Ketika keinginan tak dikabulkan? Jangan baper dan teruslah bergerak!

8 Jan 2019 | Kabar Baik

Ada sekitar lima ribu orang yang mengikuti Yesus dan para muridNya. Mereka rela mengitari danau, berjalan kaki saat Yesus dan para murid berperahu menyeberangi. Sehingga ketika rombongan Yesus sampai di tepian, orang-orang itu sudah menunggu di sana.

Karena kasihan, Yesus lantas mengajar mereka. Tak hanya itu, lagi-lagi karena kasihan, Yesus meminta para murid untuk memberi makan mereka.

Hal itu tentu mengagetkan para murid! Siapa yang suruh mereka datang jauh-jauh? Lha kok sekarang mau diberi makan segala? Duit darimana sementara seperti ditulis Markus, dibutuhkan uang dua ratus dinar untuk membeli makanan bagi semua yang datang. (Markus 6:37)?

Tapi apa yang telah dikehendaki akan dilaksanakanNya.

Yesus mengadakan mukjizat yang kemudian kita kenal dengan sebutan ?lima roti dan dua ikan? dimana Ia memberi makan lima ribu orang itu sampai kenyang bahkan sisa dua belas bakul lebihnya hanya bermodalkan lima roti dan dua ikan.

Apa yang bisa kita pelajari dari cerita itu?

Inti yang kuterima dalam renungan adalah ketika Tuhan sudah berkehendak maka terjadilah hal itu. Kita mungkin kaget, kita tak siap bahkan kadang kita berusaha menolak karena tak suka tapi mau gimana lagi?

Dulu waktu aku mengalami cinta monyet, rasanya pacarku waktu itu akan bisa menjadi pacar hingga aku dewasa dan akhirnya menikah lalu punya anak. Tapi nyatanya tidak. Di tengah jalan kami putus…

Sebaliknya adalah kisah kawanku. Dulu ia benci pada sosok cowok di kampusnya. Baginya, cowok tadi terlalu rese, pemalas dan? pemabuk! Tapi siapa nyana dalam persimpangan hidup berikutnya mereka bertemu dalam keadaan yang jauh berbeda. Si cowok telah berubah jadi pria yang begitu santun dan memiliki pekerjaan mumpuni yang membuat kawanku tadi akhirnya tertarik dan menikah lalu hidup berbahagia.

Pertanyaannya sekarang adalah, kapan kita bisa memahami apa dan mana yang dikehendaki Allah dan mana yang tidak?

Sebagian kawan menggunakan metode mendengarkan suara Allah. Ada yang berdoa terus-menerus dan ketika mereka merasa mendengar suara Tuhan dalam doa, hal itu dianggap sebagai jawaban.

Sebagian lain menggunakan metode yang lebih ?logis?. Selain berdoa, mereka juga menganalisa menggunakan berbagai perhitungan, bertanya pada orang tua, kawan-kawan dan sahabat lalu pada satu titik tertentu memutuskan apa yang hendak dilakukan. Hal itu dianggap sebagai jawaban dan aku pernah menggunakan metode ini ketika hendak memutuskan pindah ke Australia atau tetap bertahan di Jogja.

Tapi adakah itu benar-benar jawaban atas apa yang Tuhan kehendaki? Sejatinya kita tak pernah tahu. Dalam sudut pandang ini aku menggunakan apa yang diajarkan St Agustinus dalam salah satu pengajaran (sermon) nya,? ?Kalau engkau memahamiNya, Ia bukan lagi Allah!??

Ya! Hidup ini penuh misteri bukan karena Tuhan yang sok misterius tapi karena kelemahan kita dalam memahami keseluruhan rencana dan kehendakNya!

Oleh karena itu, mari lebih fokus bukan menebak-nebak apa kehendakNya tapi hal-hal apa yang terbaik yang bisa kita lakukan dalam melaksanakan apapun kehendakNya! Mengusahakan hidup dengan menggunakan prinsip-prinsip yang diajarkan Yesus adalah cara terbaik.

Berkeinginan boleh, tapi ketika ternyata keinginan itu kita rasa bukan kehendakNya, ya jangan baper (bawa perasaan) dan teruslah bergerak seperti yang kutulis dalam Kabar Baik kemarin.

Dalam pergerakan yang dinamis dan kita lakukan terus-menerus dalam hidup lah yang membuat kita akhirnya bergerak maju di atas rel yang sudah Tuhan kehendaki dalam hidup.

Sydney, 8 Januari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.