Ketika kepala menjadi layaknya cindera mata

14 Agu 2014 | Cetusan

 

blog_cinderamata_v2

Persoalan seputar hukuman mati sejak dulu hingga nanti selalu sama yaitu apa cara tersingkat untuk mematikan orang yang dieksekusi.

Ribuan tahun lamanya, orang mengira bahwa pemenggalan kepala adalah yang tercepat karena begitu kepala lepas dari badan, selesailah sudah semuanya.

Tapi peneliti Prancis, Dr Baeurieux meruntuhkannya.
Secara khusus ia diberi hak untuk mengikuti proses pemenggalan kepala Henri Languille, seorang yang dinyatakan bersalah karena membunuh, pada pagi hari sekitar pukul setengah enam 28 Juni 1905.

Begitu bilah pisau Guillotine memisahkan kepala Henri dari tubuhnya, Dr Baeurieux langsung memungut kepala itu dari kotak dan dimulailah pengamatan selama 30 detik panjangnya.

Dari detik pertama hingga keenam, pelupuk Languille mengerjap-kerjap dibarengi dengan gerak bibir yang tidak konstan sebelum akhirnya melemah.

Tak mau kehilangan momentum, Baeurieux memanggail namanya, ?Languille!?
Tak disangka, kepala itu memberi respon, pelupuk mata yang hampir tertutup itu terbuka cepat.

Didiamkannya sesaat, sekali lagi, Baeruieux memanggil, ?Languille!?
Dan sekali lagi pula, kepala itu menanggapinya! Pelupuk mata terbuka kembali meski tak sekuat yang pertama.

Untuk ketiga kalinya, Baeruieux memanggil, ?Languille!?
Kepala itu tak lagi memberikan reaksi. Matanya tertidur meski tak tertutup sempurna, terdiam untuk selamanya.

Seram?
Tidak, memilukan tepatnya.

Tapi dibandingkan dengan banyak kepala yang terpenggal oleh kekejaman para laknat (yang aku tak sanggup lagi menyebutkan identitasnya saking geramnya) di Irak dan Suriah, apa yang dialami Languille bisa dikatakan ?mewah?!

Kinerja model pisau Guillotine yang digunakan mematikan Languille itu dibuat berdasarkan perhitungan yang matang oleh seorang ahli Fisika, Joseph-Ignace Guillotin namanya.

Ia memperhitungkan benar bagaimana berat massa bilah pisau yang dihujamkan dibantu gaya gravitasi yang menariknya ke bumi serta tingkat ketajaman mata pisaunya mampu membuat kepala terpenggal dalam sekejap mata.

Sedangkan para eksekutor di Irak dan Suriah sana, mereka menggunakan pisau maupun pedang yang diayunkan oleh tangan untuk memenggal kepala-kepala itu. Modal pengetahuan mereka bukan ilmu pasti melainkan rasa benci yang terbungkus pada pekatnya ideologi.

Malah dalam sebuah video yang sempat terlihat, mereka memenggal tidak dengan cara memenggal melainkan dengan menindih tubuh di tanah menggunakan lututnya lalu menjambak rambutnya hingga kepalanya terdongak ke atas sehingga ada ruang cukup lebar di depan leher yang lalu disayat, digorok dan dipatahkan.

Korban eksekusi itu juga tak mendapatkan ?sarana kenyamanan? senyaman korban eksekusi Guillotine.

Aku pernah menyaksikan clip eksekusi terakhir yang menggunakan metode Guillotine sebelum dihapuskan pada 1980. Korbannya adalah Hamida Djandoubi yang pada 10 September 1977 dieksekusi karena kasus pembunuhan.

Ketika pisau memangkas Hamida, kepalanya langsung masuk ke kotak yang telah disediakan di depannya, sementara tubuhnya digulingkan di kotak yang lainnya di samping meja eksekusi. Petugas eksekusi lalu menutup kotak-kotak itu dan mengantarkannya ke rumah sakit untuk proses selanjutnya. Begitu cepat, ringkas.

Tapi yang terjadi pada korban-korban laknat di Irak dan Suriah tadi, kepala-kepala itu layaknya cindera mata yang kita beli di tempat-tempat wisata, dijadikannya bahan untuk berselfie bersama lalu di-viral-kan ke social media!

Itulah drama kepiluan era kini. Drama yang kalau kita pahami bahkan tak menyisakan ruang dan tempat untuk seluruh abjad dan kata melukiskan kegetirannya.

Dalam sebuah permenungan, setelah membaca ulang tulisan kesaksian Dr Baeruieux dan menahan rasa mual melihat kepala-kepala korban yang bertebaran di social media, aku merasa seolah aku membaharui apa yang Dr Baeruieux katakan.

Ia yang pernah berkata bahwa kepala terpenggal bisa hidup hingga tiga puluh detik setelah pemenggalan, kini aku sanggup berkata bahwa sejatinya kepala-kepala itu tetap hidup dan bahkan selalu memberi pesan kepada kita.

Melalui paparan social media yang tak terbatasi ruang dan waktu, kepala-kepala itu menghantui kesombongan sekaligus menertawakan keringkihan hidup kita.

Melalui mata-mata sayu yang tak terkatup sempurna, ekspresi wajah yang lebam dan penuh kekosongan sembari seolah berkata, ?Why me?? serta ceceran darah di kulit leher yang menandakan betapa pisau majal lah yang dipakai untuk menggoroknya?

Sementara itu, melalui wajah-wajah pelakunya yang penuh keteguhan, kebanggaan serta tawa yang menyeringai, kita tersadar bahwa sejatinya istilah ?setan tertawa? itu bukan hanya ada dalam lirik lagu saja tapi memang benar-benar ada dan nyata.

Eh tapi pesanku satu… hati-hati ketika mengamati wajah para pelaku!
Jangan terlalu dekat ke layar, takutnya kamu bisa melihat bayangan wajahmu sendiri dari refleksi kaca monitor itu dan seolah menjejerkanmu dengannya dan dengan kepala-kepala yang bak cindera mata itu.

Jangan!

Sebarluaskan!

4 Komentar

  1. Sadis adalah kata yang tepat untuk mereka :(

    Balas
  2. selfie dengan kepala terpenggal adalah orang2 munafik yang menggunakan topeng agama untuk menjalankan nafsu keiblisannya

    Balas
  3. Aku gak sanggup membayangkannya… Sadis sekali mereka itu… :(

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.