Ketika kentut itu diperkenankan…

23 Feb 2015 | Cetusan

blog_rainbow

Tinggal dan bekerja di negara multikultur seperti Australia itu penuh tantangan. Bayangkan, bekerja di negara asal dengan orang-orang yang berlatar belakang sama saja sudah memusingkan, nah di sini kami harus bekerja dan hidup bersama dengan orang-orang yang tingkat perbedaan budayanya tinggi menjulang.

Ada banyak pengalaman tapi beberapa yang masih sanggup kuingat dan bagus untuk kubagikan di sini adalah sebagai berikut:

 

KEPO

Kepedulian itu memiliki dua mata pisau yang tajam. Satu sisi bisa berujung pada kebaikan karena kita peduli terhadap orang lain, tapi di sisi lain, kita bisa dicap ?sok ingin tau? terhadap hal yang seharusnya tak perlu kita ketahui. Kepo, kata orang Jakarta.

Seminggu setelah masuk kerja pertama, Februari 2009 silam, aku yang bekerja sebagai web developer mengikuti sebuah meeting dengan orang-orang IT. Topik pembicaraan waktu itu adalah rencana pengembangan website dimana aku ditunjuk sebagai pengembangnya.

Setelah berjalan beberapa lama, diskusi mengarah ke soal migrasi dari development environment ke production/live environment.

?Jadi kapan kamu bisa siap dengan webmu, Donny??
Aku diam berpikir. ?Hmmm, paling lama sih empat minggu!?

?OK, lalu bagaimana kamu akan mentransfer file-filenya??
?Kamu ada SVN?? SVN adalah nama repository system yang salah satunya ditujukan untuk memudahkan proses migrasi dan management file dalam pengembangan software.

?Nggak ada..?
?Oh ya? Emangnya kalian hosting dimana??

Mereka, waktu itu berempat, diam sejenak, saling pandang lalu salah satunya bicara sinis padaku, ?Hmmm.. ini bukan urusanmu!?

Aku seperti merasa ditampar olehnya.?Padahal niatku, kupikir, baik yaitu aku ingin memastikan cara terbaik untuk membantu proses migrasi website. Tapi hal itu dibaca tak demikian, aku dianggap ingin tahu apa yang mereka sedang persiapkan.

 

INGUS

Waktu sedang makan siang, aku bersama kawan kerjaku, kami menikmatinya di teras atas kantor.?Angin tiba-tiba bertiup kencang dan dinginnya bukan kepalang. Kami lalu masuk ke dalam dan makan di kursi ruang makan perusahaan.

Mungkin karena kedinginan di luar tadi, hidungku yang masih belum sempurna beradaptasi dari iklim tropis jadi agak basah karena ingus di dalam salurannya. Beberapa kali aku lantas berusaha menarik ingus di hidung dan terdengar ?srot? srot.. srot?

Kawanku lalu keberatan.
?Oh my god? kenapa nggak dikeluarkan saja??
?Hah!? Kamu kan lagi makan! Masa ngeluarin ingus di depan kamu, yang bener aja??

?Yey! Daripada kamu srat-srot-srat-srot begitu, itu lebih menjijikkan! Please, kamu buang saja sekarang?

Dengan ragu, aku mengambil tissue lalu membuang ingus dan hidungku pun lega.??Nah, sekarang aku bisa melanjutkan makan tanpa harus dengar srat-srot-srat-srot? Aku malah yang lantas tak bisa melanjutkan makan beberapa saat. Bukan karena tertegun padanya, tapi teringat pada ingus yang kukeluarkan barusan…

 

KENTUT

Suatu waktu di tengah siang yang tenang dan kami sedang asyik bekerja, kawanku kentut kencang betul!

Spontan aku merespon, ?Oh shiitt! Hahahaha?.??Tapi situasi tetap tenang termasuk kawanku yang kentut barusan; ia tak bergeming menikmati musik dari telinganya.

Saat jam istirahat, aku menceritakan hal itu pada kawanku yang lain dan ia bilang bahwa bagi beberapa orang, kentut memang bukan hal memalukan karena harus dikeluarkan.

?Kalau bau??
?Ya tinggal tutup hidung atau kamu keluar ruangan!?

?Kenapa bukan ia yang keluar ruangan??
?Ya harusnya begitu! Tapi kalau tidak sempat untuk keluar dan sudah kentut duluan mau apa??

 

PIJIT-PIJIT

Kalian tau kan budaya kita basa-basi memijat-mijat punggung kawan kerja kita yang kita rasa telah bekerja luar biasa hebat dan kerasnya dan biasanya kita barengi dengan ujaran, ?Wah, kerjaan loe keren bos!?

Nah, aku mencoba mempraktekkannya di sini tapi sayangnya?hal itu failed!?Nggak ada yang protes tapi tampak kawanku tak suka dibegitukan dan ketika aku mempelajari hukum di sini, hal seperti itu katanya bisa dikategorikan sebagai pelecehan fisik dan kadang menjurus ke seksual.

?Lho tapi aku kan nggak ada niat untuk melecehkan? Aku pria normal!? Ujarku ke istri waktu kuceritakan hal ini.??Iya, tapi normal tidaknya kamu itu bukan urusan mereka, yang pasti kalau mereka merasa dilecehkan atau terganggu ya kamu harus trima??

 

KAMU PUNYA ISTRI?

Hari pertama masuk kerja, yang kuingat adalah, aku terlibat percakapan dengan seorang kawan kerja yang kupikir adalah semacam percakapan yang sangat lumrah di Indonesia dulu. Tapi nyatanya?

Simak berikut.
?Kamu tinggal dimana?? tanya kawanku.
?Oh aku tinggal di Castle Hill??

?I see?
?Iya, aku tinggal bareng istriku? Kamu tinggal dimana bareng istrimu??
Lalu mukanya cemberut dan ia bilang kalau ia tak punya istri karena bercerai. Ia lalu pergi begitu saja seolah menunjukkan bahwa ia tak ingin bicara lebih lama lagi denganku.

Beberapa waktu kemudian, seiring berjalannya waktu, aku sadar bahwa bertanya tentang istri/wife adalah hal yang lebih sensitif ketimbang bertanya soal partner.

Tapi yang paling aman adalah tidak bertanya sama sekali kecuali ia menjelaskan.

 

AGAMA?

Ini persoalan yang lumrah sebenarnya; kalian yang di Indonesia pun barangkali tahu bahwa agama adalah hal yang sangat personal apalagi dalam kehidupan western.

Suatu waktu aku bertanya pada kawan kerjaku, ?Agamamu apa??
Jawabannya singkat, padat dan ketus. ?Do i need to have one??

 

WHEN YOU WERE YOUNG?

Orang-orang sini memang sering meledek/merendahkan dirinya sendiri ketika ngobrol.?Seperti ini misalnya, ?O well? my rusty brain!? atau??I?m old!?

Kalau udah dengar begitu, jangan ditanggapi karena salah seorang kawanku pernah kena semprot terkait hal seperti ini.

Jadi waktu itu ia ngobrol dengan kliennya, seorang yang kira-kira berusia 60an tahun. Si klien bercerita bahwa ia pernah ke Bali sekitar tahun 1973 dan menikmati betul pantai-pantai di sana.

Lalu kawanku tadi nyeletuk, ?Oh, jadi kamu ke Bali waktu kamu masih muda ya???Klien itu langsung tarik urat, ?EXCUSE ME??

 

KAMU KOK TAMBAH GEDE?

Ini lebih konyol lagi. Kalian kan tahu, terutama di Jawa, orang menyapa kawan lama?yang sudah lama tak ditemui dengan ‘Wah kamu kok gemuk amat sekarang?” adalah hal yang lumrah. Malah hal itu untuk menandakan betapa makmurnya hidup seseorang ditandai dengan meningkatnya berat badan. Tapi di sini (dan kuyakin di Indonesia mulai diterapkan hal yang sama), persoalan seperti ini bisa memicu perselisihan bahkan hingga ke pengadilan.

Pernah ada kasus, ada seseorang yang harus bayar hingga $10000 atau sekitar 100 juta rupiah hanya karena ia mengatai temannya, “Kamu kok gemuk (bold) sekali sekarang?”

 

KERJA HINGGA LARUT

Sebagai orang yang berasal dari negeri yang mengharuskan kita bekerja untuk bisa hidup, aku sangat biasa bekerja hingga larut.

Awal-awal dulu sering aku dihadapkan pada pertanyaan kawan-kawan yang pulang duluan ketika aku masih sibuk bekerja, ?Kamu kenapa kerja melulu? Pulang dan nikmati hidupmu!?

Aku menganggap hal itu bukan satu masalah. Lalu hampir tiap hari aku pulang agak larut, dan setiap hari pula aku menemukan pertanyaan-pertanyaan yang sama hingga akhirnya aku sadar bahwa hal itu terkait dengan beda budaya yang ada.

Orang-orang sini biasa bekerja tepat waktu, masuk jam 9 dan pulang jam 5. Bisa kamu bayangkan kalau ada seseorang yang rela bekerja dari jam 8 pagi – 7 malam setiap hari??Tentu akan ada lebih banyak hal yang bisa dikerjakan selama itu dan hal ini dikhawatirkan akan membuat orang-orang lain yang biasa kerja tepat waktu 9 – 5 akan tersaingi dan ini membahayakan budaya kerja yang stabil di sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.