan

Contoh yang paling tepat barangkali cerita fiksi yang mungkin pernah kalian dengar.

Ada seorang tua nan relijius tinggal di sebuah kota. Suatu waktu banjir bandang terjadi hingga seatap rumah tinggi airnya.

Ia bersama dengan orang-orang di sekitar tempat tinggalnya mau tak mau harus bertengger di ujung atap supaya tak tenggelam.

Bantuan akhirnya datang. Perahu karet datang menyelamatkan dan satu per satu orang diangkut untuk dibawa ke tempat yang kering.

Tapi ketika sampai gilirannya, orang tua tadi malah menolak bantuan tersebut.

Alasannya? Ia menunggu bantuan dari Tuhan, bukan bantuan dari manusia.

Karena banjir semakin meninggi dan ada banyak orang lain yang perlu dibantu, orang tua tadi pun ditinggalkan dan akhirnya mati.

Di depan pintu surga, Petrus bertanya kepada si tua tadi. ?Kenapa kamu mati? Sepertinya dan seharusnya namamu belum masuk dalam catatanku!?

Si tua tadi dengan menggerutu menjawab, ?Aku mati karena aku menunggu bantuan dari Tuhan saat banjir tapi bantuan itu nggak datang-datang!?

Petrus tersenyum. ?Hey, Pak Tua! Masih ingat bantuan orang yang datang dengan perahu karet??

Si Tua mengangguk pelan.

?Nah! Bantuan itu sejatinya adalah bantuan yang datang dari Tuhan tapi kamu menolaknya!? tambah Petrus.

Peka dan pasrah

Butuh kepekaan untuk mengenali pertolongan Tuhan karena memang benar, setan pun dengan tipu-muslihatnya bisa menyaru seolah-olah pertolongannya adalah pertolongan Tuhan.

Tapi jangan pula percaya sepenuhnya dengan kepekaan kita. Yang terbaik barangkali adalah membuka diri seutuhnya pada penyertaan Allah. Termasuk menyadari bahwa bahkan saat kita merasa sendirian dan Tuhan tak kita rasakan hadir, pada saat itu sejatinya Ia tak pernah jauh dari kita. Ia ada di hati. Mengawasi dan menuntun. Menenangkan dan menyelamatkan.

Sydney, 5 Mei 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.