Ketika perceraian dilarang dan rumah tangga layaknya arena baku hantam, dimana kebenaran harus diletakkan?

11 Sep 2017 | Kabar Baik

Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?”
(Lukas 6:9)

Lagi-lagi di Hari Sabat Yesus melakukan hal yang dilarang kaum Yahudi. Ia melihat ada seorang yang mati tangan kanannya lantas Yesus pun menyembuhkan.

Sontak kaum Farisi dan Ahli Taurat kebakaran jenggot! Mungkin dalam batinnya mereka tak habis pikir ini orang maunya apa kok dimana-mana membuat onar dan menabrak-nabrak aturan?

Tapi Yesus tahu kedalaman hati mereka. Sebuah pertanyaan maha sulit pun dilontarkanNya. “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?”

Hari ini Yesus mengajarkan tentang bagaimana memprioritaskan kebaikan di atas aturan yang ada.

Tapi pertanyaannya sekarang, apakah kebaikan itu? Dari sisi mana kita harus melihatnya? Baik menurut Tuhan? Baik menurut manusia? Manusia yang mana? Tuhan yang mana?

Kawan lamaku, beberapa tahun silam mengabarkan ia harus bercerai dengan pasangannya padahal mereka menikah secara Katolik.

“Daripada babak belur setiap hari, aku memilih bercerai, Don!” kenangnya.

“Apa sudah kamu pelajari akar permasalahannya kenapa ia jadi suka memukulimu?” tanyaku.

“Awalnya kita banyak diskusi untuk mencari penyebabnya, tapi perangainya tak berubah malah menjadi-jadi! Aku tak tahan!” jawabnya.

“Sudah kamu tanyakan ke romo?”
“Sudah dan mereka juga nggak bisa jawab apa-apa selain ‘lebih sering diajak diskusi aja suamimu!’ atau ‘Didoakan’….”

“Orangtuaku meminta untuk bertahan tapi mana bisa! Mereka egois! Mereka cuma mau nama mereka nggak rusak karena anaknya bercerai! Kalau mereka di posisiku, kuyakin juga mereka akan maklum keputusanku itu!”

Pernikahan adalah hal yang sakral dalam Gereja Katolik. Secara aturan, hal itu tak bisa dipisahkan kecuali oleh maut dan dibatalkan oleh Gereja Katolik. Tapi cerai? Jangan harap ada setidaknya hingga Gereja sendiri yang memutuskannya.

Tapi apa yang dilakukan kawanku, adakah yang berani mengatakan bahwa keputusan bercerainya adalah hal yang tidak tepat? Mana yang perlu diprioritaskan, beragama dengan taat atau berumah tangga tanpa kekerasan? Mana yang perlu dianggap ‘kebaikan’, mempertahankan pernikahan yang layaknya arena baku hantam, atau menyudahinya tapi berarti melanggar aturan?

Renungan ini tak seperti biasanya, tak bersolusi.
Aku hanya ingin mengajak kalian ikut merenungkan dan mendoakan kawan-kawan atau barangkali diri sendiri yang sedang bermasalah dalam rumah tangganya dan ‘terantuk’ aturan tidak adanya perceraian dalam Gereja Katolik.

Kepada Yesus yang hari ini mengajarkan kebaikan di atas segala aturan kita serahkan diri dan persoalan supaya Ia sendiri yang memberikan terang sebagai jalan keluar terbaik…

Sydney, 11 September 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.